
Tiga hari kemudian orang tua Raya, bi Imah, mang Ujang sedang sibuk mendekor rumah Sandra, karena hari ini adalah hari pernikahan Sandra.
"Wah Sandra lo cantik banget " ucap Raya, melihat Sandra yang sedang di rias. Sandra hanya tersenyum sekilas.
Sandra menggunakan kebaya putih panjang dengan kain panjang pula, dia juga memakai kerudung putih dengan full aksesoris adat sunda.
"Iya mbak benar, padahal saya pakaikan make up mbak Sandra sangat tipis, memang dasar nya mbak Sandra sudah cantik, auranya sangat terpancar, pasti calon suami nya sangat beruntung bisa mendapatkan mbak Sandra" ucap prias pengantin tersebut.
Mendengar kata calon suami beruntung membuat dada Sandra sedikit nyeri, karena kenyataannya calon suami nya keberatan dengan pernikahan ini.
Raya melihat raut muka Sandra sekilas, ada kesedihan di sana, mampu membuat mata Raya berkaca-kaca, namun dia tahan karena dia tidak mau membuat Sahabat nya bertambah sedih.
"Iya tentu saja, hanya lelaki bodoh yang tidak merasa beruntung mendapatkan Sandra kami" ucap Raya.
"Raya kamu berlebihan, aku takut membuat kecewa" ucap Sandra. Menatap Raya melalui cermin
"Kalau gitu jangan buat kecewa" ucap Raya membalas tatapan Raya.
Tiba-tiba mamanya Sandra datang ke kamar Sandra.
"Sayang, kamu sudah siap? Pengantin pria nya sudah datang, dan menunggu di bawah " ucap mama nya Raya.
Deg, jantung Sandra terasa berhenti sejenak. Dia pun terdiam sambil menatap kuku jari tangannya.
"Sebentar lagi bu" ucap prias pengantin.
"Cepatlah, acaranya sudah mau di mulai, sayang mamah ke bawah dulu ya, ada yang masih harus mama kerjakan, kamu tolong temani Sandra kebawah ya nak" ucap mama nya Sandra.
"Baik ma" ucap Raya.
...
Sandra dan Raya turun kebawah, banyak tamu yang menatap ke arah Sandra dengan tatapan pujian, Sandra merasa gugup, walaupun mereka hanya mengundang keluarga dan teman terdekat nyatanya itu mampu membuat rumah besar milik Sandra terasa sesak.
Di saat semua sedang memuji penampilan Sandra, berbeda dengan Satya dia pura-pura acuh dan memalingkan wajah nya, yang dia ingin hanya segera menyelesaikan acara ini.
Sandra duduk di samping Satya, dan Raya pun memakai kan kerudung putih di kepala Satya dan Sandra.
"Baiklah apa semuanya sudah siap? " ucap pak penghulu.
"Sudah " ucap Satya tegas.
"Kalau begitu, silahkan jabat tangan saya" ucap pak penghulu, Satya pun menuruti kata-kata penghulu untuk menjabat tangan nya.
"BISMILAHHIROHMANNIROHIM SAUDARA SATYA WIJAYA BIN RUSLAN WIJAYA SAYA NIKAHKAN ENGKAU DENGAN SAUDARI SANDRA VIOLLA BINTI ARLAN RAHMAT DENGAN MASKAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DENGAN SEPERANGKAT EMAS MURNI DI BAYAR TUNAI!! " Ucap pak penghulu.
" SAYA TERIMA NIKAH NYA SANDRA VIOLLA BINTI ARLAN RAHMAT DENGAN MASKAWIN TERSEBUT DI BAYAR TUNAI!! " Ucap Satya dengan sekali hembusan nafas.
__ADS_1
"Bagaimana saksi SAH? " tanya pak penghulu pada kedua saksi.
"SAH!! " saksi pertama.
"SAH!! " saksi kedua.
"Alhamdulilahhirobilalamin, selamat ya sekarang kalian berdua resmi menjadi suami istri, silahkan tanda tangan dahulu surat nikah nya " ucap pak penghulu.
Sandra dan Satya pun menandatangani surat nikah dan berkas-berkas lainnya, setelah itu mereka berdua sungkeman ke pada orang tua Satya, orang tua Raya serta mang ujang dan bi Imah, semua orang menangis ada rasa sedih dan rasa bahagia menyelimuti mereka, apalagi bi Imah, tak henti-hentinya dia meneteskan air matanya, tidak lupa memanjatkan doa, karena dari kecil dia yang mengurus Sandra.
