
Agita siap-siap untuk berangkat ke tempat kerja tapi sebelum pergi ia mempersiapkan semua kebutuhan Angga. Agita memegang cek yang semalam di berikan angga ia tidak memiliki pilihan lain selain menerima cek itu.
Setelah semuanya telah selesai Agita pergi ke tempat kerjanya dengan menggunakan taksi.
Agita kini telah sampai di tempat kerjanya seperti biasa ia mengganti pakaiannya dengan pakaian sebagai waiter.
Gina mendekati Agita ia menanyakan kabar Agita, dan juga kabar ibunya. karna Gina melihat mata Agita sahabatnya itu bengkak seperti habis menangis semalaman.
"Kamu gak apa-apa kan Git?"
Agita menatap Gina dengan wajahnya yang kebingungan karna pertanyaan Gina.
"Maksud kau apa gin, kita kan sering bertemu di tempat kerja dan kau lihat kan kalau aku baik-baik saja"
"Kau benar gak apa-apa?, yakin gak mau cerita ke aku gitu"
Agita semakin kebingunan dengan ucapan Gina.
Gina yang melihat ekspresi wajah Agita. Gina menanyakan langsung pada Agita.
"Sebenarnya kau kenapa, lihat matamu bengkak begitu seperti baru habis menangis?"
"ah mataku kelilipan semalam sampai sakit makanya aku gak tahan aku mengucek mataku sampai keluar air mata"
Agita melihat kalau Gina tidak mempercayai alasannya.
"Beneran gin, aku gak bohong"
"Kenapa sih git, kau gak mau cerita sama aku. kau gak percaya sama aku?, kalau kau gak percaya kenapa kita menjadi sahabat kalau gak mau saling berbagi cerita"
"Gak gitu gin. kau tetap sahabatku dan kau sahabatku yang terbaik"
"Kalau memang seperti katamu trus kenapa kau gak mau cerita ke aku tentang masalahmu saat ini"
" aku bakal cerita semua sama kau gin, tapi belum skarang aku harap kau mengerti gin"
"iya aku paham dan aku gak akan memaksamu untuk cerita padaku".
"Makasih gin, aku janji akan cerita semuanya padamu" ucap Gina sambil memeluk Gina.
*******
"Aawww.. kepalaku sakit skali " ucap Angga sambil memegang kepalanya dan dengan perlahan ia membuka matanya.
Angga melihat sekelilingnya ia merasa aneh dengan tempat ini.
__ADS_1
"Ini di mana?, kenapa aku tidur di sini?" ucap Angga dengan masih memegang kepalanya ia berjalan menuju ke meja makan mengambil segelas air putih untuk di minumnya.
Angga masih memperhatikan setiap sudut rumah, ia merasa ini bukanlah rumahnya..
"Sejak kapan rumahku berubah begini bahkan semua yang ada di ruang tamu bukanlah barang-barangku"
Alex keluar dari kamarnya mencari keberadaan Angga di rumahnya.
"Sudah bangun kau Ngga?"
Angga kaget dengan keberadaan Alex di belakangnya. ia menatap Alex
"Sedang apa kau di sini?"
"Maksudmu apa Ngga"
"Aku tanya kau sedang apa di sini?"
"Aku mau mengambil minum"
"Apa kau mengenal tempat ini Lex" ucap Angga dengan melihat sekeliling ruangan itu.
Alex mengernyitkan alisnya mendengar ucapan Angga. Alex mengambil gelas untuk membuat kopi untuk di minumnya.
"Lex aku bertanya padamu, apa kau mengenal tempat ini?"
Angga yang mendengar ucapan Alex. dirinya mencoba mengingat kenapa ia bisa sampai di sini.
dengan pelannya ia mengingat semua, apa yang terjadi ketika ia mengingatnya dirinya menatap Alex.
'kenapa Ngga. apa kau sudah mengingat semuanya"
"iya, aku sudah mengingatnya Lex. dan aku tidak menyangka ini adalah rumahmu"
"memangnya kenapa dengan rumahku"
"rumahmu kelihatan jelek Lex" ucap Angga dengan meninggalkan Alex yang sedang berdiri meminum kopinya.
"Wuaaa kau parah Ngga. main menghina rumahku segala. asal kau tau Ngga ini rumah adalah hasil kerjaku sendiri yaa"
"iya aku tau, tapi jelek Lex, kau kan punya banyak uang belilah yang lebih besar Lex"
"Aku sudah nyaman dengan rumahku ini, dan aku gak mau menjual rumah ini"
"Siapa yang mengatakan rumah kau harus di jual?! aku kan hanya bilang belilah yang lebih besar"
__ADS_1
"Sama aja, kalau aku sudah punya rumah yang besar aku yakin rumah ini gak akan ada penghuninya lagi"
"Gampang Lex, kau cukup mencari pendamping hidup saja, jadikan dia istrimu dan buatlah banyak anak nanti kalau udah banyak baru kau tinggal di sini anak-anakmu tinggal di rumah yang besar"
Alex tak menanggapi ucapan sahabatnya sekaligus bosnya, bagi Alex dirinya sudah terbiasa dengan penghinaan Angga tentang rumahnya. namun Alex tak memikirkan itu baginya yang penting ia memiliki tempat tinggal.
Alex duduk di ruang tamu sambil menonton anggapun mengikuti Alex kini mereka berdua sedang duduk.
Alex menatap Angga di setiap gerak gerik Angga, sepertinya Angga sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa denganmu?"
"Aku gak tau Lex, masa kontrak ku bersama dengan Agita 5 hari lagi"
"Trus.."
"Alisa menginginkan agar aku mengusir Agita dari rumah"
mendengar ucapan Angga. Alex terkejut.
"Apa kau yakin akan mengusirnya Ngga"
"iya aku akan mengusirnya Lex, tapi yang membuatku pusing Alisa menginginkan aku mengusir Agita dalam 3 hari ini"
Alex terdiam, lalu ia meletakan kopinya kembali di atas meja.
"Berfikirlah baik-baik Ngga, aku gak mau kau akan menyesal nanti"
"Maksud kau apa Lex?"
"Aku hanya mengingatkan kau Angga, menurutku Agita adalah wanita baik-baik dan dia juga orangnya baik"
"Mulai lagi kan, bukannya aku sudah bilang padamu Lex kalau Agita tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Alisa"
Alex menatap Angga sahabatnya dengan tersenyum kecil, ia merasa Angga benar-benar sudah di butakan dengan cintanya pada Alisa. sehingga dirinya tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk.
"Aku tau Ngga, tapi pikirkanlah baik-baik keputusanmu"
"sudahlah Lex percuma aku bicara denganmu" ucap Angga dengan berdiri.
"Aku hanya mengingatkanmu sebagai sahabat Ngga, agar kau tidak menyesal nanti di masa depan"
Angga meninggalkan Alex. menurut Angga percuma ia punya sahabat jika sahabatnya tidak mendukungnya dirinya.
#Setelah kalian membaca ceritaku mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisannya.
__ADS_1
🙏🏻 Aku harap kalian menyukai ceritaku ini. 😊😊
dan jangan lupa berikan rate, vote, like dan coment agar author lebih bersemangat lagi up nya.