Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 78. Apakah Kalian Bisa Mengerti Posisiku.


__ADS_3

Bekerja pada Pamanku sungguh melelahkan, Aku harus menagih toko. yang di bawa barangnya, jika tak sempat dia setor ke supir, aku dan suamiku, sama - sama menagih.


Sorenya mengurus lagi kayu yang ingin di kirim kontainer.


Belum mengurus supir, memasak nasi selalu aku lakukan, jika supir lapar sisa menyiram Indomie. Jika aku luang aku pun beli ikan di pelabuhan karna murah. Menyuruh kernek nya membakar jika ingin bakar ikan, atau aku menggorengnya saja.


Aku sangat galak pada saat tertentu, tapi kebanyakan manjanya.


Supirku yang hampir seumur Ayahku, selalu membuat ulah, jika aku tak memberi panjar gajinya.


"Amira cepat berikan gaji ku, dua ret saja."


Waktu itu supir dapat gaji satu ret pulang dan balik itu, tiga ratus ribu rupiah.


"Nanti balik saja ambilnya, Pamanku marah kalau aku urus gaji."


"Cepatlah kemari.kan uang nya daripada aku


pelet kamu jadi istri ke 12 ku. "


Begitulah pak Amir selalu mengancam ku, dia sangat kocak, tapi apa yang dia katakan benar dan memang kenyataan, di zamanku supir sangat gampang memiliki istri yang banyak, setiap persinggahan ada istri, daripada berbuat zina, mereka memilih nikah siri. Walau tak semua istri mereka nafkahi.


Dan ilmu pelet pun masih sangat kental, jadi di zaman ku, jangan sekali - kali menghina pria yang menyukaimu. Jika dia sudah gunakan peletnya, kamu akan setengah gila mengejarnya. Walau besok kamu akan menikah dengan kekasih mu, dia bisa membuat mu tergila - gula padanya, walau wajahnya tak sesuai harapan mu, dia akan mudah memikat hatimu.


Tapi Amira tak pernah takut pada pak Amir.


"Pokoknya aku tetap tak mau, jadi istri ke 13 kek, Istri Ke 20 kek, aku pastikan kamu yang akan menyesal menikah denganku. Aku tak akan membiarkan kamu ketemu istri kamu yang lain. Aku akan selalu menempel seperti tokek besar di tubuhmu, sangat kepo dengan hidupku, dan aku tak akan membiarkan kamu lepas dariku semenit saja. Karna aku Ratu posesif."


Seperti biasa Pak Amir terpingkal, menghadapiku dia tak akan menang, kecuali merayuku, aku sangat rapuh.


"Tolonglah..Amira..anakku sakit demam, istri ku kehabisan uang belanja. Dan dia tak berhenti menelpon."


"Dia istri ke berapa ..?"


"Istri ku yang pertama."


Amira terpingkal.


"Apa Istri pertama tidak langsung menendangmu, Pak Amir dalam hidupnya.


kita khan rubah berekor sebelas."


Pak Amir terpingkal.


"Aku bukan Rubah berekor sebelas..."


"Jadi apa dong...!"


"Aku ini Raja Buaya."


"Hahahaha...haha..."


Kami pun terpingkal, dan habis bahunya aku pukuli."

__ADS_1


Semua supir sangat sayang padaku, aku galak tapi sangat humoris. Selain cantik aku juga sangat ramah, tapi jika mereka mengancam ku, aku tak pernah takut kecuali mereka merayu ku, aku sangat gampangan, maksudku gampang menuruti mereka.


"Cepatlah Amira...!"


"Tapi nanti aku di marahi, "


"Dia khan paman mu, dan dia selalu curhat sangat pusing dengan keras kepala kamu, dan ingin memecat mu, tapi takut dengan Ayah mu. Jadi paling kamu hanya di marahi, kalau di pecat khan tidak."


Pak Amir benar, aku tak pernah takut siapapun, aku dipecat pun, aku sangat tak takut, entahlah aku selalu percaya dan yakin jika Yang Maha Kuasa tak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya, pasti akan selalu ada pertolongan untukku.


Jadi jika aku di pecat, pasti akan ada pekerjaan yang lebih baik lagi, yang penting aku tak mencuri dan melakukan hal tak terpuji lainnya.


"Baiklah....!! tapi ini yang terakhir yah..."


Pak Amir menaikkan kedua jempolnya.


"Okey Bos..!!"


Akupun memberikan uangnya, dan tentunya aku akan mendapat omelan panjang, jika catatanku, sampai di tangan pamanku.


Dua hari berlalu, sampailah catatanku, Ponsel berbunyi dan nama Pamanku, tertera di ponselku.


