
Sering jalan-jalan bareng, makan bareng, setiap melakukan sesuatu Alex tak pernah absen mengajak Meri, dan tepat di hari ulang tahun Meri Alex akan mengakui perasaannya pada Meri.
hari ini Alex pergi ke mall milik Agita untuk membeli sesuatu hadiah buat kado ulang tahun Meri, awalnya ia ingin mengajak Agita namun mengingat kecemburuan bosnya ia mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan pada Agita.
Alex mencari kado yang menurutnya berbeda dengan hadiah yang sering orang berikan, ia ingin jika hadiahnya tidak akan di lupakan Meri tapi selalu di ingatnya. Alex mengelilingi setiap lantai yang ada di mall itu setelah 3 jam mencari-cari ada satu hadiah yang menurutnya menarik sampai akhirnya Alex membelinya. menurutnya itu sangat unik dan berbeda dari hadiah-hadiah lainnya. setelah membelinya Alex kembali ke apartemennya untuk mempersiapkan dirinya malam ini, Alex belajar mengutarakan isi hatinya di depan kaca Alex selalu mengulangnya begitu seterusnya sampai malam tiba untuk bersiap-siap pergi ke acara ulang tahun Meri. Alex masih saja berlatih di depan cermin.
Angga dan Agita, dan juga Deon putra mereka bersiap-siap pergi ke ulang tahun Meri juga karna Meri adalah teman Agita. setelah selesai Angga dan Agita pergi menuju ke rumah Meri dengan membawa sebuah hadiah tapi gak tau hadiah apa yang mereka bawa kalau di nilai mereka adalah sultan berarti hadiah itu sebuah kado yang mahal.
Alexpun berangkat menuju ke rumah Meri, ia terus memikirkan cara untuk meyakinkan perasaannya pada Meri agar Meri menerimanya sebagai pendampingnya.
Alex datang bersamaan dengan kedatangan Angga dan Agita. mereka keluar dari dalam mobil.
"Hay bos kecil"
"Hay uncle"
"Tambah ganteng aja" ucap Alex dengan menggendong Deon
"Makasih uncle"
"kamu juga tambah cantik Agita" ucap Alex dengan sedikit-sedikit melirik Angga.
"Kamu bener-bener bosan hidup yaa"
"Hahahahaha.. bercanda bos, lagian kalian tau juga kan kalau aku sekarang mau mengutarakan isi hatiku pada seseorang yang sedang ulang tahun malam ini, jadi gak mungkinlah aku mengambil Agita dari si bos" ucap Alex dengan berjalan sambil menggendong Deon.
Agita mendekati Angga dengan mengelus-ngelus lengan milik Angga. "sudahlah mas, kamu kan juga tau Alex seperti apa"
Angga hanya diam saja tak merespon apa yang di katakan istrinya.
"Secakap apapun, sekaya bagaimanapun mereka tidak bisa menggantikan posisi kamu di hatiku mas, jadi percuma saja mereka melirikku karna aku gak akan pernah melihat mereka melainkan yang akan aku lihat selalu adalah kamu mas"
Angga mendengar ucapan istrinya tersenyum lalu menciumnya tepat di bibir yang mungil milik agita, jika Agita sudah mengatakan seperti itu tak ada alasan lagi buat Angga untuk marah hanya karna masalah kecil.
"Apa-apaan mas, malu di lihat orang"
"Memangnya kenapa, kamu kan istri aku"
"iya tapi ini kan di depan umum, malu mas"
"Apa mau ku tambah lagi di pipi kiri kanan kamu?"
"Sudahlah mas, ayo masuk kedalam kasian Meri sudah menunggu"
"Tapi kita belum selesai loh masalah yang tadi"
"ya sudah terserah mas Angga saja, tapi malam ini mas Angga tidur sendiri aku mau tidur bersama dengan Deon dan selama beberapa Minggu gak ada minta jatah lagi" ucap Agita dengan meninggalkan Angga.
