Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 36. Aduuh...Mengapa Jadi Hakim Sidang Lagi.?


__ADS_3

Tiga hari berlalu dengan cepat, Anakku Aryan meneleponku, meringis sangat kesakitan. Aku panik dan mencoba berpikir positif, Anakku mengatakan perutnya sangat sakit, dia takut usus buntu, aku ingin menjenguknya dia melarang, tapi aku cepat bersiap berganti pakaian dan baru mau keluar Aryan sudah datang, meringis kesakitan.


"Mama...Tolong...Mama...Ini sangat sakiiit ..Mama..perut dan pinggangku sangat sakit, anakku berbaring dan meliuk kesakitan."


Akupun segera keluar memanggil bidan terdekat dan membawanya ke rumah. Untunglah tetanggaku bidan. Diapun datang dan menyuntik anakku agar tak kesakitan lagi dan memberinya obat paten.


Setelah di suntik dan minum obat, sakitnya menghilang. Aryan mau kembali ke kampusnya lagi. Akupun menepuk jidatku.


"Apa tadi sakit yang kamu rasakan nak, tidak membuatmu trauma gitu..."


Menatapnya jengah.


"Mama sudah tak sakit Mama, dan aku harus ikut sidang. "


"Sidang apa sih, apa lebih penting dari kesehatan kamu nak.."


Mencoba menahan amarah.


Aku sangat tidak menyukai sifatnya yang selalu mengutamakan pendidikan, daripada kenyamanan dia.


Bu bidan mengatakan anakku penyakit maaq Karna selalu konsumsi nasi kuning, yang mengandung santan dan menganjurkan makan nasi putih dan buah saja.


Bu bidan tahu Karna tadi introgasi Aryan, makanan apa yang selama ini dia konsumsi. dan didapatlah penyebab penyakitnya, setelah Aryan bercerita, kalau selalu makan nasi kuning setiap hari.


"Sayang...Maaq itu penyakit berbahaya lho sayang, jika komplikasi, memicu semua penyakit kronis nak."


Tapi aku tahu anakku, aku tak akan menang berdebat dengannya.


"Mama aku khan sudah tahu makanan pantangannya, jadi aku akan hindari masalahnya Mama aku adalah ketua sidang."


Akupun menepuk jidat kembali


"Aduuuh..!! Mengapa jadi hakim sidang lagi, ?organisasi saja belum kelar urusin hidup banyak organisasi lagi, ampun deeh Mama, Apa Karna terlalu sibuk ? jadi tak ada waktu makan akhirnya sakit."


"Mama aku sangat rajin makan, malah tiga kali sehari lho, cuma salahnya nasi kuning dan mie Mama."


"Betul khan aku takkan menang, Akupun hanya bisa mengumpulkan obatnya dan menyimpannya dalam tas, diapun memeluk dan mencium keningku. Akupun terpaksa membolehkan dia dan berpikir positif kalau anakku akan baik baik saja. "

__ADS_1


Anakku pun berangkat ke kampus kembali.


****


Aku stres dan mengambil ponsel mencoba curhat pada nak Imram, semoga dia membalasnya agar rasa khawatir ini terobati.


Pesan terkirim.


Akupun melanjutkan pekerjaan rumah, entah berapa minggu lagi aku tunggu balasannya, Apa dia tidak tahu, betapa seringnya aku melihat ponsel hanya mau lihat Wa nya masuk, ataukah pesanku ber notif contreng biru. Anak baik ini membuatku menjadi orang yang sedikit tak waras.


Aku jadi mengingat kata hatiku waktu pertama bertemu dengannya, jika anak imut ini punya pacar, terus dia putuskan pasti pacarnya susah move on, dan harus cari psikiater.


Anak yang romantis dan bucin tapi sekali marah menghancurkan hati siapa saja yang mengenalnya. Apalagi aku yang terlanjur memberi tempat spesial di hatiku, menyandingkan nya dengan Almarhum Ayahku dan Arul.


Aku saja yang hanya jadi temannya butuh psikiater untuk melupakannya.Apalagi wanita lain yang seusia dia yang jadi pacarnya, aku hanya bisa menepuk jidatku,memikirkannya membuat kepalaku pening.


Untunglah anak ini bukan anak yang play boy, jika seperti itu, Antrilah kami di praktek psikiater karna susah move on darinya, sedangkan dia disana makan enak, tidur enak, happy dan ceria, sedangkan kami disini menangis bombay susah move on darinya.


Waktu terus bergulir, Pagi menjadi malam, dan malam pun menjadi pagi lagi.


Siangnya aku periksa ponselku, mencari nama Imram, melihat pesanku ber notif biru, akupun bersorak kegirangan.


Kata - kata ramahnya yang dulu aku rindukan sudah terhias di pesan WA ku.