Akupun mengambilnya seperti biasa, membesarkan volume suaranya, dan menyimpan ponsel di meja.


Pamanku mulai bawel, marah dan tak tahan dengan kelakuan ku. yang tak mau mendengar nasehat, bahkan pamanku sering mengusirku, untuk berhenti saja kerja.


"Pamanku tersayang, ini Amira. Aku tak akan pergi jika Paman tidak datang kemari, mengusirku secara langsung. Walau Paman mengomel sampai subuh pun, telingaku sangat kebal paman."


Suara Istrinya juga ikut marah, sungguh aku tak peduli.


"Iya Paman."


"Amira...!!! Apakah kamu mendengarkan kata - kata ku,? Hahh..!!! kamu selalu tak mau mendengar kata - kata ku, jangan memberikan gaji supir di situ.


Itu bukan pekerjaanmu..Ini sudah belasan kali aku marah tentang ini, dan kamu selalu ulangi, kalau kamu tak betah aku marahi, kamu pergi saja dari situ, banyak pengganti paman bisa cari yang lebih baik."


Itulah Pamanku sangat pemarah, tapi cepat juga baiknya. Paman saat ini marah, lima menit kemudian dia akan menelpon dengan bahasa halus, jika ada pekerjaan lain yang akan dia suruh ke aku.


"Nak kamu dimana nak, berapa uang di situ. Transfer yah nak, banyak kebutuhan juga di sini."


Itulah Paman ku, Selesai marah, hati nya akan plong sendiri. Aku bukan Nia dan Ana, jika di marahi akan menangis Bombay. Jika aku sangat pantang air mata ini keluar. Aku hanya anggap kemarahan mu, hanya lah nyanyian indah di telingaku.


Aku juga sangat bandel, gajiku saja belum waktu gajian. Saya sudah empat kali panjar gaji. Aku mengambil sendiri gajiku, tampa tunggu transfer Pamanku.


Aku sosok royal, menganggap uang hanyalah kertas biasa. Aku sangat mudah menolong orang yang kesusahan. Aku sungguh sangat berjiwa penolong. Jadi jangan heran, enam tahun bekerja tak ada tabungan malah minus.


wkwkwkwk


Untunglah Suamiku orang nya sangat cuek, melihatku makan, dan tertawa dia sudah senang, dia sungguh pria yang sabar.


Suamiku saat ini, sungguh berbeda delapan puluh persen, dari jaman awal menikah. Saat ini hanya sisa dua puluh persen sifatnya, yang dia miliki saat ini


Aku sungguh merindukan Suamiku yang dulu. Tahu kah kalian betapa baiknya suamiku dulu.

__ADS_1


Suami ku awal menikah, kami tinggal di kontrakan sempit waktu dia bekerja di perusahaan kecil, aku kadang datang mengunjungi dia dengan Aryan kecil, tapi tak bisa lama, kadang hanya satu minggu dalam sebulan, karna ayah dan Ibuku tak bisa jauh jauh dari Aryan kecil.


Tahukah kalian betapa baiknya Ayah dan Ibuku, jika aku mau ketemu Suami ku.


Ayah dan Ibu ku, akan langsung ke pasar belanja kebutuhan sembako untukku, kue dan uang. Ayah dan Ibuku sangat takut Suamiku tak bisa memberikan aku dan Aryan gizi yang baik. dua dos Indomie penuh sembako, dan rempah dapur, sudah di ikat Ayahku.


Kadang aku menolak, tapi tentunya Mamaku lebih marah lagi, dan berkata.


"Berapa saja gaji suami mu, untuk makan dia saja mana cukup, kamu seharusnya bersyukur kami masih perhatian pada kamu, andai kamu menikah dengan pilihan kami, hidup mu pasti bahagia. Rumah besar, mobil, dan pelayan. Tapi sudahlah bahas ini buat mama jadi emosi saja."


Jika aku melawan nya, tahu sendiri khan, Mama tak akan segan pakai perkakas dapur nya, atau mengambil senjata pamungkasnya, yakni rica pedis. jadi diam adalah lawan terbaik untuk ibuku tersayang.


Bahkan Susu anakku harus susu yang paling mahal. Yang dalam kaleng kemasan kaleng besar. Aku tak memiliki Asi yang banyak, malah hanya seminggu sudah kering, entahlah Asiku begitu miskin.


Walau Orang Tua ku kecewa dengan pilihanku, Tapi Aku dan Suami selalu mengerti dan jika ada Suami ku, Beliau berdua tak bisa menyembunyikan wajah tak suka dia pada Suami ku.


