
Arka dan Satya berada di restoran, mereka baru saja menyelesaikn meeting siang mereka.
"Bagaimana rencana pernikahan mu? Umi dan Abi selalu menanyakan kabar, kapan abang akan melaksanakan pernikahan?" tanya Satya pada Arka, namun Arka hanya terdiam saja, tidak menjawab pertanyaan dari Satya.
"Bang.. Ayolah Raya sudah menunggu mu sangat lama, dia gadis yang baik juga, kenapa kamu selalu ragu untuk menikahi Raya, padahal kalian sudah menjalani hubungan cukup lama, jangan sampai kamu menyesal setelah dia pergi bang" sambung Satya.
"Aku pasti akan menikahi Raya, tapi aku masih bingung, Raya terlalu posesif, tapi kadang dia cuek, aku bingung aku itu apa untuk nya, aku juga jadi ragu dia benar-benar serius atu tidak" ucap Arka.
"Apa abang pernah tanya kenapa Raya seperti itu, hubungan harus di landasi dengan keterbukaan, tidak bisa kalau hanya mengira-ngira apalagi mengandalkan ego masing-masing, rumah kalian dekat, untuk bertemu pun sangat mudah banyak akses, tapi kulihat kalian asik dengan kegiatan kalian masing-masing" ucap Satya
"Bukan begitu Satya, tapi aku" ucap Arka tertahan, seolah ada kata yang tidak bisa dia jelaskan.
"Ayolah bang, kamu laki-laki kamu yang harus memulai, buang ego mu, mulai lah jngan sampai Raya pergi abang baru menyesal, jangan stuck di masa lalu bang, jangan bawa masa lalu kedalam masa sekarang, itu mustahil" ucap Satya seolah tau apa yang sedang di fikirkan oleh Arka.
"Aku pasti akan memulainya Satya" ucap Arka
"Harus dan secepatnya" ucap Satya.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang mereka pun kembali ke kantor, untuk menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.
...----------------...
Berbeda tempat berbeda cerita, Sandra dan Raya sedang berjalan menuju, ruangan Dewi, mereka berniat untuk mengajak Dewi makan siang bersama.
"Dek.. Ayo makan" ucap Raya membuka pintu ruangan Dewi tanpa mengetuknya, karena bagi mereka itu sudah biasa.
"Kak, mbak" ucap Dewi melihat Raya dan Sandra dari arah pintu luar.
"Wah wah wah, mentang-mentang pengantin baru, ternyata dia sudah makan siang duluan Sand, aku sampai lupa kalau adek kita yang satu ini sudah punya suami" ucap Raya pada Sandra.
"Iya tidak apa-apa lagi pula ini kantor istri mu juga" ucap Sandra tersenyum.
"Sini-sini masuk kak, mbak, kak Bima bawa makanan yang cukup banyak, sepertinya cukup untuk kita makan bareng-bareng" ucap Dewi menghampiri kedua kakak nya.
"Emm sepertinya tidak usah deh ya.. Kita tidak mau mengganggu acara makan nya pengantin baru" ucap Raya.
__ADS_1
"Kakak, ayolah sini" ucap Dewi.
"Tidak usah Dek, kita mau cari makan diluar, aku sedang ingin makan yang manis-manis juga" ucap Sandra pada Dewi.
"Baiklah kalau gitu" jawab Dewi
"Kalau gitu kita pamit ya.. Lanjutkan adik ipar" ucap Raya memberikan kode.
"Siap kakak ipar" balas Bima.
"Sudah-sudah jangan menggoda mereka terus, ayo kita pamit" ucap Sandra.
Setelah keluar dari ruangan Dewi, terlihat Raya menjadi cemberut lagi.
"Mereka bahagia sekali kelihatannya ya Sand, kamu juga sudah mempunyai keluarga yang utuh, sedangkan aku penjelasan pun tidak ada" ucap Raya.
"Es serut mangga enak kayanya ya Ray, atau anggur gimana menurut mu?" ucap Sandra mengalihkan pembicaraan, karena dia tau menjadi Raya tidak semudah kelihatannya, apalagi dia harus selalu di paksa ceria oleh lingkunganya, tapi Sandra pun tidak tau harus berbuat apa selain menghiburnya untuk saat ini.
__ADS_1
Bersambung..