
Angga berada di kantor tapi hanya dirinya saja tapi pikirannya selalu tertujuh pada Agita istrinya yang berada di rumah. Angga begitu tidak konsen dengan pekerjaannya bahkan ia sering mengabaikan siapapun yang datang di ruangannya termasuk Alex.
Alex menatap Angga dari luar pintu ruangannya melalui celah kaca.
"Kalau kamu memikirkan Agita kenapa gak pulang saja bos, percuma kamu memaksakan diri datang ke kantor dan bekerja jika pikiranmu tak berada di sini" ucap Alex yang terus menatap bosnya.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, Angga tak bisa menahan rasa khawatirnya sehingga ia memutuskan untuk pulang dan menemani Agita istrinya. tak menunggu lama Angga bergegas meninggalkan ruangannya dan menuju tempat ia memarkirkan mobilnya.
Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, Angga begitu buru-buru untuk pulang agar bisa menemani istrinya namun dalam perjalanan pulang ia selalu di pertemukan dengan penghalang seperti rambu-rambu lalu lintas (lampu merah) dan itu selalu membuat Angga kesal karna hampir sepanjang jalan lampu lalu lintas selalu menjadi penghalangnya.
Angga adalah orang yang terkaya, ia bisa melakukan apapun itu termasuk tidak menaati rambu-rambu lalu lintas, namun sang istri selalu mengingatkan cara yang Angga lakukan adalah cara yang salah dan bukan contoh yang baik sebagai seorang pengusaha.
#Flashback on
"Mas kenapa tak berhenti? itu kan masih lampu merah yang menandakan untuk berhenti"
"Bagiku gak ada yang seperti itu, dan itu hanya membuatku buang-buang waktu"
"Kamu gak boleh ngomong seperti itu mas, itu adalah aturan lalu lintas dan kamu sebagai rakyat harus menaati itu mas"
Angga hanya diam saja ia tak menanggapi apa yang Agita katakan. ia lebih memilih tetap fokus mengemudikan mobilnya dari pada harus menanggapi ocehan sang istrinya.
Angga seperti itu karna dulu ia terbiasa seperti itu dan tak pernah mendapatkan nasehat seperti yang Agita katakan, ia hanya mendapatkan tantangan dari Alisa mantannya dulu.
"Mas, awas lampu merah mas" ucap Agita
Angga yang mendengar ucapan Agita ia menghentikan mobilnya.
"Mas, kamu tau gak cara kamu ini bisa membahayakan hidup orang lain bahkan hidupmu sendiri"
"Mereka sudah mengenal aku, jadi mereka selalu memberikan jalan dan tidak pernah mempermasalahkannya"
"Kamu pernah berfikir gak? kalau cara kamu dan sikap kamu seperti ini bisa berdampak ke masa depan anak-anak kita"
"Siapa yang berani melakukannya pada anak-anakku aku gak akan diam saja"
"Mas, kamu adalah kepala rumah tangga dan seorang ayah apakah itu adalah contoh yang baik untuk mereka dan apakah itu adalah ucapan sebagai seorang pemimpin?"
#Flashback off
Mendengar ucapan Agita dulu yang selalu menasehatinya membuatnya untuk mendengarkan istrinya dan merubah semua sikapnya yang suka sewenang-wenang, menjadi seseorang yang peduli.
__ADS_1
Angga mulai melatih dirinya bersabar dengan menaati rambu-rambu lalu lintas yang menurutnya hanya buang-buang waktu saja.
"Demi kamu aku akan melakukan semuanya dan demi masa depan anak-anak kelak, biar mereka bisa membanggakan ayahnya sendiri" ucap Angga tersenyum sambil mengemudikan mobilnya kembali.
Dalam perjalanan Angga melihat seseorang yang sedang menjual buah mangga, dan buah kelapa muda, Angga menepikan mobilnya lalu turun dari mobil dan membeli karna yang di katakan Alex adalah buah mangga yang muda adalah kesukaan seorang istri yang sedang dalam masa mengidam. dan kelapa muda bagus untuk bayi dalam kandungan.
Setelah membeli semua Angga melajukan mobilnya lagi, hanya dengan waktu 20 menit kini Angga telah sampai di rumahnya. Angga memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil menuju ke dalam rumahnya.