Imram mendoakan Aryan cepat sehat, anak ini sangat baik aku sangat terharu.


Akupun membalas dan sangat berterima kasih kembali, mumpung orangnya lagi berbaik hati, entahlah mungkin ada hal yang membahagiakan dia alami, akhirnya memberiku bonus dengan meluangkan waktu membalas chatku.


Akupun meminta agar nak Imram menasehati Aryan, agar jangan terlalu masuk banyak organisasi, apalagi saat ini dia ketua sidang. dan bertanya tentang kepanjangan Mubes.


Nak Imram membalas kata Iya Tante nanti aku kasih tahu. dan menjelaskan arti Mubes.


Hatiku sangat damai.


"Walau anak baik ini sudah sering membalas chatku, tapi aku masih sangat sedih, aku adalah ratu feeling dan feeling ku tak pernah salah.


Anak baikku ini takkan seperti dulu lagi, dia sudah menganggap ku gelas yang pecah, jadi tetap akan bergaris retak, dan tak akan utuh lagi seperti awalnya."

__ADS_1


Akupun bersedih kembali, menangis Bombay.


"Menyakiti hatinya sama halnya rasanya aku menyakiti Anakku Aryan dan Asrul. Dia sudah menempati posisi yang terbaik di hatiku, mengingatnya sungguh membuat mataku perih, "


Akhirnya menangis bombay. Percakapan berakhir.


"Hari berganti hari, aku merasa menjadi Menjadi wanita egois yang memberikan rasa tidak nyaman pada anak baikku itu, aku harus melepaskan anak ini, benar kata Aryan, Anak baikku itu sudah tak nyaman denganku. Aku harus berpikir realistis sedangkan aku orang Bucin dan penyayang mana bisa berpikir realistis.


Tapi akupun tetap mulai mengirim video tentang kesedihanku dan mengucapkan kata selamat tinggal. Walau aku sangat tak rela, aku yakin aku pasti berbohong lagi padanya, aku manusia polos yang apa adanya.


Di kamus nak Imram, mungkin aku di pikirnya pembohong dan setiap baca chatku pasti nya dia menggaruk kepalanya sangat kesal. Aku khan sudah jadi kutu di rambutnya yang bagus. tapi sungguh aku manusia bermental baja, dan aku terlanjur menyayangi mu nak, Menganggap mu marah, seperti Asrul ibu yang marah, pasti kita sangat kesal Ibu menyandingkan mu dengan Asrul .kayak emoji nafas emosi yang kita berikan pada ibu nak.


Aaaahh...andai kita pernah memiliki sahabat sebaik Asrul nak setulus dia nak, mungkin kita pun seperti ibu yang menjatuhkan harga diri terus nak, padahal ibu hanya rendah hati dan orang baik dan susah melupakan kebaikan orang dan sangat susah melupakan anak baikku ini.


Apapun persepsi orang, bahkan Nak Imram sendiri, aku orang yang paling bodo amat, aku lebih baik memikirkan masalahku daripada mengurus yang lain.


Anak itu sangat baik padaku, aku tak mau memikirkan yang lain, walau dia tak akan sama yang dulu lagi, setidaknya aku Amira bukan Imram atau siapapun.


Aku akan tetap setia dan menyimpan memori kebaikannya padaku, di dalam ruang hati ku yang dalam, beserta kenangan Arul dan Ayahku.


Sangat susah aku mempercayai seseorang, tapi jika sudah percaya. sesakit apapun dia menyakiti ku, kesabaranku menjadi tampa batas karna aku tak bisa buta hati, apalagi mau melupakan kebaikannya itu proses yang sangat panjang bagiku.


Seumur hidup aku tak pernah sangat terbuka pada orang lain, kecuali Asrul, dan ini hanya padamu anak baikku..... Imram. "


Aku pun menangis Bombay kembali.


"Tapi aku harus melepaskan dia, Karna aku menyayanginya dan aku tak mau anak baikku itu merasa tak nyaman, dan tak bahagia. Karna aku selalu mendoakan dia selalu sehat, nyaman dan bahagia.


Sabarlah nak, pelan dan pasti ibu pasti tak akan menggangu kita lagi nak. Ibu akan selalu berusaha untuk rasa nyaman dan bahagia kamu nak, dan segera menghilangkan hama yang bernama Amira yang menyebalkan ini dalam hidup kamu nak."


Akupun menangis Bombay kembali, menjadi wanita yang sangat murah begini, tak pernah ada dalam mimpiku apalagi terlintas di hayalan ku..Untuk anak yang sangat belia ini, kamu sungguh tak tahu malu Amira.


"Andai dia di posisiku, diapun juga pasti akan menangis Bombay, karna kami sama sama memiliki sifat yang baik hati, peduli dan setia.


Hanya saja aku yang jadi penjahatnya di kisah ini."


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2