Istri Yang Tidak Di Anggap

Istri Yang Tidak Di Anggap
P2 Bab 40


__ADS_3

Lain halnya dengan Satya. Satya langsung mendekat kearah Sandra yang baru saja menidurkan baby nya.


"Sayang..." Peluk Satya dari belakang.


"Kenapa Mas??" tanya Sandra melirik Satya.


"Emm.. Kira-kira Dewi dan Bima sedang apa yaa..??" tanya Satya pada Sandra.


"Sedang apa? maksudnya? apa mereka masih berselisih mas?" tanya Sandra khawatir.


"Bukan begitu sayang, maksud ku emm .. itu.." ucap Satya


"Ada apa sih Mas? Jangan membuatku khawatir?" ucap Sandra .


"Emm itu malam pengantin??" ucap Satya.


"Ya ampun Mas, aku kira ada apa, mana aku tau Mas" ucap Sandra.


"Kamu ga mau ikut kaya mereka?" tanya Satya pada Sandra, dan tangan Satya mulai aktif.

__ADS_1


"Aku belum mandi loh mas, badan ku lengket" ucap Sandra


"Dikamar mandi juga boleh sayang??" ucap Satya semangat.


"Mas.. Kenapa dengan kamu?" ucap Sandra.


"Aku mau sayang.." Satya menatap wajah Sandra dengan tatapan memelas.


"Aku mandi dulu.." ucap Sandra mengelus pipi Satya.


"Bareng??" tanya Satya.


"Mas.. Sebentar aja.." tanya Sandra.


"Ada apa dengan suami ku ini, Kenapa kamu jadi manja sekali malam ini??" tanya Sandra.


"Aku sudah puasa seminggu sayang, apa kau tidak kasihan pada suamimu ini?" ucap Satya.


"Ini sih yang malam pertama siapa, yang ribut siapa" ucap Sandra, berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang.. Aku tidak di aja sekalian??" teriak Satya.


"Kamu bisa masuk sendiri" ucap Sandra


"Benarkah" dengan cepat Satya mengikuti Sandra masuk kedalam kamar mandi.


Entah apa yang terjadi sepertinya malam itu akan menjadi malam yang panjang bagi kedua pasangan tersebut. Pertarungan sengit entah siapa yang memenangkannya hanya mereka saja yang tau.


...----------------...


Beda hal nya dengan Mang ujang dan Bi Imah. Mereka berdua sedang berada di ruangan kerja milik papanya Sandra, yang masih rapih tersimpan semua barang-barang milik Alm, karena sengaja Sandra mau barang-barang milik papanya tidak hilang.


"Bapak, Ibu.. Entah malaikat apa yang sudah Ibu lahirkan, Non Sandra sangat baik pada kami, dia menganggap kami orang tuanya, dan menganggap Dewi sebagai adik kandungnya. Harus nya bapak dan Ibu yang merasakan kehangatan non Sandra kami tidak pantas" ucap Bi imah, dengan meneteskan air matanya.


"Kami di Beri kamar yang nyaman, Kendaraan yang bagus, ekonomi yang sangat berlebih, sampai kami malu bagaimana kami harus membalasnya, bahkan dengan keringat dan kerja keras kami puluhan tahun pun, tidak akan cukup membayarnya. Kami malu pak.. bu.. Hasil yang kami terima, tidak sebanding dengan yang kami kerjakan" ucap Bi imah kembali dengan air mata yang terus berlinang dari kedua matanya.


"Jika saja bapak dan Ibu tidak berangkat saat itu.. Jika saja bapak dan Ibu menuruti kata-kata non Sandra yang melarang pergi, mungkin Bapak dan Ibu yang akan merasakan semua ini bahkan lebih, non Sandra dan den Satya mereka orang yang baik, sama seperti bapak dan ibu, selalu menolong orang lain" ucap Bi imah kembali.


"Sudah lah buk, Bapak dan Ibu sudah tenang disana, mereka pasti sangat bahagia melihat non Sandra dari sana, Semua sudah takdir gusti Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa, jika sang pencipta ingin menemui ciptaannya" ucap Mang ujang menenangkan Bi imah.

__ADS_1


"Sekarang kita hanya harus terus berusaha menjadi lebih baik, karena kita juga tidak tau sampai kapan kita ada di dunia ini, Jangan bicara aneh-aneh kasian jika non Sandra mendengarnya." ucap mang ujang kembali, mengelus punggung bi imah. dan bi Imah menganggukkan kepalnya pelan.


Bersambung..


__ADS_2