Tapi bagi Suami ku dan Aku sangat memaklumi, karna semua orang tua di dunia ini ingin melihat anaknya hidup bahagia. Jadi Suami ku malah marah padaku, jika aku mengatakan hal yang buruk tentang orang tuaku, jika selalu cemberut melihat Suamiku karna Ayah dan Ibuku belum bisa menerima dengan baik Suamiku.


Tapi Suamiku tak pernah mempermasalahkan itu, malah mengerti kalau mendapatkan aku jauh lebih berharga untuknya.


Bagi Suami ku aku adalah seorang ratu yang sangat di sayangi nya. Jam empat subuh. Dia masak, mencuci dan membersihkan rumah. Bahkan menyuruh apa saja, dia langsung pergi, walau pun dia sedang tertidur aku bangunkan, dia akan terburu - buru bangun dan segera menuruti perintahku.


Aku kadang sengaja menyuruhnya berkali - kali, mengharapkan dia marah, dan menolak ku, tapi dia selalu menuruti ku dengan sabar dan bahagia.


Dia tak membiarkan aku bekerja, untuk bantu mencuci pakaian saja, dia menyiram ku air, agar aku tak mendekat. Berangkat kerja pagi dan pulang jam tiga sore, dia pun setelah makan langsung mencuci piring, dan menggendong anaknya sampai mau tidurpun dia pun yang mengayun nya. Aryan kecil tak mau tidur dalam kasur, dia sudah terbiasa nyaman tidur dalam Ayunan.


Aku kadang kasian padanya, tapi Suamiku tak membiarkan aku bekerja.


Dia suka sekali mencium seluruh wajahku dan sangat suka mengecup bibirku, dia sangat memanjakan aku, bahkan memijat tanganku walau matanya sudah terpejam saking lelahnya. Dia sungguh pria baik hati.


Kerja di Pamanku, dia begitu lelah. Dia sungguh pekerja keras, walau tak di anggap oleh keluargaku, dia pria sabar, dan sangat tahu posisinya. Dia selalu rendah hati dan berpikiran positif dan selalu memarahi ku, jika aku membelanya.


Tapi Saat ini dia sangat berbeda, dia menjadi orang yang tak aku kenal lagi, tapi kenangan itulah yang membuatku selalu sabar menghadapi kemarahannya, dia sudah lelah dengan hubungan suami - istri kami, dia sangat senang menyakiti dan membentak aku. Sudah hampir sepuluh tahun aku bersabar dengan ke egoisan dia. Tapi aku hanya bertahan dengan kenangan masa lalu kami yang indah.


Hanya air mata, yang menjadi obat ku yang paling nyaman, dan berpikir positif. Setelah aku hampir menyerah Karna keluargaku juga melakukan hal yang sama.


Aku sungguh ingin pergi jauh meninggalkan semuanya tapi Yang maha Kuasa tak mengijinkan aku.


Di saat aku hanya selalu menangis ingat Arul dan ingat Ayah, dan sangat merindukan mereka, hadirlah Imram di hidupku walau harus meninggalkan aku juga.


Apakah kalian bisa mengerti posisiku, aku yang selalu menjadi kesayangan, saat ini menjadi orang yang di benci, dan gampang menerima kata kasar bahkan fitnah yang sudah menjadi hiasan di hidupku saat ini, bahkan mewarnai hari - hari ku.


Jadi sangatlah wajar khan, kesedihan ku ini. Di saat aku menemukan Arul dan Ayahku di Imram, kehilangan dia sungguh membuatku sangat terpukul.


Tapi Yang Maha kuasa begitu menyayangi ku, dia tahu aku sudah tak bisa bertahan, aku sudah hancur berkeping, DIA Sang pencipta ku , membawa Ardi lagi dalam hidupku, karna aku sungguh merasa sebatang kara, dan sangat terluka dan sedih dan terpuruk agar aku bisa bangkit lagi, melihat dunia yang indah ini untuk sekali lagi, dan memiliki harapan, bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis.


Semoga keluarga ku yang dulu sangat menyayangiku, kembali menyayangiku kembali .Amin YRA 🤲🤲.


Saat ini aku maklum Aryan ku, tak bisa membantuku, dia di awal kuliah sangat banyak tugas, yang membuat untuk tidur pun sangat sulit dia dapatkan.


Bahkan Imram pun menjadi penolongnya, sampai kapanpun kami tak akan melupakan jasa - jasanya, walau pun dia telah melupakan kami.


Semoga suatu hari nanti Imram akan mempercayai kami lagi, kalau kami adalah orang yang baik, menyayangi dia sebatas sahabat sejati, dan tak ada niat buruk. Amin 🤲🤲

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2