
Setelah berbicara dengan Dokter, Dewi langsung menghampiri Bima di ruang perawatan nya. Sedangkan Andika sedang mengurusi Administrasi.
Dewi meneteskan air matanya saat melihat Bima terbaring lemah dengan Oksigen yang menempel dan dua selang infus.
"Kak Bima Maaf (Duduk di kursi yang berada di samping Ranjang Bima) Maaf Dewi tidak tau kalau Kaka sedang sakit" ucap Dewi.
"Kenapa kakak tidak bilang sama Dewi? kenapa kak Bima menutupi semuanya?" ucap Dewi meneteskan air matanya.
Jari-jari tangan Bima bergerak dan matanya perlahan-lahan mulai terbuka.
"Dewi" panggil Bima dengan terbata.
"Kak Bima sudah sadar , sebentar Dewi panggilkan Dokter" ucap Dewi beranjak dari duduk nya.
"Tunggu" ucap Bima menahan Dewi.
"Kenapa ka?" tanya Dewi.
"Aku mau bicara sama kamu" membuka selang oksigen nya.
"Jangan di buka kak" ucap Dewi menahan tangan Bima yang akan membuka selang Oksigen
"Tidak apa-apa, aku tidak akan mati hanya karena membuka selang oksigen" ucap Bima. Bima memang tidak ingin terlihat lemah di hadapan Dewi, padahal tubuhnya sangat lemas namun dia berusaha tetap kuat.
"Kakak mau ngomong apa" ucap Dewi duduk kembali di kursi sebelah Bima
"Dewi, apa sudah tidak ada Cinta di hati kamu untuk aku?" tanya Bima
"Untuk apa kakak tanyakan hal itu?" ucap Dewi.
"Maaf kan Aku dan semua kebodohanku dulu Dewi, aku terlalu takut untuk menolak nya dulu, tapi sekarang, aku bisa, aku bisa mempertahankan kamu" ucap Bima.
__ADS_1
"Dewi sudah memaafkan semuanya bang yang lalu biar saja berlalu" ucap Dewi.
"Apa masih ada Cinta di hati kamu untuk aku Dew? Atau jangan-jangan sudah ada lelaki lain di dalam hati kamu?" tanya Bima.
"Kenapa kakak tanya seperti itu?" ucap Dewi
"Tidak, aku hanya ingin memastikan saja, apa lelaki itu Andika?" ucap Bima
Dewi terdiam tidak menjawab atau menyangkal ucapan dari Bima.
"Baiklah aku sudah tau jawabannya" Sambung Bima sambil menatap ke arah Dewi, namun Dewi masih setia menundukkan wajahnya.
"Jika kamu bahagia, aku akan bahagia" gumam Bima.
"Kamu bicara apa kak?" tanya Dewi.
"Tidak ada" ucap Bima Tersenyum.
"Maaf kak" Dewi meneteskan air matanya.
"Jangan bersedih, aku lebih senang lihat kamu marah dari pada harus menangis" mengusap air mata yang ada di pipi Dewi.
Tanpa mereka sadari ada Andika yang memperhatikan mereka dari balik pintu.
"Ternyata mereka mempunyai Kisah dimasa lalu, pantas saja" ucap Andika sambil tersenyum sinis. Melihat Dewi dan Bima.
...----------------...
Arka sedang berada di rumah, saat sedang berjalan naik ke atas kamar tidak sengaja dia masuk kedalam kamar Satya dan Sandra.
Arka menatap beberapa bingkai foto yang ada di kamar Satya, foto Satya dengan Sandra dan Baby Satria.
__ADS_1
"Sandra... Aku tau dari awal aku memang salah mencintai mu, sebenarnya aku pun tidak mau tapi perasaan itu datang secara tiba-tiba, dari rasa kasihan, kagum dan berubah jadi Cinta, melupakanmu sunggu sangat berat, tapi setelah melihat kamu hidup bahagia, aku juga akan bahagia, Doakan aku agar aku bisa seperti kalian" ucap Arka lalu menyimpan kembali foto nya diatas meja.
"Bang Arka ngapain disini?" Tanya Nayla menghampiri Arka yang masih berada di dalam kamar Satya.
"Nayla??" ucap Arka terkejut
"Abang ngapain?" tanya Nayla
"Engga apa-apa, Abang lagi kangen aja sama Satya" ucap Arka.
"Tapi itu foto nya mbak Sandra kan?" tanya Nayla melihat foto yang baru saja Arka simpan, dan foto itu adalah foto Sandra.
"ehmm.. Iya Abang cuma asal ambil saja ko" ucap Arka.
"Mbak Sandra memang sangat menarik, jangankan untuk laki-laki, aku saja perempuan, hanya sekali melihat mbak Sandra akan jatuh hati, Tapi bagaimanapun mbak Sandra sudah berumah tangga, kita sebagai saudara ipar harus bisa menjaga keutuhan rumah tangga mereka" ucap Nayla
Nayla sebenarnya sudah tau kalau ada yang tidak beres dengan Arka, Nayla sering melihat Arka yang selalu memperhatikan Sandra.
"Kenapa kamu bicara begitu Dek?" ucap Arka
"Tidak bang, Nayla hanya mengingatkan saja sebagai adek" ucap Nayla
"Abang mengerti, apapun yang ada di pikiran mu sekarang abaikan saja, Abang tidak seperti itu" ucap Arka.
"Iya bang, Nayla senang mendengar nya, kalau gitu Nayla keluar duluan ya" ucap Nayla beranjak meninggalkan Arka.
"Serapat apapun Abang menutupinya, mata tidak akan salah mengartikan" gumam Nayla sambil berjalan pergi.
"Aku sudah memulai membuka hatiku, aku tidak akan jadi pengganggu lagi" ucap Arka.
Bersambung.
__ADS_1