
Setelah kepergian Angga dan Alisa. Alex menatap Agita yang sedang menonton.
"Kau tidak apa-apa kan Agita?"
Agita yang mendengar ucapan Alex.ia menatap Alex "Maksudmu"
"Kau tidak apa-apa kan dengan mereka berdua"
"Oh itu, memangnya mereka kenapa?"
"maksud aku gini" sebelum Alex menjelaskan maksudnya dia apa, Agita langsung memotong ucapannya.
"Aku tidak apa-apa Lex"
"Jangan masukin ke hati git, anggap aja kau tidak mengenal mereka"
"Hahahahaha, ia Lex"
Alex dan Agita asyik dalam mengobrol hingga tak terasa waktu sudah sore Alex pamit untuk pulang.
tak berapa lama Alex pulang Agita mendapatkan telfon dari Rumah Sakit kalau Agita harus segera datang.
Agita hanya mengambil tas dan handponennya saja bahkan ia tidak mengganti pakaiannya.
sesampainya di Rumah sakit Agita masuk ke dalam ruangan ibunya. ia mendekati ibunya yang masih terbaring dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
"Ibu kenapa Zio?" tanya Agita pada adiknya tanpa mengalihkan pandangannya dari ibunya.
"kata dokter ibu makin parah kak, gak bisa menunggu lama lagi harus secepatnya mendapatkan pendonor agar segera di operasi kak" jawab zio dengan matanya yang mulai berkaca-kaca
Mendengar ucapan adiknya Agita tidak bisa menahan air matanya untuk keluar.
rasanya tubuhnya terasa remuk, tulang kakinya terasa tidak tersambung lagi. ia begitu lemas sehingga Zio menahannya ketika Agita hampir jatuh saat mendengar ucapan dari adiknya bahwa waktu ibunya untuk hidup tidak akan lama lagi jika belum mendapatkan pendonor.
"Kak, kita harus cepat mencari pendonor buat ibu. biar ibu bisa sembuh kak"
"iya zio, kita secepatnya mencari pendonor buat ibu. biar ibu bisa terselamatkan, dan kakak janji akan mencari pendonor yang cocok buat ibu" ucap Agita dengan menghapus air matanya.
Agita memegang kedua bahu zio adiknya, ia menatap zio "Kau jaga ibu zio, kakak mau keluar dulu"
"Kakak mau kemana?"
"Baiklah kak hati-hati, jaga diri kakak baik-baik"
Agita menganggukkan kepalanya dengan menatap zio dan air mata Agita terus menetes.
"Jaga ibu baik-baik, kalau ada apa-apa hubungi kakak"
"Baik kak"
Agita pergi keluar dari ruangan dan meninggalkan zio dan ibunya. Agita berjalan menuju bagian administrasi sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
ia ingin menyelesaikan bagian administrasi untuk cuci darah ibunya namun ketika ia melihat jumlah yang harus di siapkan, Agita terkejut melihat nominalnya.
Dimana aku harus mencari uang sebanyak itu tabunganku sudah menipis bahkan gajiku tidak cukup untuk membayar biayanya.
Agita terdiam ia tidak tau lagi apa yang harus ia perbuat. orang yang bisa di mintai tolong hanyalah suaminya, dan ia harus menuruti permintaan suaminya baru bisa mendapatkan uangnya.
Agita duduk di kursi tunggu bagi pasien untuk mengantri, ia diam dalam kesedihannya ia tidak tau kesalahan apa yang ia perbuat sehingga cobaan selalu berdatangan dalam hidupnya.
Rasanya Agita tidak sanggup lagi menghadapinya namun dirinya harus kuat demi adiknya dan juga ibunya. jika ia menyerah dengan hidupnya lantas bagaimana dengan nasib Zio dan juga ibunya ketika di tinggalkan.
Agita saat ini benar-benar terpuruk dengan masalah hidupnya, ia membutuhkan sandaran untuk ia mengaduh semua keluh kesahnya bahkan ia ingin berbagi kesedihannya dengan orang lain, tapi apa boleh di kata yang saat ini ia butuhkan adalah suaminya untuk menguatkannya namun suaminya tak mencintainya bahkan suaminya terang-terangan dengan kekasihnya di hadapannya.
Agita berdiri dari tempat duduk ia berjalan menuju ruangan di mana ibunya di rawat. Agita hanya melihat dari luar lewat kaca yang ada di pintu ruangan itu, ia menatap ibunya dan zio bergantian.
"Aku harus kuat, aku tidak boleh menyerah, aku tidak boleh terlihat menyedihkan di depan Zio dan ibu, jika aku menyerah siapa yang akan menguatkan zio, sedangkan yang di miliki zio hanya aku selain ibu" batin Agita sambil menangis sesegukkan.
Agita meninggalkan rumah sakit ia berjalan tanpa arah ia tidak tau apa yang harus ia lakukan dalam keadaan ini. Agita duduk sambil menatap ke atas melihat langit yang di hiasi oleh terangnya bulan dan bintang.
Agita mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara tawa yang begitu bahagia dan ia menatap anak yang tertawa penuh keceriaan itu. itu adalah salah satu keluarga yang duduk di taman yang di penuhi dengan canda tawa mereka.seketika Agita mengingat masa kecilnya bersama ibu, dan ayahnya. ia merindukan suasana di mana ayahnya masih hidup dan juga ibunya yang masih terlihat sehat.
Agita tersenyum sambil menghapus air matanya yang menetes di pipinya.
"yah, aku merindukanmu, aku butuh pundakmu, aku butuh sentuhan tanganmu, aku butuh pelukanmu, aku sangat membutuhkan ayah di sisiku saat ini" ucap Agita dengan menangis.
#Setelah kalian membaca ceritaku mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisannya.🙏🏻 Aku harap kalian menyukai ceritaku ini. 😊😊
__ADS_1
dan jangan lupa berikan rate, vote, like dan coment agar aku lebih bersemangat lagi up nya.
terima kasih buat kalian yang masih setia dengan cerita novelku.🤗