Istri Kontrak

Istri Kontrak
Episode 40


__ADS_3

Angga dan Agita bersiap-siap pergi kerumah kedua orang tuanya Angga untuk makan malam, Agita memakai dres warna hitam dengan makeupnya yang tipis ia begitu terlihat cantik dengan penampilannya yang sederhana, Angga yang melihatnya pun memuji istrinya tapi pujiannya hanya di ucapkan dalam hatinya saja.


"Apa kau sudah sudah siap ?" ucap Angga dengan bertanya pada istrinya.


"Iya aku sudah siap"


"Apa sudah tidak sakit lagi?"


Agita kaku mendengarkan ucapan Angga terhadapnya dengan bertanya tentang daerah kewanitaannya yang membuat ia merasa malu dengan pipinya yang mulai memerah,


"Kenapa lagi harus di tanyakan sih" batin Agita menatap Angga.


"Sayang aku menanyakannya kau baik-baik saja kan?"


"Iya aku baik-baik saja dan sudah tidak terlalu sakit lagi".


"Syukurlah kalau begitu, berarti kita bisa melakukannya lagi kan?".


Agita yang mendengarkan ucapan suaminya itu, meninggalkan Angga berdiri di dekat meja rias, Agita mempercepat langkahnya menuju ke pintu kamar untuk keluar dari dalam kamar.


Angga yang melihat dirinya di tinggalkan berlari menyusul istrinya, ia menahan tangan istrinya "kenapa buruh-buruh sayang, kita kan hanya makan malam di rumah mami dan papiku"


"Karna makan malam di rumah mami dan papimu kita harus segera pergi biar mereka tidak menunggu kita lama"


Angga menarik istrinya dan memeluk pinggang milik istrinya dengan satu tangannya membelai wajah istrinya dengan lembut.


"Kita masih punya waktu untuk kesana bahkan kita masih bisa melakukan sesuatu di sini"


Agita mengedip-ngedipkan matanya sambil menelan salivanya, wajah Angga semakin di dekatkan kewajah istrinya.


"Ada apa ini, berhentilah kau berdetak seperti itu, kenapa kau malah berdetak cepat seperti mau ikut lomba pacuan kuda sih" batin Agita yang berbicara dengan detak jantungnya.


Angga semakin mendekatkan wajahnya sedekat mungkin, Angga meraih bibir Agita dan di kecupnya dengan lembut selembut mungkin sehingga Agita tidak menolaknya ia malah membalas ciuman dari suaminya, Angga yang merasakan itu tersenyum dan melanjutkan ciuman itu.


Tiba-tiba handphone Angga berdering menandakan panggilan masuk, dan benar saja itu adalah maminya yang menelfon. Angga benar-benar tidak habis fikir maminya menelfon di waktu yang tidak tepat.


"Anggaaa.. kalian sudah di mana?" tanya maminya dengan berteriak memanggil nama putranya.


Angga menjauhkan handphonenya dari telinganya rasanya gendang telinganya mau pecah mendengar maminya berteriak memanggil namanya.


"Ada apa mi"


"Kalian sudah di mana?"


"Kita sudah mau menuju ke sana mi"


"Ya sudah cepatlah kemari"


"Iya mi"


Angga mengakhiri panggilan telfon dengan maminya.


Agita memperbaiki lipstiknya karna Angga menggodanya sebelum berangkat dengan mencium bibirnya.

__ADS_1


"Kau sedang apa?"


"Aku sedang memperbaiki riasanku"


"Cepatlah mami sedang menunggu kita"


"Udah selesai juga koq"


kini Angga dan Agita menuju ke garasi mobil milik Angga. Angga mengeluarkan mobil miliknya untuk mereka naiki pergi ke rumah maminya.


Dalam perjalanan Angga dan Agita hanya diam saja hanya bunyi radio yang terdengar di dalam mobil..


45 menit dalam perjalanan kini mereka telah sampai di halaman rumah milik orang tua Angga.


maminya yang mendengarkan mobil Angga. ia segera menuju ke halaman depan menyambut kedatangan putra dan menantunya.


