
Angga begitu bahagia bertemu dengan Alisa kekasihnya. namun tiba-tiba pikirannya masih teringat dengan pria yang bertemu dengannya saat menuju ke arah kamar Alisa.
Tapi Angga membuang jauh-jauh pikiran negatifnya terhadap alisa kekasihnya. ia tetap percaya bahwa tidak mungkin Alisa akan berkhianat padanya.
Angga tengah berbahagia saat ini berbeda dengan Agita istrinya. Agita bergegas melebarkan langkahnya dan berlari ketika mendengar kabar bahwa ibu Agita semakin hari semakin para dan ia harus mendapatkan pendonor segera mungkin.
Agita sampai di rumah sakit ia menemui adiknya dan ibunya yang tidak sadarkan diri. ia begitu terpukul melihat ibunya yang sudah terlihat lemah tak sadarkan diri.
dokter mengajak Agita agar menemuinya di dalam ruangannya.
"Nona Agita ada yang ingin saya bicarakan dengan nona Agita tentang perihal ibu anda, mari kita bicarakan ini di dalam ruangan saya" ucap dokter pada Agita dengan berjalan mendahului Agita.
Agita mendengar ucapan dokter ia mengikuti langkah dokter menuju ke dalam ruangannya.
dokter menjelaskan dengan panjang lebar tentang perihal ibunya. bahwa ibunya harus mendapatkan pendonor secepat mungkin, karna semakin hari penyakit ibu Agita semakin parah.
Agita keluar dari ruangan dokter dengan langkahnya yang pelan dan melemah seakan ini bagaikan mimpi buruk baginya.
Agita berjalan menuju ke ruangan ibunya di rawat di dalam ruangan itu sudah ada adiknya yang sedang duduk di dekat tempat tidur ibunya.
Zio melihat pintu ruangan itu di buka ia mengalihkan pandangannya ke pintu dan menatap Agita yang masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang di katakan dokter kak?, apa ibu baik-baik saja" tanya Zio pada sang Kaka yang tak lain adalah Agita
Agita masih menatap ibunya yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Kata dokter kita harus secepatnya mendapatkan pendonor zio, kalau tidak dokter tidak bisa menjamin ibu akan selamat dan bertahan" ucap Agita dengan air mata yang menetes di pipinya.
Zio yang mendengarkan ucapan kakanya ia menatap agita kakaknya dan juga ibunya.
Zio berencana mendonorkan ginjalnya namun di tolak oleh dokter umurnya masih tergolong masih muda.
begitupun dengan Agita dirinya sudah menemui dokter dan melakukan tes hasilnya bahwa ginjal Agita tidak cocok dengan ginjal milik ibunya.
Agita tidak tau harus berbuat apa, dimana ia harus mencari pendonor buat ibunya, di rumah sakitpun masih kosong. Agita tidak bisa membendung air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Gina yang melihat Agita pergi dengan terburu-buru ketika mendapatkan telfon. bahkan ia tidak pamit ke Bu Yeni.
"Ada apa dengan Agita, kenapa ia terlihat sangat khawatir dan buru-buru pergi?".
Gina yang merasa khawatir menelfon seseorang
"Hallo..."
"Ada apa Gin. kenapa kau menelfonku"
"Aku merasa khawatir pada Agita"
Pria di sebrang yang di telfon Gina langsung berdiri dari tempat duduk ketika mendengar nama Agita"
"Ada apa dengannya Gin?" tanya pria itu
"Agita menerima telfon entah dari siapa, ia berlari keluar dari restoran bahkan tidak berpamitan ke Bu Yeni" jawab Gina
"Apa Agita pernah mengatakan sesuatu padamu?"
"Iya, Agita pernah mengatakan bahwa ibunya sedang sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit"
"Kenapa aku bisa melewati masalah ini, kenapa aku tidak mengetahui jika Agita saat ini memiliki masalah bahwa ibunya sedang di rawat" batin pria itu.
"Okey Gina, makasih sudah menghubungiku dan memberitahukan berita ini"
"eetss tapi gak gratis yaa kak EN" ucap Gina dengan tersenyum
"Iya, nanti ku transfer jajanmu" jawab pria itu
"Makasih kak EN"
Pria misterius itu bernama EN ia dan Gina saling mengenal bahkan lebih dekat. namun pria itu masih menyembunyikan identitasnya tidak ingin di ketahui orang lain apalagi Agita.
Pria itu mengakhiri telfonnya, kini ia menghubungi pihak rumah sakit yang di katakan Gina bahwa ibunya Agita di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah menelfon pihak Rumah sakit EN mengetahui semua yang di hadapi Agita pasca tentang ibunya yang sakit. dan EN berusaha akan membantu Agita dengan mencarikan pendonor secara diam-diam.
Sedangkan di restoran Gina menghendel semua pekerjaan Agita bahkan ia menghadapi Bu Yeni yang mengoceh karna Agita pergi keluar tanpa pamit padanya. Gina memberikan alasan dan pembelaan pada Agita biar Bu Yeni tidak memarahi Agita ketika ia masuk kerja nanti.
******
Angga telah sampai di rumah Ken dan ia melihat Alex sedang duduk sambil memainkan handponennya. Angga mendekati Alex
"Ken mana?"
"Di kamarnya"
"aku ke atas dulu"
ketika Angga berjalan menuju ke kamarnya ia melewati sebuah sebuah ruangan yang sudah di katakan oleh Ken bahwa ruangan itu di larang untuk di masuki.
Angga melihat ruangan itu dirinya penasaran ia berjalan mendekati pintu ruangan itu namun sebelum ia memegang gagang pintu ruangan itu ia menengok kiri kanan melihat apakah ada seseorang di sekitarnya, dirinya tidak ingin ketahuan ketika masuk ke dalam ruangan itu.
ketika Angga hendak membuka pintu itu Ken datang dan menatap Angga.
"Sedang apa kau?
Angga yang mendengar suara seseorang ia berbalik dan menatap Ken sambil tersenyum.
"Gak ngapa-ngapain Ken"
"Trus kenapa kau berdiri di depan ruangan itu?"
"aku hanya penasaran aja Ken" ucap Angga dengan tersenyum
"Hilangkan rasa penasaranmu itu, sudah aku katakan jangan pernah mendekati ruangan itu" ucap Ken dengan tegas dan tatapan yang tanpa ekspresi.
Angga meninggalkan Ken yang sedang berdiri ia pergi menuju kamarnya. untuk istrahat.
#Setelah kalian membaca ceritaku mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisannya.🙏🏻 Aku harap kalian menyukai ceritaku ini. 😊😊
__ADS_1
dan jangan lupa berikan rate, vote, like dan coment agar aku lebih bersemangat lagi up nya.
terima kasih buat kalian yang masih setia dengan cerita novelku.🤗