Namun sebelum Agita melangkah lebih jauh Angga menahan lengan Agita dan menariknya. "maaf sayang aku hanya bercanda"
"Hmmmm.."
"jangan marah ya sayang"
Agita hanya diam saja tak merespon ucapan suaminya. Angga yang melihat tingkah istrinya yang lucu ia memeluk dan mencium Agita kembali "Mmmmuuuaaaccchhhh.."
"Mas lepaskan malu di lihat orang, Mas."
__ADS_1
"Sebelum kamu mengatakan gak marah lagi"
"iya aku gak marah sama kamus mas, jadi lepaskan mas"
"Tapi kamu harus janji sebentar habis acara Meri, kita melakukannya di rumah"
"Astaga mas, malu di lihat orang"
"Gak, sebelum kamu berjanji kita melakukannya setelah acara Meri"
"iya aku janji kita akan melakukannya di rumah demi membuat adik untuk Deon"
"Janji ya sayang" ucap Angga dengan menciumnya kembali
"iya aku janji mas, tolong lepaskan mas"
Angga melepaskan Agita, lalu mengandeng Agita masuk ke dalam menemui Meri dan memberikan hadiah untuknya.
"Selamat ulang tahun Meri, semoga apa yang di impikan segera tercapai, dan sehat selalu" ucap Agita dengan cipika cipiki, lalu Agita memberikan hadiah buat Meri.
Acara sederhana malam itu di mulai dengan meniup lilin sampai memotong kue dan kue pertama di berikan Meri pada ibunya dan juga kakaknya.
Agita sedang mengobrol dengan Meri, dan Gina sedangkan Angga sedang menemani putranya untuk makan.
Alex mempersiapkan semuanya untuk malam ini bahkan ia mempersiapkan mentalnya juga. Alex berjalan mendekati Agita dan Meri, setelah berada di dekat Meri Alex berjongkok dengan satu kakinya dilipat dan di serahkan ke Meri sebuah bunga dengan mengatakan " Maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" ucap Alex pada Meri.
Semua orang yang melihat dan mendengar pengakuan Alex bertepuk tangan sambil berteriak "Terima, Terima, Terima"
Agita tersenyum melihat hal itu karna selama dalam hidupnya ia belum pernah di perlakukan seperti itu di masa lalu.
Agita langsung menatap suaminya ketika mendengar kata maaf yang keluar dari mulut suaminya "mungkin kita pernah melewatinya namun ke depannya dan seterusnya kita tidak akan melewatinya aku janji padamu"
"Aku mencintaimu Agita"
"Aku juga mencintaimu mas"
"Mommy.." panggil Deon dengan mencoba meraih tubuh Agita.
"Kenapa sayang, kamu mau mommy gendong?" tanya Agita pada putranya
Namun sebelum Agita mengambil Deon dan menggendongnya Angga tidak memberikannya pada Agita melainkan "Deon di gendong sama Daddy saja ya, kasian mommy nanti capek, trus mana ada cowok di gendong sama wanita kan malu di lihat orang, katanya Deon ingin jadi Daddy tapi koq minta di gendong sama mommy" ucap Angga "Masih mau di gendong mommy"
"Gak mau dad"
"Kalau gitu sama Daddy saja, kasian mommy"
Deon mennganggukan kepalanya pertanda bahwa ia menyetujuinya.
Semua orang terus berteriak karna saat ini Meri belum mengeluarkan kata menerimanya, ia menangis bahagia baru kali ini ia di perlakukan oleh seseorang seperti ini.
"Apakah kamu mau menerimaku sebagai pendamping hidupku" tanya Alex lagi
Meri sebelum menjawab ia menatap ibunya dengan kakaknya, dengan tatapan itu ia melihat sebuah senyuman di wajah ibu dan kakaknya, dengan mata yang berkaca-kaca iya menjawab pertanyaan yang Alex lontarkan. "iya aku mau mas" jawab Meri dengan air mata yang menetes di pipinya.
