Istri Kontrak

Istri Kontrak
Episode 6


__ADS_3

#Di kediaman Angga.


Angga mengusap wajahnya dengan kasar ia merasa frustasi, waktu yang di berikan maminya untuk mencari calon istri sangatlah pendek, bagaimana mungkin ia mencari calon istri dalam waktu sebulan, besok adalah waktu yang di tunggu oleh maminya, dan maminya menelpon angga agar ia menemui maminya dengan membawa calon istrinya, Angga sudah berjanji, akan membawa calon istrinya besok, sesuai dengan kesepakatan Angga dan maminya, jika angga tidak bisa membawa calon istrinya besok maka maminya yang akan mencarinya, mau tak mau angga harus menerima keputusan maminya itu.


****


Hari ini adalah hari liburnya Agita tidak bekerja, ia menggunakan hari liburnya untuk berkumpul dengan ibunya dan adiknya zio di rumah, mereka menonton bersama di ruang keluarga sambil mengobrol.


“bagaimana dengan sekolahmu zio”


“baik kak, sebentar lagi zio akan ikut ujian”, zio saat ini duduk di bangku kelas tiga menengah atas (SMA) yang sebentar lagi mengikuti ujian.


“belajarlah yang giat biar dapat nilai yang bagus, setelah kamu lulus, kamu kuliah mau ambil jurusan apa ?”, tanyanya agita pada zio adiknya,


Mendengar pertanyaan yang di lontarkan kakaknya tentang rencana kuliah, zio belum menanggapi pertanyaan kakaknya, ia masih kepikiran dengan kesehatan ibunya, ia tidak ingin menambah beban kepada kakaknya dan juga pada ibu nya, dengan biaya kuliah nanti, ia berencana tidak melanjutkan kuliah ia ingin mencari pekerjaan unttuk membantu kakak dan juga ibunya.


“zio belum memikirkannya kak”jawab zio


“kamu harus memikirkannya, itu adalah masa depanmu”.


Di tengah obrolan mereka tiba-tiba ibu agita meringis kesakitan dan terjatuh agita melihat itu begitu panik.


“ibu kenapa.., bu, kenapa bu?, zio kita segera bawa ibu ke rumah sakit” di perjalanan menuju rumah sakit agita menangis melihat keadaan ibunya. Beberpa menit Tibalah mereka di rumah sakit ibu agita segera di bawah ke ruangan UGD. “dokter tolong ibu saya dok”

__ADS_1


“nona tolong anda menunggu di luar dulu”, ucap seorang perawat


“tapi sus ibu saya”


Agita keluar dari ruangan ibunya,menunggu dokter memeriksakan keadaan ibunya.


“zio sebenarnya ada dengan ibu?”


“maaf kak, ibu mengalami gagal ginjal kak”


“kenapa kamu tidak memberitahu kakak tentang keadaan ibu zio”


“ibu melarang zio kak”.


“bagaimana dengan keadaan ibu saya”


“mari ikut saya ke ruangan, ada sesuatu yang saya ingin jelaskan tentang ibu anda nona” agita mengikuti dokter yang memeriksa ibunya menuju ke ruangan.


“ibu anda mengidap penyakit gagal ginjal, ia harus melakukan cuci darah setiap minggu dua atau tiga kali dalam seminggu sampai ibu anda mendapatkan donor ginjal”. Mendengarkan penjelasan dari dokter tentang penyakit yang di derita oleh ibunya, agita tidk bisa menahan tangisannya lagi, ia tidak ingin kehilangan ibunya.


“baik, dokter tolong lakukan agar ibu saya bisa sembuh”, ucap agita dengan nada suara sedang menangis,


“kami akan usahakan, agar pasien secepatnya mendapatkan pendonor”.

__ADS_1


Agita keluar dari ruangan dokter, menuju keruangan ibunya, saat ini ibunya sudah di pindahkan ke ruangan pasien, ia melihat ibunya yang terbaring di tempat tidur sebagai pasien,


“Bu... ibu harus kuat ya”,ucap agita dengan suara serak habis menangis. malam itu mereka menginap di rumah sakit menjaga ibunya, agita terus mengenggam tangan ibunya sampai ia tertidur. Ibu agita pelan-pelan sudah mulai sadar, ia mengusap puncak kepala anaknya. Agita merasa ada yang mengusap kepalanya ia bangun dan melihat ibunya yang telah sadar.


“bu... ibu jangan banyak bergerak dulu, ibu harus banyak istrahat,” agita mengambil air putih di atas meja di dekat ibunya berbaring, ia meminumkan air itu pada ibunya.


“ibu tidak apa-apa nak, kamu tidak perlu khawatir”


“kata dokter , ibu harus menginap beberapa hari dulu di rumah sakit, biar ibu akan segera pulih”


“Ibu tidak apa-apa nak, tidak perlu menginap di rumah sakit”


“bu, tolonglah demi kesehatan ibu”, ibu agita tidak bisa membantah apa yang di katakan anaknya, jika ia ingin cepat pulih ia harus menerima perawatan dari rumah sakit. “tapi nak dari mana kita akan membayar biaya rumah sakit?,”


“ibu tidak perlu memikirkan tentang biaya rumah sakit ataupun biaya cuci darah ibu, biar gita yang mengurus semua biayanya,”


“tapi nak dari mana kamu akan mendapatkan biaya rumah sakit?’


“apa ibu lupa kalau putri ibu ini cerdas?” ibunya yang melihat tingkah kepedean putrinya tersenyum, “kamu harus jaga kesehatanmu nak jangan terlalu bekerja”.


“siap bu,”,


agita menatap ibunya yang kembali tertidur. “bu gita janji akan bekerja keras agar ibu bisa cepat sembuh, gita tidak ingin kehilangan ibu”, batin agita dengan air mata yang menetes di pipinya.

__ADS_1


##.Setelah kalian membaca ceritaku mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisannya.🙏🏻 Aku harap kalian menyukai ceritaku ini. 😊


__ADS_2