
Karena ingin menenangkan pikirannya, Andika pergi ke Restoran cepat saji, sekaligus untuk mengisi perutnya yang kosong. Turun dari mobil, Andika langsung berjalan ke tempat pemesanan makanan, Saat hendak mengambil buku menu tiba-tiba ada seseorang perempuan yang tidak sengaja sama-sama menarik buku menu tersebut.
"Maaf.. Maaf kamu duluan saja" ucap Andika
"Ka Andika?" ucap Dewi
"Em.. Dewi kamu makan disini juga?" tanya Bima
"Iya kak aku makan disini, tadi sekalian lewat, kakak mau pesan apa sekalian aja" ucap Dewi. sambil membuka-buka buku menu.
"Iya boleh" ucap Andika.
Setelah memesan Menu makanan, mereka pun mencari tempat duduk dan duduk bersama.
"Ka, apa Dewi boleh bertanya?" ucap Dewi
"Tanya saja Dewi" ucap Andika.
"Kakak sedang menghindariku ya? Apa semua gara-gara kak Bima?" Tanya Dewi.
"Ah.. Tidak itu hanya perasaan kamu saja" ucap Andika mengalihkan pandangan matanya.
"Aku minta maaf kak" Dewi menundukkan kepalanya.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Andika.
"Minta maaf untuk kesalahan ku, aku memang salah kak, aku minta maaf" ucap Dewi
"Tidak ada yang salah dalam Cinta, aku hanya kurang beruntung saja" ucap Andika.
"Maksud kakak?" Dewi kebingungan
"Tidak apa-apa, sudahlah kamu tidak salah, jadi untuk apa menyalahkan dirimu sendiri" ucap Andika.
"Tapi kakak menghindariku kan?" Dewi memberanikan diri menatap Andika.
"Tidak, itu hanya karena kesibukan aku saja" ucap Andika membalas tatapan Dewi.
Tiba-tiba Handphone Dewi berdering, Dewi pun langsung menjawab telpon tersebut.
"Hallo Assalamualaikum" ucap Dewi
"Waalaikummusalam, mbak Dewi ini Bibik, Mas Bima pingsan dikamar mbak, mulut nya mengeluarkan darah" ucap Bibik (Asisten rumah tangga) di apartemen Bima.
"Apa... Mengeluarkan darah, Bibi jangan panik, Sekarang Bibik telpon Ambulans, langsung bawa kak Bima ke Rumah sakit, jarak aku dengan Apartemen kak Bima lumayan jauh aku takut tidak bisa sampai cepat kesana, Bibi telpon Ambulans nanti kita bertemu di Rumah Sakit" ucap Dewi dengan tubuh yang bergetar namun masih mencoba mengontrol dirinya.
"Baik mbak, kalau begitu Bibik telpon Ambulans dulu, Assalamualaikum" ucap bibi mematikan telepon nya.
"Kak maaf Dewi harus pergi" ucap Dewi membereskan Tasnya.
"Ada apa? Bima kenapa?" tanya Andika
__ADS_1
"Kak Bima pingsan dan mengeluarkan darah, Aku mau kerumah sakit langsung" ucap Dewi
"Kalau gitu biar aku yang antar" ucap Andika beranjak dari duduknya nya.
"Tidak perlu kak, kakak kan mau makan, nanti merepotkan kakak" ucap Dewi.
"Bagaimanapun Bima sahabat aku dan Satya juga" ucap Andika.
Mereka pun berjalan bersama kerumah sakit, di sepanjang perjalanan terlihat kalau Dewi sangat mencemaskan Bima, beberapa kali Dewi meremas jari-jari tangannya.
"Semua akan baik-baik saja, kamu yang sabar" ucap Andika.
"Amin.." ucap Dewi.
Karena mengalami kemacetan, mereka pun telat sampai di Rumah sakit, terlihat Bibik sedang duduk di depan ringan UGD.
"Bik... Bagaimana keadaan Ka Bima?" ucap Dewi berlari ke arah Bibik
"Mas Bima masih di periksa mbak" ucap Bibik yang terlihat mencemaskan Bima.
"Kak Bima pasti sehat kembali Bik" ucap Dewi mengusap punggung bibi
"Mas Bima anak yang baik mbak, dia sangat menyayangi keluarga walaupun keluarganya tidak memperhatikan dia, orang tua mas Bima hanya memperdulikan perusahaan mereka tanpa mereka tau kalau mas Bima sedang sakit" ucap Bibik.
"Jadi orang tua kak Bima juga tidak tau kalau kak Bima sakit?" Tanya Dewi.
