
Angga sedang dalam perjalanan menemani Agita untuk memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan. sedangkan Ny.Amel terus memegang tangan menantunya sambil mengelusnya.
Angga yang menatap adegan maminya dan juga istrinya itu tersenyum, dan itu menimbulkan rasa cemburunya. ia juga ingin memegang tangan bahkan perut istrinya namun itu tidak mungkin karna saat ini mereka duduk di bangku belakang sedangkan di depan dirinya mengemudi kan mobilnya.
"Mi, bolehkah Agita duduk di sampingku?"
"Gak boleh, selama mami ada Agita harus berada di dekat mami" ucap Ny.Amel dengan menatap Agita tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan menantunya.
"Tapi mi"
"Kamu fokus saja mengemudi" ucap Ny.Amel dengan tatapan garang.
Anggapun akhirnya mengalah kepada maminya. sedangkan Agita tersenyum menatap suaminya yang bersikap seperti itu, jika di tanyakan Agita pun sama ia ingin bermanja-manja di dekat suaminya namun ia memendam keinginannya itu sementara waktu.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan mereka yaitu rumah sakit. Ny.Amel turun dari mobil bersama dengan putranya dan menantunya, mereka menuju ke ruangan Dokter Nia teman Ny.Amel yang memeriksa menantunya itu.
Dokter Nia menyambut My.Amel dan mereka saling berpelukan, karna dari pertemuan mereka di waktu memeriksa keadaan Agita dari situlah mereka belum bertemu hingga sekarang mereka baru bertemu lagi, Ny.Amel dan sahabatnya itu hanya berkomunikasi saja lewat sosial media saja.
"Akhirnya kamu datang juga mel"
"iya Nia, aku datang untuk memeriksa menantuku" ucap Ny.Amel dengan memegang pundak menantunya.
"Ketemu kamu aja susahnya minta ampun Mel, oh iya silahkan duduk"
"Kamu tau sendirilah suamiku seperti apa Nia"
"Siapa sih yang gak kenal suami kamu mel, hanya aku saja yang gak mau terlalu kenal sama dia" ucap Nia dengan tertawa dan di ikuti oleh Ny.Amel
__ADS_1
"Lebih baik kamu gak usah kenal Nia, nanti kalau kamu kenal kamu gak akan menghubungi ku lagi"
"iya, aku gak akan mengenalinya lebih jauh lagi dan seperti apa dia, cukup sebagai suamimu saja" ucap dokter Nia dengan mulai memeriksa Agita.
Ketika Dokter Nia menyiapkan alat USG nya tiba-tiba tangan Agita menahannya dan berkata.
"Gak perlu di USG dok" ucap Agita.
"Apa kalian gak ingin melihat bayi mungil kalian?"
Angga berdiri dari tempat duduknya dengan mendekati Agita dan dokter Nia.
"Kami berdua sudah sepakat tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi kami dok"
"okey, baiklah kalau begitu" ucap dokter Nia dengan melanjutkan pemeriksaan kepada Agita.
"iya Nia, aku juga begitu biarlah ini menjadi kejutan nanti ketika cucuku lahir"
Setelah memeriksa keadaan Agita, dokter Nia duduk kembali ke kursinya dengan menuliskan resep yang harus di minum Agita.
Agita pun turun dari tempat pemeriksaan dengan di bantu oleh suaminya yaitu Angga. kini Agita dan Ny.Amel duduk berhadapan dengan dokter sedangkan Angga berdiri tepat di belakang sang istri sambil memegang kedua pundak istrinya.
"usia kandungan nona Agita saat ini sudah mau memasuki usia 3 bulan, dan mungkin masa ngidamnya juga akan berkurang tapi saya tidak mengatakan akan baik-baik saja selama masa kehamilan, karna setiap kehamilan seorang ibu berbeda-beda ada yang biasa saja dan ada juga yang harus berjuang melawan efek dari kehamilan itu sendiri seperti yang nona Agita rasakan saat ini yaitu ngidam" jelas dokter Nia kepada Agita dan Anggapun mendengar apa yang di jelaskannya.
