
Setelah makan malam Agita dan Deon berada di kamar, Agita membacakan sebuah dongeng buat putranya.
Sedangkan Angga berada di ruang keluarga bersama dengan tuan Aji.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Alhamdulillah untuk saat ini baik Pi"
"Gak ada masalah kan di perusahaan?"
"Gak ada Pi, semua baik-baik saja"
" bagus kalau baik-baik saja"
Ny.Amel pun bergabung dengan suaminya dan juga putranya. setelah ia beberes sisa makan malam.
"Pi...."
"Hmmm"
"Mami belum ikut ya, mami mau disini dulu jagain Agita dan juga Deon"
"Papi terserah mami saja, tapi kalau itu menyangkut menantu dan cucuk papi. papi gak akan memaksa mami ikut pulang bersama dengan papi"
Angga yang mendengarkan apa yang maminya katakan terkejut.
"Apa! mami masih mau tinggal di sini?"
"Kenapa, kamu gak setuju mami tinggal di rumah ini?"
"Bukan begitu mi, tapi kan usia kandungan Agita sudah 6 bulan jadi Angga bisa menjaganya mi"
"Gak, pokoknya mami mau tinggal di sini karna bentar lagi Agita mau lahiran" ucap Ny.Amel dengan menatap Angga.
"Bukankah apa yang di katakan mamimu itu benar Angga. papi setuju dengan apa yang mami kamu katakan"
"Tapi Pi"
"Gak ada tapi-tapian Angga. keputusan mami udah bulat"
"Kenapa sih gak ada yang mengerti dengan perasaanku" ucap Angga dengan wajah ingin menangis.
"Mami udah mengerti kamu Angga. dengan membantu kamu menjaga istrimu, Agita."
"Udah lah aku mau tidur" ucap Angga dengan beranjak dari duduknya.
Sebelum Angga melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruang keluarga, Ny.Amel memanggilnya
"Angga.."
"Ada apa lagi mi?"
"Malam ini mami tidur bersama dengan kalian"
"Terserah mami"
Angga pergi menuju ke kamarnya dengan wajah kesalnya., sesampainya di kamar Angga melihat Agita sedang memeluk putranya, Deon. sambil membacakan dongen.
Agita menatap suaminya, lalu ia mengakhiri dongen yang di bacanya.
"Kamu kenapa mas?" tanya Agita.
Angga mendekati Agita dengan mencium putranya yang tengah tertidur lalu mencium Agita.
"Aku kesal sama mami"
__ADS_1
"Kenapa dengan mami mas?"
"Dari awal kamu hamil aku mengalah sama mami dengan membiarkan mami tidur bersamamu"
"Memangnya kenapa kalau mami mau tidur di sini lagi, kan enak biar kamu bisa tidur mas"
"Kenapa sih semua orang gak ngertiin aku"
"Aku mengerti koq dengan perasaan kamu"
"Kalau gitu jangan biarkan mami tidur di kamar ini beberapa hari" ucap Angga dengan mulai berkaca-kaca matanya.
"Aku gak tau ada apa denganmu dan mami mas, tapi kamu gak boleh seperti itu mas"
"Sayang bantuin bilang ke mami kalau malam ini kita tidur berdua saja"
Agita yang melihat sikap Angga, menjadi Bingung karna malam ini mereka memang akan tidur tanpa mami, karna mami akan menemani papi.
"Sayang bilangin ke mami yaa" ucap Angga dengan merengek-rengek sambil menatap wajah Agita.
"Mami kan malam ini tidur dengan papi mas"
Angga yang mendengar apa yang Agita katakan langsung menatap Agita, Angga yang semula mulai pasrah jadi bersemangat lagi.
"Benarkah sayang, kamu gak bohong kan?"
"Iya mas, kan papi ada dan mami gak seharusnya tidur bareng kita. kalau mami tidur dengan kita trus papi dengan siapa, memangnya kamu mau tidur dengan papi malam ini mas?"
"Aku gak mau sayang" ucap Angga dengan tersenyum
"Kenapa mas, kan sekali-skali kamu tidur dengan papi"
"Aku gak mau, karna aku mau menjenguk anakku" ucap Angga dengan menatap perut buncit Agita.
"Tapi malam ini kita tidur bertiga loh mas" ucap Agita dengan mengalihkan tatapannya dari Angga ke putranya, Deon.
Namun Angga tersenyum kembali ketika mendapatkan ide di otaknya.