Ketika masuk Angga melihat ada seorang wanita yang sedang berjalan dengan pelan menuju ke belakang, Angga bergegas mengikutinya dan melemparkan sembarang tempat tas kantor yang ia bawah, karna wanita itu adalah Agita istrinya yang terlihat berjalan pelan dengan wajah yang masih pucat.
"Kamu sedang apa di sini?"
Agita terkejut mendengar suara yang tak asing di telinganya yaitu suara Angga suaminya. Agita menoleh kearah suara itu
"Kamu sudah pulang mas?"
"Kamu sedang apa disini?"
Agita menatap wajah Angga lalu mengelus-ngelus wajah suaminya.
"Aku hanya ingin mengambil air minum mas"
"Kan ada air minum di dalam kamar sayang"
"Kenapa kamu yang mengambilnya, kenapa gak minta pelayan yang mengambilkan untukmu sayang" ucap Angga dengan memegangi Agita lalu mendudukkannya di atas kursi yang berada di dapur.
"Mereka masih melakukan pekerjaan mereka, dan aku tidak ingin mengganggu mereka"
"Tapi itu tugas mereka merawat kamu dan menjaga kamu kalau aku tidak lagi di rumah sayang"
"Aku masih bisa melakukannya mas" ucap Agita dengan tidak ingin merepotkan orang lain
Angga memberikan air untuk di minum Agita.
"Aku ada di sini sekarang, kamu bisa minta apa saja padaku" ucap Angga lalu mencium pucuk kepala Agita dan memeluk Agita.
Agita tersenyum lalu membalas pelukan itu, pelukan dari suaminya.
"Jangan buat aku khawatir, kamu begitu berarti bagiku sayang" ucap Angga dengan mencium Agita berulang-ulang kali
"Tuan ini adalah bawaan tuan"
__ADS_1
"Taruh situ saja"Ucap Angga dengan menunjuk tempat agar di letakan di atas meja.
Agita mencoba melepaskan pelukannya pada Angga. namun Angga menahannya agar mereka masih dengan posisi saling berpelukan.
"Apa itu mas,aku ingin melihatnya"
"Itu Adalah buah yang aku beli waktu dalam perjalanan pulang kemari, di perjalanan aku melihat ada buah mangga muda dan juga kelapa muda sayang jadi aku membelinya" ucap Angga lalu melepaskan pelukan itu
"Kamu mau makan apa sayang?"
"Aku hanya ingin makan mangga muda mas"
"okey sayang, aku akan mengupas mangganya Dulu" ucap Angga dengan pergi ke tempat cuci piring untuk mencuci mangga yang ia beli.
Angga melepaskan jas yang ia pakai, melonggarkan das nya dan melipat kemeja putihnya setinggi siku. Angga mulai mencuci mangganya dan mengupasnya, setelah selesai ia memotong kecil-kecil dan di letakan di piring kecil.
Agita yang melihat suaminya begitu perhatian padanya tersenyum sambil memegang perutnya yang masih rata. Agita mencoba beranjak dari tempat duduknya untuk membantu Angga. namun apa yang Agita dapatkan hanyalah tatapan yang melarangnya untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Mas, aku hanya ingin"
"gak, kamu duduk saja di situ biarkan aku yang melakukannya"
"Tapi mas"
Angga mendekati Agita dengan membawa piring yang berisikan potongan mangga muda.
"Aku sudah bilang biarkan aku yang melakukannya untukmu"
"Tapi mas, kamu baru pulang dari kerja pasti kamu capek mas"
Angga menarik kursi dan duduk di dekat Agita.
"Bagiku rasa capek ini tak ada lagi ketika melihatmu"ucap Angga dengan mengenggam kedua tangan Agita yang berada di atas meja makan
"Please... biarkan aku yang melakukan semuanya untukmu, dan berilah aku kesempatan untuk merawatmu, selalu berada di sisimu" ucap Angga lalu mencium punggung tangan milik agita istrinya
"Makasih mas"
"Aku yang harusnya berterima kasih, karna kamu sudah mau merawat putra kita yang pertama dan memberikanku anak yang kedua meskipun kamu tau bagaimana rasanya berjuang"
Angga beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Agita kembali.
__ADS_1
"Aku berjanji akan selalu ada di sisimu, menemanimu, merawat anak-anak bersama, bahkan sampai mereka tumbuh besar dan kita menua nanti"
Angga mengeratkan pelukannya pada Agita seolah ia tidak ingin Agita pergi meninggalkannya dan selalu berada di dekatnya.