
Tak terasa waktu terus bergulir, Aku dan Arul sudah tamat sekolah dasar, kami saat ini sudah naik kelas dua SMP.
Aku tumbuh menjadi gadis yang cantik dan Arul tumbuh menjadi pria yang tampan, dengan bibir yang sangat merah. Yang membuatku selalu iri, melihat bibirnya yang begitu merah Alami.
Juga hidungnya sangat sempurna, dan mancung dengan mata yang teduhnya, yang memikat, kulitnya yang putih bersih, bahkan memiliki postur tubuh yang tinggi dan tubuh ideal layaknya model, bahkan Amira dan Arul mengukur tinggi mereka memakai meteran tukang Ayahnya. Arul 165 cm dan Amira 160 cm. dan rambut Arul, yang agak tebal tapi lembut dan licin, dan sedikit gondrong terbelah dua, seperti potongan rambut idola korea, yang saat ini menjadi idola wanita jaman sekarang, yang suka menonton drama korea.
Dan aku baru menyadari satu hal, kalau Arul pun memiliki wajah yang tak kalah tampannya dari idol korea.
Ayahnya membuat ayunan di dahan pohon mangga, dengan potongan papan kecil, untuk tempat duduk, dan tali tambang yang panjang kanan dan kirinya, yang di ikat kuat di atas dahan pohon mangga.
Walau kami sudah SMP tapi kami tak pernah dewasa.
Arul duduk di ayunan dan aku duduk di pangkuannya, dan adiknya aku suruh mendorong kami dari belakang. Tapi Arul tak marah, dan kami pun tertawa senang.
Dan gantian Arul lagi yang memangku adiknya dan aku yang mendorong, dan terlibat pulalah kedua adikku. dan teman yang lain di hari - hari berikutnya.
Begitulah jika ada mainan baru, semua kepo mau merasakannya.
Ayahnya merajut lagi jala dengan tali, dan membuat kan kami lagi ayunan yang bisa kami berbaring di atasnya, yang talinya di ikat di pohon jambu, dan pohon mangga.
Rumah Asrul sangat banyak pohon besarnya, ada enam pohon menghias terasnya. Pohon jambu dan mangga yang berbeda jenis.
Aku dan Arul sangat senang tidur berdua di ayunan itu, walau tubuh kami sudah hampir bertindihan dan aku memeluknya, ataukah duduk berdua di mainan baru itu lagi, dan yang lainpun, pasti akan kepo juga gantian merasakannya.
Arul bahkan sering kedatangan teman - temannya. Tapi aku merasa malu ikut nimbrung, dan hanya mengintip saja dari rumahku.
__ADS_1
Sejak Ayahku pernah mengasingkan aku sekitar beberapa bulan di rumah nenekku, sewaktu masih kelas satu SMP, agar aku berubah jadi sosok tomboy menjadi feminim.
Ayahku bahkan memasukkan aku sekolah SMP disana, jadi aku dan Arul tak satu sekolah lagi. Sedangkan jarak nya sangat jauh, sekitar belasan kilo dari rumahku, awalnya aku naik sepeda, tapi karna ayahku melihat aku adu balap dengan teman sekolah ku, yang semua pria, dan hanya aku sendiri yang wanita. Ayahku pun menyuruhku naik mobil angkutan umum.
Bahkan menyuruhku tinggal dengan nenek, Ibu dari Ibuku yang tinggal di daerah pinggiran kota, dan orang tua Ibuku di sana adalah termasuk tuan tanah yang banyak sawah, dan kebunnya, dan sewaktu ibuku masih kecil dan bersekolah orang tuanya juga pedagang hasil bumi, seperti beras dan hasil kebun lainnya, yang banyak anak buah.
Rumah panggung Bugis, yang sangat besar milik nenekku, jika lebaran penuh mobil anak - anaknya, di bawahnya, karna hampir semua anaknya memiliki kendaraan. Kebanyakan anak Nenekku mapan..dua anaknya Lurah, Satu PNS Rumah Sakit, Satu Kepala Dinas, Satu Lagi PNS di kantor Agama, Ibuku Juga PNS Guru, Pamanku Ada juga satu di Surabaya jadi Polisi yang juga tinggi jabatannya, dan Istrinya juga Polwan di sana. sedangkan lainnya Petani tapi memiliki beberapa hektar sawah dan kebun , begitu juga Suaminya punya aset sawah dan kebun.