"Akhirnya kalian datang juga, kenapa lama skali ?, jangan bilang kalau kalian lagi rebahan yaa" ucap maminya Angga


Agita mendengar ucapan mertuanya wajahnya berubah menjadi memerah karna malu. bagaimana ia tidak malu sebelum datang ke rumah mertuanya Angga masih saja menjahilinya dengan menciumnya.


Angga melihat wajah Agita memerah seperti kepiting rebus.


"Mi, apa kita hanya berdiri saja di sini?"


"Dasar anak nakal, gak bisa melihat maminya senang"


"Angga sudah lapar mi, ntar aja mami bicara dengan istriku habis kita makan malam"


Angga berjalan lebih dulu.


"Pi, apa kabar?"


"Baik nak, bagaimana pekerjaanmu?"


"Alhamdulillah berjalan dengan baik pi"


"hubungan dengan istrimu bagaiman?"


"Baik juga Pi"


"Syukur kalau begitu nak"


maminya Angga dan Agita mendekati Angga dan papinya.


"Katanya lapar tapi masih mengobrol"


"Saling sapa dengan papi mi, masa Angga nyuekin papi sih mi"


"Ya sudah-sudah, gak usah berdebat lagi" ucap papinya Angga


"Jangan kaget nak Agita, Angga sama maminya seperti itu kalau ketemu pasti berdebat"


Agita tersenyum menatap papi mertuanya.

__ADS_1


"Gak apa-apa Pi"


"Gak usah bercerita lagi, waktunya makan" ucap maminya Angga


dengan aturan di dalam rumah itu saat makan tidak ada yang berbicara, dan saat ini hanyalah bunyi sendok dan piring yang berbunyi nyaring.


setelah selesai makan maminya Angga memulai dengan berbicara.


"Apa kalian sudah belah duren Angga?" tanya ny.amel


Angga dan Agita yang mendengar itu tiba-tiba mereka keselek saat minum air.


mami dan papinya terkejut melihat anak dan menantunya.


"Ada apa dengan kalian berdua ?" tanya ny.amel


"Gak Apa-apa mi" jawab Agita


"Mami koq ngomongnya nanya gitu"


"mami kan hanya Nanya saja, namanya juga orang tua pasti pengen dapat cucu".


"tapi kenapa harus bahas skarang mi"


"trus mau kau Angga bahasnya kapan kalau bukan skarang"


Angga terdiam, kalau sampai Agita hamil bagaimana hubungannya dengan Alisa nanti. Angga sudah berjanji bahkan dia sudah merencanakan pernikahannya dengan Alisa.


"Angga. mami mau cucu Angga"


"iya Angga tau mi, tapi mami bersabar dulu Agita juga gak mau buruh-buruh hamil mi" ucap Angga menatap Agita.


"Benarkan Agita. kau masih belum siap untuk hamil saat ini kan?" ucap Angga dengan tatapan memohon Agita membantunya memberikan alasan kepada maminya.


Agita melihat tatapan Angga, sungguh hatinya sakit. bagaimana mungkin ia menunda kehamilannya nanti sedangkan ia mulai berharap agar ada darah daging Angga yang tumbuh dalam rahimnya.


"Agita." panggil maminya


"iya mi, apa yang di katakan Angga benar mi Agita belum mau buruh-buruh mi".


"Ya sudah gak apa-apa nak, tapi ketika kalian sudah siap cepatlah beri mami seorang cucuk"


"Pasti mi, Angga bakalan ngasih mami cucuk lihat aja mi" jawab Angga dengan bersemangat.


rasanya Agita ingin menangis melihat Angga seperti itu,


"Aku tidak boleh menangis pernikahan ini hanyalah pernikahan diatas kertas, sadarlah Agita kamu tidak boleh berharap penuh bahwa Angga mencintaimu juga seperti kau mencintainya saat ini. ingat Agita!! Angga sudah memiliki kekasih dan dia hanya menuruti keinginan maminya untuk menikah bukan karna keinginannya"batin Agita.


#Setelah kalian membaca ceritaku mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisannya.🙏🏻 Aku harap kalian menyukai ceritaku ini. 😊😊


dan jangan lupa berikan rate, vote, like dan coment agar aku lebih bersemangat lagi up nya.


terima kasih buat kalian yang masih setia dengan cerita novelku.🤗

__ADS_1


__ADS_2