Alex segera berdiri dan langsung memeluk Meri. "Makasih atas jawabannya, aku janji akan selalu menjaga perasaan ini untukmu" ucap Alex dengan memeluk Meri.
Agita melihat pemandangan itu menangis karna terharu melihat sikap Alex yang membuktikan perasaannya dengan cara melamar Meri.
__ADS_1
Angga yang melihat Agita menangis, ia memeluknya dan menciumnya. "Kamu kenapa sayang?"
"Gak apa-apa mas, aku hanya terharu melihat mereka berdua"
"Maafkan aku, belum bisa membahagiakanmu di masa lalu" batin Angga.
Setelah selesai acara, Angga dan Agita dan para tamu kembali, namun Angga tak langsung membawa Agita pulang ke rumahnya, ia mengajak Agita pergi ke suatu tempat yang Agita tidak tau kemana.
"Kita mau kemana mas" tanya Agita pada suaminya.
"Kamu diam saja sayang, kamu cukup ikuti aku kemanapun aku membawamu"
Agita yang mendengar ucapan Angga hanya diam saja mengikuti apa yang suaminya lakukan.
Akhirnya sampai juga setelah 40 menit perjalanan dari rumah Meri menuju ke sebuah hotel.
"Kenapa kita kemari mas, kenapa gak langsung pulang saja, trus bagaimana dengan Deon pasti dia sendirian mas"
"Deon sedang bersama dengan nenek dan kakeknya saat ini jadi tidak mungkin ia merasa sendirian sayang"
Sebelum selesai acara ulang tahun Meri malam itu Angga menelfon maminya ia meminta bantuan pada maminya agar menjadi babysister untuk putranya malam ini, karna ia memiliki kejutan untuk istrinya tercinta. Dengan sangat bahagia maminya Angga mengiyakan permintaan putranya itu, karna menurutnya kapan lagi ia bisa bersama dengan cucu kesayangannya itu kalau bukan malam ini. sehingga malam ini adalah kesempatan Angga berdua bersama dengan Agita istrinya.
Angga mengajak Agita masuk ke hotel menuju kamar yang di pesannya, agar kejutannya berjalan dengan lancar ia meminta Agita untuk menutup matanya sebelum masuk ke dalam kamar hotel.
"Kenapa harus di tutup segala mataku mas, kalau di tutup gini bagaimana aku bisa melihat"
"Tenang saja sayang aku yang akan menuntunmu untuk berjalan, ini hanya beberapa menit saja setelah aku mengatakan buka baru kamu bisa membukanya"
"Baik mas.."
Angga dan Agita saat ini sedang berada di dalam kamar, dengan memberikan kejutan pada istrinya ia rela membayar seseorang untuk mendekor kamar itu walaupun sudah terlambat ia tetap melakukannya dan berharap kalau Agita menyukainya, dengan bunga yang di tabur di tempat tidur, yang berbentuk hati dan bertuliskan i love you my wife. kamar itu seperti taman yang hanya biasa saja tapi malam ini menjadi indah.
Setelah Angga merasa posisi Agita saat ini tepat di mana Angga inginkan ia memberi perintah pada Agita agar membuka matanya.
Dengan perlahan Agita membuka matanya, agita menutup mulutnya dengan kedua tangannya ia tidak menyangka jika suaminya menyiapkan semua ini, dengan penuh bahagia Agita mengeluarkan air mata di kedua matanya yang cantik, ia berbalik ingin mengucapkan terima kasih pada Angga namun ketika ia berbalik ia menemukan Angga sedang berjongkok dengan kakinya satunya di lipat sambil memegang bunga "Mau kah kamu menemaniku sampai rambut ini memutih dan sampai ajal akan menjemput?!" ucap Angga tepat di depan Agita sambil memberikan bunga yang di pegangnya ke Agita.
Agita hanya menganggukan kepalanya ia tidak tau harus menjawab apa. dengan menangis ia menjawab "iya aku mau mas, sampai kapanpun aku akan selalu menemanimu" ucap Agita dengan mengambil bunga di tangga Angga dan langsung memeluk suaminya.