Ketika ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Angga, saat itu ia ingin menanyakannya namun dokter Nia menjelaskan sesuatu lagi.
"oh iya satu lagi, kandungan nona Agita bisa di katakan masih dalam usia mudah jadi saya sarankan agar tak berhubungan intim dulu dengan suaminya, karna akan berefek pada kandungan nona Agita, karna saat ini kandungannya belum genap 3 bulan"
__ADS_1
Angga yang mendengar penjelasan dokter kandungan terdiam, apa yang mengganjal di pikirannya terjawab sudah karna ia benar-benar ingin menjenguk anaknya nanti, namun dokter Nia menganjurkan agar tak bertemu dulu, dan itu membuat Angga terdiam tanpa mengatakan sesuatu, rasanya ia ingin bicara namun Agita memegang tangan suaminya dengan mengelus-elus tangan suaminya. Angga yang tau maksud itu bahwa istrinya mengatakan agar suaminya bersabar dan mengikuti apa yang di katakan dokter demi buah hati mereka.
"Terima kasih Nia karna sudah membantu menantuku" ucap Ny.Amel dengan memegang kedua tangan dokter Nia yang berada di atas meja kerjanya.
"itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai dokter mel" ucap dokter Nia dengan membalas genggaman tangan sahabatnya itu.
lalu Dokter Nia memberikan vitamin untuk menguatkan kandungan dan juga vitamin untuk Agita.
"Ini untuk vitamin menguatkan kandungan dan juga vitamin untukmu nona Agita. walaupun saya sudah memberikan vitaminnya nona Agita tetap harus menjaga kesehatan dan tidak bisa kecapean juga, jangan karna dengan adanya vitamin kita cuek saja dengan kesehatan kita sehingga kita tetap beraktivitas tanpa memperhatikan kalau kita sedang mengandung"
"Baik dokter, saya akan memperhatikan kesehatan saya agar tidak terlalu kecapean"
"Mengapa saya mengatakan hal ini karna masalah ini sering terjadi kepada ibu-ibu hamil yang masa kandungannya masilah mudah, mereka hanya mengandalkan vitamin-vitamin dari dokter sehingga mereka beraktivitas atau melakukan yang mereka sukai"
Angga mengelus kepala sang istri dan tak lupa juga ia menciumnya di hadapan dokter Nia. dokter Nia yang melihatnya hanya tersenyum karna menurutnya tuan Angga begitu sangat menyayangi istrinya.
"Terima kasih dokter" ucap Angga.
"makasih Nia, sudah meluangkan waktunya untuk menantuku, aku tau kamu sibuk dengan banyak pasien"
"sama-sama Mel, menantumu sama juga dia adalah putriku Mel"
Ny.Amel keluar dari ruangan dokter Nia bersama dengan Angga dan juga Agita. mereka berencana pulang ke rumah, mereka berjalan beberapa langkah belum jauh dari ruangan dokter Nia, Angga mulai berulah lagi dengan menggendong Agita tiba-tiba dan itu membuat Agita kaget dan juga Ny.Amel.
"Mas, apa yang kamu lakukan turunkan aku mas, malu banyak yang lihat kita" ucap Agita dengan terus merontak-rontak
Angga menghentikan langkahnya lalu berkata.
__ADS_1
"Sayang, kamu dengar kan apa yang di katakan dokter tadi, kalau kamu itu gak bisa capek harus banyak istirahat jadi apapun itu aku akan menjadi suami yang selalu siaga menjaga istrinya" ucap Angga dengan melanjutkan langkahnya.
Ny.Amel yang melihat tingkah putranya dan menantunya hanya tersenyum tanpa berkomentar, bahkan ia terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut putranya yang sudah terlihat dewasa, walaupun sikap egoisnya masih ada tapi dia berusaha memberikan yang terbaik buat istri dan juga putranya.