
Amira kembali ke lapangan mencari Cahya.
Sepasang mata teduh memikat sedang memperhatikan dia dari kejauhan.
Pemilik sepasang mata yang teduh dan memikat itu, ternyata Andre, yang ternyata juga menyukainya.
"Mengapa gadis itu benar - benar membuat jantungku berdetak sangat kencang."
Diapun fokus kembali dengan anak - anak yang balap karung, Karna saat itu Andre yang jadi pengawasnya. Ternyata Andre termasuk anggota remaja mesjid yang mengadakan lomba tersebut.
Andre pun tak tahu, jika Amira sangat gelisah mencari wajah tampannya, tapi tak menemukannya.
Amira dan Cahya pun akhirnya pulang.
Malam harinya lanjut lagi dengan lomba di panggung, lomba seni.
Semua tampak duduk di atas rumput di depan panggung.
Lomba pun berlangsung dengan ceria dan meriah. Tepuk dan sorak mendukung tim masing - masing yang ikut lomba. tapi Amira hanya sibuk mencari wajah tampan pujaan hatinya.
Akhirnya duduk menyerah memandang panggung, tapi pikirannya hanya penuh dengan pria pujaan hatinya itu. Cahya sepupunya ada juga duduk di sampingnya.
Tiba - tiba ada suara memanggil dari belakang, memanggil nama Cahya, adik sepupuku.
"Cahya..Cahya...kenalin dong tetangga baru kamu itu."
Cahya berbalik dan bersorak senang melihat dua pria tertampan di kompleksnya sudah duduk dibelakang nya.
Walau Cahya masih anak kecil yang baru masuk SMP, tapi dia sudah bisa menilai pria tampan.
Amira pun kepo, dan berbalik.
Alangkah terkejutnya Amira, Jantungnya terasa mau copot, dadanya sungguh bergetar kencang, telapak tangannya terasa sangat dingin, tengkuknya terasa panas dan gejala demam mulai menyerang tubuhnya.
Biasanya Amira sangat kesal jika ada Author dan geng nya lagi ikut nimbrung, tapi saat ini dia tak peduli lagi, saat ini dirinya lah yang butuh seorang dokter cinta saat ini, karna demam cinta dan malaria cinta sedang menyerang tubuhnya.
Bayangkan saja, pria pujaan hatinya sudah ada di belakangnya.
Pria di samping pria pujaannya, yang lumayan tampan juga dan sangat manis itu menyapa Amira.
"Hai...boleh kenalan nggak..?"
Amira sangat canggung, tapi tetap membalik tubuhnya yang posisi duduk, dan berhadapan dengan pria manis itu, menyambut tangan pria itu, dan menggenggamnya juga.
"Sandi.."
__ADS_1
"Amira.."
Amira segera melepaskan tangannya, dan memberanikan diri menyodorkan tangannya juga pada pria pujaan hatinya itu, Sungguh dia sangat tampan, Amira sangat bahagia bisa menyentuh telapak tangan pria yang sudah menyiksa hatinya selama ini.
Kata hatinya berkicau dengan indahnya.
"Tangannya sangat lembut dan adem sekali hati ini, rasanya tak mau melepaskannya.
Bahkan senyum itu Yaa Allah mengapa sangat manis ciptaanmu ini Ya Allah, Mengapa Engkau menciptakan makhluk setampan ini Ya Allah, semoga dia hanya tercipta untukku."
"Amira...."
"Andre...."
Hati Amira kembali berkicau dengan indahnya.
"Yaa Allah mengapa ada nama sebagus itu Ya Allah...Ampuni hambamu ini yang sangat tergila - gila pada makhluk ciptaanmu ini Ya Allah."
Sangat enggan melepaskan tangan itu, tapi Author sudah menarik tangannya.
"Nduuk...jangan malu - maluin doong.."
Percakapan dalam dunia halu terjadi kembali, Amira pun tersadar.
Amira pun tersadar dan melepaskan tangan yang Andre uga tampak senang memegang tangannya.
Sandi pun kesal dalam hatinya.
"Anak SD saja tahu kedua wajah kalian itu. saling menyukai dalam diam. Apalagi Amira itu, dia begitu terpesona memandang Andre, sungguh menyebalkan aku belum berjuang sudah kalah duluan."
Sandi ngedumel dalam hati.
Amira pun tersadar dan tersipu malu, mulai meratap dalam hati.
"Aduuuh...kenapa aku polos begini, sudah buka kartu, sedangkan pria pujaanku ini hatinya entah milik siapa, ?
Bagaimana coba jika dia menolak ku, ?
Seperti apa yang aku lakukan .pada Rizaldy. Aaaahhh....tidak boleh...aku tak boleh kembangkan perasaan ini, aku tak akan bisa mengalami patah hati. Pria ini sungguh aku sukai dan cintai. Aaaaahhh...Tolonglah aku Yaa Allah... "
Amira terus depresi dan moodnya langsung menghilang.
Tiba - tiba Ana dan Nia muncul dan duduk di sana,
Amira pun tersentak melihat kedatangan kedua adiknya, dan berkata dalam hati
__ADS_1
"Sebelum kedua paranormal cantik itu menganalisa aku, dan tahu kalau aku sedang jatuh cinta, aku harus kabur secepatnya."
Amira langsung berdiri, dan berlari pulang dan sengaja teriak lebay.
"Aaaaahh......!!.Aku...belum belajar, sedangkan besok ada ulangan matematika.!!"
Kedua adikku hanya bisa melongo, sedangkan sandi menjadi bergairah kembali.
"Aaaaaahhh...senangnya rejeki tak akan lari kemana, adik Amira yang satu ini juga cantik dan anggun, Aku harus fokus dapatkan dia."
Saat ini Sandi sedang mengincar Nia, adik kedua aku.
Dia belum tahu, kalau Ana tak akan membiarkan kakak - kakaknya berpacaran.
Dia adalah cabang badan intelijen Ayahku.
Makanya Amira cepat kabur.
Sedangkan Andre menjadi galau berat, gadis pujaannya yang tampak nya juga menyukainya sudah kabur, padahal Andre masih ingin melihat wajah yang sangat cantik, dan membuat hatinya adem dan nyaman itu,
Apalagi tangannya itu sangat lembut, dan menghangatkan hati.Rasanya sungguh masih ingin sekali bersamanya, untuk waktu yang lebih panjang.
Sandi pun berkenalan dengan Nia, tapi Ana langsung menariknya ke tempat lain.
"Hai...Sandi.."
Menjulurkan tangannya untuk jabat tangan.
"Nia..."
Menyambut genggaman tangan Sandi.
Ana sangat tak senang melihatnya, dan langsung rewel dan bawel berdiri menarik pergelangan tangan Nia dengan paksa.
"Kak Nia Ayuk kesana.."
Apa dayanya, Nia hanya bisa ikut dengan Ana, begitupun Cahya.
Sandi sungguh sangat kesal pada Ana.
Gairah nontonnya telah raib entah kemana, Sandi pun mengajak Andre pulang.
Tak jauh beda dengan suasana hati Andre, yang juga sudah kehilangan mood nya.
Mereka berdua pun berjalan pulang. Meninggalkan acara panggung itu, yang masih berlangsung.
__ADS_1
Author dan My Readers nya pun kembali ke alam mereka kembali tampa info menarik.
Bersambung.