Sandra dan Satya berada di atas kursi pelaminan, mereka menjabat tangan tamu satu persatu yang hadir dan memberikan mereka ucapan selamat.
"Aghhh kaki ku terasa kram" ucap Sandra pelan duduk di kursi pelaminan sambil memijat kakinya sendiri.
"Kau lelah? " ucap Satya.
"Sedikit" ucap Sandra
"Kalau begitu kita istirahat saja dulu" ucap Satya.
"Tidak usah, tidak enak pada tamu yang hadir" ucap Sandra.
"Andika?? " panggil Satya pada Andika.
"Iya Tuan? " ucap Andika menghampiri Satya
"Tolong beritahu keluarga kami, kalau kami Istirahat duluan, Sandra kelelahan" ucap Satya.
"Terimakasih " ucap Sandra pada Andika, Andika pun menundukkan kepalanya sopan dan pergi meninggalkan mereka.
Satya pun menarik tangan Sandra membantu Sandra berjalan untuk naik ke kamarnya.
"ternyata dia tidak terlalu buruk" batin Sandra.
Sandra dan Satya sudah berada di kamar Sandra.
"Istirahatlah dulu" ucap Satya.
"Terimakasih " ucap Sandra.
Satya pun duduk di sofa yang berada di kamar Sandra, sedangkan Sandra duduk di kasur miliknya.
"Saya boleh bicara sesuatu? " tanya Satya
"Boleh, tanya saja? " ucap Sandra
"Apa kamu terpaksa melaksanakan pernikahan ini? " ucap Satya. Sandra pun terdiam, dia masih memikirkan jawaban yang tepat.
__ADS_1
"Maaf kan saya, karena saya kamu harus menikah bahkan dengan lelaki yang tidak kamu kenal, tapi tidak ada gunanya untuk menyesal sekarang, semuanya sudah terlambat" sambung Satya.
"Ini kamu bisa baca? " ucap Satya memberikan amplop coklat besar yang dia simpan di dalam kantong jas nya
"Ini apa? " tanya Sandra
"Buka dan bacalah" ucap Satya.
Sandra pun membuka amplop coklat tersebut, disana terdapat selembar kertas.
"Perjanjian perceraian? " ucap Sandra terkejut.
"Iya, kita menikah juga karena terpaksa, setelag bayi itu berusaha 40hari mari bercerai tapi kamu tenang saja saya akan bertanggung jawab dan memberikan kamu kompensasi " ucap Satya.
Deg... Jantung Sandra terasa berhenti mendengar semua perkataan dari Satya, di hari pernikahannya dia juga mendapatkan surat perjanjian perceraian.
" *Surat perjanjian perceraian
1.Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.
2.Setelah bayi berumur 40hari kedua belah pihak akan bercerai.
3.Pihak pertama akan memberikan kompensasi kepada pihak kedua sebesar 2miliar.
4.Hak asuh anak akan di bagi rata*. ". batin Sandra membaca surat tersebut.
"Kalau kamu sudah paham, kamu bisa tanda tangani surat ini" ucap Satya memberikan pulpen kepada Sandra.
Dengan tangan gemetar Sandra pun menerima pulpen dari Satya. Sandra terlihat sedang melakukan sesuatu pada kertas itu.
"Nomor 3 di coret saja, saya tidak menginginkan uangnya, karena ini semua demi anak yang sedang saya kandung" ucap Sandra.
"Ini sudah saya tanda tangani, saya setuju " ucap Sandra sambil menahan sesak di hatinya.
"Kalau begitu lebih baik kita rahasiakan pernikahan kita, karena suatu hari kita juga akan bercerai" ucap Satya menerima surat itu.
"Kamu tenang saja, saya tidak akan berbuat macam-macam terhadap kamu"sambung Satya.
"Lebih baik seperti itu" ucap Sandra masuk ke dalam mandi, yang berada di kamarnya.
...
"Kamu tenang saja, ibu akan melindungi kamu, jangan sedih nak, masih ada ibu, ibu menyayangimu " ucap Sandra meneteskan air matanya sambil mengusap perutnya sendiri.
"Memang apa yang harus aku harapkan dari dia? " sambung Sandra menangis.
...
__ADS_1
"Lebih baik begini, tidak memberinya harapan" ucap Satya duduk di sofa sambil menatap pintu kamar mandi.
Bersambung.....