Dulu di suku nenekku masih sistem perjodohan yang kental berlaku.
Nenekku katanya memiliki anak dua belas orang, begitulah di zaman era Nenekku, hampir semua wanita sangat kuat melahirkan, anak sampai belasan, karna banyaknya juga tanah yang mau diolah menjadi sawah dan kebun. Dan kehidupan ekonomi pada zaman Nenek ku, hanya orang malas lah bekerja yang susah hidupnya.
Jadi jangan heran jika ada pesta, semua emak - emaknya di penuhi perhiasan emas di tubuhnya, seperti toko emas berjalan.
Kalung sampai tiga susun, gelang pul, pergelangan lengan kanan dan kiri, tangan sampai pul cincin, baru sangat besar ukuran cincinnya, begitu juga anting yang besar dan lebar bahkan peniti mereka dari emas. Amira sungguh pusing melihatnya. Bahkan Ibunya pun, punya banyak emas.
Bahkan sudah beberapa kalung emasnya hilang, karna Amira sering melepasnya. Mamanya sungguh sangat berusaha keras anaknya memakai emas, tapi Amira tak menyukainya.
Ibarat pepatah Amira, lebih baik di hantam peralatan dapur Mamanya, daripada memakai emas, akhirnya ibu nya kadang menyerah dan kadang memaksanya, walau emas itu selalu di hilangkan Amira.
Jadi Amira tak pernah pergi ke pesta keluarganya, dia sangat anti pesta karna tak suka memakai emas. Sedangkan pesta bagi Amira bukan lah pesta, tapi pameran emas, dan toko perhiasan yang berjalan, yang membuat kepalanya pening.
Nenekku Memiliki puluhan hektar sawah, yang sudah di bagi - bagikan pada anak - anaknya. Sisa Nenek menyimpan sedikit untuk sawah untuk dirinya, dan menabung uangnya, agar kata Nenek, jika Nenek meninggal anaknya tak perlu mengeluarkan biaya untuknya.
Bahkan menyuruh menjual sawah yang masih di miliki Nenek, jika tak cukup biayanya, apabila Nenek sakit atau meninggal. Sungguh perencanaan yang baik.
__ADS_1
Sedangkan Kakekku telah lama meninggal sekitar lima tahun lalu, hanya sakit beberapa hari dan Kakekku meninggal dengan senyum yang terhias di wajahnya, karna sosok Kakekku adalah pria yang sangat
religius, sabar, dan dermawan.
Aku tak betah tinggal sama Nenekku, karna aku sangat tak suka dia selalu membasahi rambutku dengan minyak goreng asli, yang di buat sendiri dari perasan air kelapa.
Rambutku merah sedikit pirang, hanya tiga bulan disana sudah hitam, dan tak ada warna pirang merah itu lagi, dan tetangganya kebanyakan wanita yang membuatku sedikit feminim.
Jika aku ke pasar dengan Nenek, aku mulai menarik perhatian lain jenis ku, tapi sebaya denganku, bahkan di atas usia ku, yang mulai nakal mengedipkan mata, dan mau kenalan denganku, tapi aku risih dan berlalu pergi, biasanya pria hanya lawannya duel.
Mengapa sekarang mereka menjadi menyukaiku.?
Sungguh belum masuk di logika ku, pada waktu itu.
Bahkan Tante ku dan kakak sepupu ku sering membawaku silahturahmi ke rumah kerabat nya, di sekitar daerah Nenek ku, jadilah aku incaran para pria, dan mulai merengek pada orang tuanya, agar menyimpan ku sebagai calon istrinya tampa sepengetahuanku.
Tapi Kakak sepupu ku, bernama Winda, tak mampu menyembunyikan rahasia, dan mengatakan padaku. Yang tentunya jawaban bandel ku mengatakan.
"Coba saja jika berani, menikahkan ku di usia muda begini, saya pastikan akan melarikan diri."
Kakak ku Winda hanya terpingkal.
Saat ini di desa Nenek ku mulai banyak pria yang bertukar kabar, bahkan sudah beberapa
orang tua dari pihak keluarga Amira, yang datang membawa pinangan untuk anak mereka. Tapi Nenek mengatakan bahwa Amira masih sangat kecil, biarlah dulu jika jodoh tak akan lari kemana.
__ADS_1
Bersambung.