Angga membisikan idenya ke istrinya, Agita tersenyum mendengar apa yang Angga bisikan.
Ketika Agita ingin melepaskan pelukan Deon padanya. Deon malah mengeratkan pelukannya dan itu membuat Angga kesal.
Angga mengambil alih dengan membantu Agita melepaskan pelukan Deon, dan pelukan itu terlepas. Angga merasa lega dan senang.
Ketika Angga dan Agita berencana untuk pergi ke kamar Deon. tiba-tiba Angga membuka pintu untuk keluar Deon bangun dengan memanggil Agita.
"Mommy...." Panggil deon dengan mengusap-usap matanya untuk memperjelas penglihatannya.
Agita yang mendengar Deon memanggilnya, Agita langsung berbalik dan menghampiri Deon.
"Kesayangan mommy udah bangun?"
"Mommy mau kemana?"
Ketika Deon menanyakan Agita mau kemana, Agita langsung menatap Angga yang sedang berdiri dengan wajah kesalnya.
"Mommy gak kemana-mana sayang"
"Mommy jangan tinggalin Deon ya, Deon mau tidur sambil di peluk mommy"
"Iya sayang, mommy gak akan meninggalkan Deon"
Ibu dan anak itu saling berpelukan sedangkan Angga begitu kesel dan itu kelihatan di wajah Angga.
Agita hanya tersenyum menatap Angga.
__ADS_1
"Maaf mas, aku gak bisa Deon membutuhkan aku" ucap Agita dengan suara kecilnya.
Dengan kesal Angga mendekati Agita dan tidur di belakang Agita dengan membelakangi Agita.
Agita tersenyum melihat sikap suaminya yang seperti anak kecil. ia tidak tau pa yang terjadi dengan suaminya, semakin hari sikap Angga seperti anak kecil, selalu ngambekan.
Beberapa menit kemudian Angga berbalik dan memeluk Agita.
Agita yang di peluk oleh Angga. kaget karna ia merasakan sesuatu di belakangnya.
"Mas..." panggil Agita.
"Hmmmm"
"Aku seperti merasakan sesuatu mas?"
"Kenapa, apakah anak kita bergerak dan menendang-nendang lagi sayang?"
"Bukan mas"
"Trus apa sayang?"
"Aku merasa ada sesuatu yang keras menempel di belakangku" ucap Agita.
Angga bangun dan mencari sesuatu yang di katakan Agita, istrinya itu.
"Mana sayang gak ada apa-apa"
"Benarkah?"
"Iya gak ada apa-apa di sini sayang"
"Ya sudah kalau begitu mas, kamu istrahat lagi"ucap Agita
Angga pun menuruti apa yang Agita katakan, Angga sudah menyerah dengan dirinya ingin menjenguk anaknya di tempat lain, karna saat ini banyak penghalang untuk dirinya.
Angga pun tidur kembali di samping Agita dengan memeluk Agita.
Ketika Angga memeluk Agita dengan erat, saat itulah Agita merasakan sesuatu yang keras seperti apa yang ia rasakan sebelumnya.
"Mas...."
"Ada apa lagi sayang" tanya Angga dengan suara yang lesuh
Agita menatap Angga.
"Mas, aku merasakan sesuatu yang aneh"
"Sudahlah sayang, kamu tidur aja lagi nanti Deon bangun" ucap Angga dengan mencium wajah Agita lalu menyuruh Agita agar menghadap ke Deon putra mereka lagi.
Agita pun menuruti apa yang suaminya katakan, tapi sesuatu itu masih saja di rasakan Agita. karna merasa tidak tenang Agita memberanikan dirinya dengan mencarinya.
Ketika Agita menyentuhnya, Angga malah merasa keenakan sedangkan Agita mencari-cari apa yang ia pegang. sampai akhirnya Agita memegangnya dengan erat dan Angga berteriak karna kesakitan.
"Aaww .."
"Kenapa mas?" tanya Agita dengan melepaskan tangannya.
"Kamu memegangnya terlalu erat sayang" ucap Angga dengan menunjuk ke bawah.
Agita yang masih bingung, memutuskan untuk mengikuti apa yang Angga tunjuk dan ketika Agita melihatnya Agita berteriak.
"Mas, itu" ucap Agita dengan menggigit bibirnya.
"Iya itu si boy yang kamu pegang tadi sayang"
__ADS_1
"Kenapa kamu gak ngomong ketika aku bertanya tadi mas"
"Aku gak tau kalau yang kamu maksud itu si boy sayang"