"Maaf aku terlambat melakukannya untukmu, maafkan aku"
"Gak mas, terlambat dan tidaknya aku akan tetap mencintaimu, jika saja kita tidak bertemu seperti itu di masa lalu aku yakin kita tidak akan seperti sekarang ini"
"Makasih sayang"
Agita pergi membersihkan tubuhnya, karna ia merasa gerah dengan pakaian yang ia pakai setelah selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian dengan pakaian tidur ia mendekati suaminya yang sedang berdiri di balkon. dengan bahagia Agita memeluk suaminya itu dari belakang, Angga yang merasakan pelukan dari sang istri, tersenyum sambil mengelus kedua tangan istrinya.
"Makasih mas sudah mencintaiku sejauh ini"
Angga yang mendengar ucapan istrinya, ia berbalik menghadap ke arah Agita. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karna sudah mau menerimaku kembali walaupun aku sudah menyakitimu"
"Biarlah itu menjadi masa lalu kita mas, kita tak perlu mengingat semua itu yang saat ini kita harus lakukan adalah menjalani hidup kita ke depannya dan selalu menjaga, mencintai satu sama lain agar hubungan kita terjalin sampai ajal menjemput mas"
Angga memeluk erat tubuh istrinya ia mengingat apa yang di ucapkan oleh kedua orang tuanya tentang istrinya, dan itu terbukti bahwa istrinya memang berhati mulia, yang bisa di katakan yang lebih cantik di luar sana banyak namun yang memiliki hati yang tulus tidaklah banyak. hari ini Angga mengucap syukur telah di karunia istri yang begitu tulus mendapinginya saat ini.
Dengan angin malam menjadi saksi keromantisan suami istri Angga dan Agita malam itu, Angga melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Agita lalu mencium bibir mungil milik Agita. mereka melakukan ciuman itu lalu Angga langsung menggendong Agita menuju ke tempat tidur, ia menidurkan tubuh Agita di atas tempat tidur, dengan perlahan Angga Melu**t bibir milik Agita sampai akhirnya malam itu menjadi malam yang sempurna bagi mereka dengan kebahagian yang mereka miliki.
Malam itu menjadi malam paling bahagia untuk sepasang suami istri, tanpa gangguan Angga melakukannya pada istri dengan mencium wajah Agita, lalu turun ke bagian leher milik Agita, ia memberikan sebuah tanda kepemilikan di tubuh Agita. dengan tangan yang di miliki Angga super aktif mulai menjelajah seluruh tubuh Agita dengan memasukan tangannya ke dalam piyama milik agita.dengan mere**s ke dua payu**ra milik Agita membuat wanita beranak satu itu mengeluarkan suara desahan dari bibir mungilnya, Angga melanjutkan aksinya dengan memainkan **** * Agita dengan jarinya sehingga Agita mengeluarkan desahan demi desahan dan desahan itu membuat Angga semakin bergairah, Angga melepaskan pakaiannya dan juga pakaian Agita. dengan perlahan ia membuat tanda kepemilikan di bagian dada milik Agita, setelah melakukannya kini ia melakukan apa yang harus ia lakukan, dan ini merupakan adalah puncak malam ini bagi Angga. ia melakukannya dan melakukannya lagi hingga membuat Agita terlihat lemas karna kelelahan namun Angga sedikit lagi akan menuju klimaks yang ke empat kalinya, setelah ia mengeluarkan apa yang harus di keluarkan tubuh Angga itupun menjadi lemas karna kelelahan dengan keringat yang terus bercucuran di tubuh mereka. setelah beberapa menit melakukannya Angga menggendong Agita ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka setelah membersihkan tubuh mereka dari hasil olahraga malam itu akhirnya Angga dan Agita kembali beristirahat dan tidur dengan posisi Angga yang terus memeluk Agita seperti tidak ingin Agita pergi meninggalkannya.
__ADS_1