"Tidak, untuk bertemu anaknya saja mereka sulit, mereka hanya memberikan harta untuk anak-anak nya tanpa memberikan kasih sayang, jadilah mbak Bella yang tumbuh dengan keegoisan nya" ucap Bibik meneteskan Air matanya.
"Bibik yang mengurus mereka dari kecil, tapi sekarang Bibik merasa gagal tidak bisa mengurus mereka dengan baik" sambung bibi meneteskan air matanya.
"Mbak Gadis yang sangat baik, pantas saja Mas Bima sangat mencintai mbak, semoga kalian bisa bersatu ya mbak" ucap BiBik
Dokter keluar dari ruang UGD
"Maaf ada yang namanya Dewi dan Andika?" tanya Dokter
"Saya Dok" ucap Dewi dan Andika berbarengan.
"Ikut saya kedalam, pasien ingin bertemu" ucap Dokter.
Dewi dan Andika pun berjalan mengikuti Dokter.
"Kalau gitu saya tinggal dulu, waktunya 10 menit ya mas, mbak, karena pasien masih butuh Istirahat" ucap Dokter beranjak meninggalkan mereka.
"Baik Dok Terimakasih" ucap Andika.
"Kak Bima.." ucap Dewi menyentuh tangan Bima
"Dewi, Andika" ucap Bima terbata-bata dan sedikit tidak jelas karena tertutup Oxigen
"Iya.. Gue disini" ucap Andika
__ADS_1
"Gue ehmm mau Titipkan Dewi sama Lo" ucap Bima lemah
"Kak Bima kenapa bicara seperti itu" ucap Dewi meneteskan air matanya.
"Andika Tolong... Kalian menikah" ucap Bima
"Menikah!!..." ucap Dewi dan Andika berbarengan
"Iya.. Dewi.. aku mohon menikahlah dengan Andika, dia sangat mencintaimu dan dia laki-laki yang sangat baik, dia bisa menjaga mu" ucap Bima dengan terbata-bata
"Tapi kak, aku dan kak Andika" ucap Dewi terpotong.
"Dia tidak mencintai gue Bima, yang dia Cinta Lo, jadi Lo harus berjuang" ucap Andika
"Aku tidak bisa terus berada di samping kamu aku mohon, ini permintaan terakhir ku" ucap Bima meneteskan air matanya.
"Itu tidak mungkin kak" ucap Dewi menangis.
"Tolong Dewi kabulkan permohonan terakhir ku, aku ingin melihat kalian menikah, aku ingin kamu ada yang menjaga dengan baik" ucap Bima.
"Tapi aku tidak bisa kak" Dewi menangis sambil menggenggam tangan Bima
"Dewi tatap mata aku" ucap Bima, Dewi pun menuruti kata-kata Bima untuk menatap matanya, menatap wajahnya yang sangat pucat dan lemah.
"Aku mohon Dewi, maafkan aku tidak bisa menjagamu" ucap Bima
"Kakak tolong stop jangan bicara seperti itu" ucap Dewi memalingkan wajahnya.
"Menikahlah dengan Andika, dia sangat mencintaimu Dewi" ucap Bima lembut.
"Bima jangan paksa Dewi, dia juga berhak bahagia, Lo harus berjuang Lo harus sembuh dari penyakit Lo" ucap Andika.
"Gue sudah berjuang, Gue mau sembuh, tapi semua sia-sia gue gak mau berharap lagi, karena itu gue mau Lo menjaga Dewi" ucap Bima terbata-bata.
"Aku mau menunggu kak" ucap Dewi
"Sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu" ucap Bima tiba-tiba sesak nafasnya dengan mata yang mulai menutup
"Kak , kak Bima.. Kaka engga apa-apa kan, kak, Kak Andika tolong panggil dokter" teriak Dewi panik. Andika pun langsung memanggil Dokter.
Tidak lama Dokter muncul dan langsung menangani Bima.
"Maaf pak, Buk , Biar Dokter yang tangani kalian keluar dulu" ucap Suster pada Andika dan Dewi.
Dewi masih setia menggenggam tangan Bima, Andika pun memegang pundak Dewi untuk membawanya keluar.
"Tolong Kabulkan permohonan terakhir ku" Hanya kata-kata yang keluar dari mulut Bima tanpa mengeluarkan Suara. Andika yang melihat itu menganggukkan kepala nya.
"Kita keluar dulu Dewi biar dokter yang menangani Bima" ucap Andika
"Tapi aku mau disini menemani kak Bima" ucap Dewi.
__ADS_1
"Dewi menurut lah" ucap Andika, Dewi pun beranjak berdiri mengikuti Andika.
Bersambung.