
Malam hari Dewi tiba dirumah Sandra, Rumah yang iya tempati dari kecil karena Sandra dan Dewi tumbuh bersama disana. Dewi pulang di antar oleh Andika, karena Raya berencana untuk pergi ke rumah sakit menemui Arka.
"Terimakasih sudah mengantarkan Dewi ya kak Andika?" ucap Dewi tersenyum.
"Sama-sama itu sudah tugas saya" ucap Andika
"Kalau begitu Dewi turun dulu ya.. Ka Andika hati-hati di jalannya" ucap Dewi beranjak turun dari mobil.
"Em.. maaf apa aku boleh bertanya?" ucap Andika
"Ah iya boleh?" ucap Dewi kembali duduk seperti posisi awalnya.
"Apa kamu ingat surat apa yang kamu tandatangani tadi?" Tanya Andika
"Emm Dewi... Dewi lupa kak, sepertinya itu hanya Surat biasa" Jawab Dewi gugup.
"Apa kamu tidak bisa mengingat nya lagi?" tanya Andika lagi
"Sudah lah kak, tidak ada apa-apa ini sudah larut Dewi pamit dulu, terimakasih sudah mengantar Dewi Assalamualaikum" ucap Dewi turun dari mobil Andika dan berlari memutari mobil Andika untuk masuk ke dalam rumah.
"Jika Ada sesuatu yang mencurigakan, kamu boleh beritahu aku" ucap Andika. menjalankan mobilnya.
"Baik kak" ucap Dewi tersenyum dan melambaikan tangannya.
Dewi masuk ke dalam kamar, setelah membersihkan badannya dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur
"Sebenarnya siapa pria itu? kenapa dia memaksaku untuk menandatangani surat itu? apa kita kenal sebelumnya? Lalu apa yang mau dia lakukan dengan surat itu?" ucap Dewi menatap langit-langit kamarnya.
"Sekarang aku harus bagaimana??" ucap Dewi lagi menghembuskan nafasnya kasar.
Disisi lain, Sandra sedang memandangi anaknya yang tertidur di atas box bayinya.
"Sayang.. Ayo kita tidur, ini sudah larut malam" ucap Satya memeluk istrinya dari belakang.
"Aku belum ngantuk mas, aku masih membayangkan kejadian tadi, kalau saja kamu tidak cepat menemukan Dewi dan baby Satria, apa yang akan terjadi pada mereka" ucap Sandra sendu.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak berfikir yang berat-berat, nanti kamu stres, kasian baby Satria, kita serahkan saja semuanya pada semesta, dan aku juga sudah menyuruh pihak berwajib dan anak buah ku melacak siapa orang yang mau menculik mereka" ucap Satya menciumi pundak Sandra tanpa kerudung.
"Mas, geli" ucap Sandra.
"Apa kamu belum mau tidur?" tanya Satya
"Belum Mas, aku belum ngantuk" ucap Sandra
"Kalau gitu bagaimana, kalau kita melakukan sesuatu yang sudah tertunda selama berbulan-bulan?" ucap Satya.
"Maksud nya ? aku tidak mengerti?" ucap Sandra polos.
"Kitakan sudah melaksanakan ijab qobul kedua itu artinya kamu sudah SAH menjadi istriku, dan kita bisa bebas melakukannyaz aku sudah tidak tahan lagi kalau harus menundanya " bisik Satya penuh arti.
"Dasar mesum" ucap Sandra berlari meninggalkan Satya dan dengan cepat Satya menangkap Sandra kembali.
"Ayolah sayang.. Dosa loh menolak keinginan Suami? apa kamu tidak kasihan pada suamimu ini" ucap Satya penuh iba.
"Kamu kenapa berubah jadi mesum begini sih Mas?" ucap Sandra.
"Aaa.. Mas.. pelan-pelan" ucap Sandra.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati sayang" ucap Satya
Seolah mendapatkan lampu hijau Satya langsung melancarkan aksinya, untuk memenuhi kebutuhannya yang tertunda selama berbulan-bulan, jadilah malam itu malam yang panjang untuk mereka berdua, walaupun harus terjeda karena baby Satria yang menangis.
----------------------------------------------------
Pagi hari Arka terbangun, dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya, Arka mengamati keseliling ruangan, tidak sengaja dia melihat Raya sedang tidur di sofa.
"Raya.. Apa dia tidur disitu semalaman?" ucap Arka hendak bangun namun tidak sengaja tangan nya menyenggol sendok yang ada di pinggir nakasnya.
Prang.. (Suara sendok jatuh).
Sentak saja membuat Raya bangun.
__ADS_1
"Ah.. bang Arka? Abang sudah bangun? Abang mau apa , biar Raya bantu?" ucap Raya buru-buru mendekati Arka.
"Apa kamu tidur di sofa semalaman?" tanya Arka tanpa menjawab pertanyaan Raya sebelumnya.
"Iya.. Aku khawatir" ucap Raya.
"Apa yang perlu kamu khawatir kan , harusnya aku mati saja saat itu, mungkin itu lebih bagus, hidupun tidak akan ada yang memperdulikan orang jahat sepertiku" ucap Arka
"Bang Arka salah, semua orang masih memperdulikan bang Arka, adik-adik Abang, Satya Sandra mereka mengkhawatirkan kondisi Abang, bahkan Umi dan Abi pun berniat pulang sesegera mungkin karena mendengar kondisi mu, dan perselisihan kalian" ucap Raya duduk di ranjang Arka.
"Mereka datang juga paling hanya untuk menyalahkan aku, kau jangan terlalu membuatku merasa di anggap, posisiku sudah tidak penting setelah kehadiran Satya" ucap Arka.
"Jika mereka menganggapmu begitu tapi aku tidak, aku menganggapmu penting aku peduli sama kamu" ucap Raya.
"Jangan berlebih Raya, kau tau kan aku lelaki seperti apa? aku bahkan memanfaatkan kamu demi kepentinganku kemarin" ucap Arka.
"Aku tidak peduli, aku yakin kamu akan berubah, kamu tidak akan melupakan janjimu kan ?" ucap Raya menatap Arka.
"Maaf Raya, hatiku sudah diambil oleh orang lain, aku mengingkari janjiku" ucap Arka memalingkan wajahnya.
"Tapi dia bukan milikmu" ucap Raya.
"Aku tau, walaupun aku tidak bisa memilikinya, aku juga belum mau menaruh hatiku pada wanita lain, aku takut mengecewakanmu Raya" ucap Arka
"Aku siap Kecewa, aku sudah memiliki perasaan padamu, saat pertama kali kita bertemu, Aku yakin kamu akan berubah" ucap Raya.
"Jika aku tidak berubah?" tanya Arka menatap Raya.
"Setidaknya kita coba dulu saja, aku tidak akan memaksa jika kau tidak bisa" ucap Raya.
"Baiklah, tapi jika kau tak sanggup lebih baik lupakan aku saja" ucap Arka dan Raya menganggukkan kepalanya.
Raya adalah wanita yang keras, dia akan memperjuangkan apa yang dia mau, dia tidak akan mengaku kalah sebelum mencobanya.
**Bersambung.
__ADS_1
Detik-Detik Tamat part 1 ya guys**...