Istri Yang Tidak Di Anggap

Istri Yang Tidak Di Anggap
Bab 48


__ADS_3

Setelah di hubungi beberapa kali akhir nya Raya dan Dewi menjawab telpon Sandra dan mereka pun, bilang akan segera menemui Sandra di Restauran.


"Mas.. Raya dan Dewi bilang mau menemui kita disini, apa kamu mau menunggu sebentar lagi? " ucap Sandra.


"Iya sayang, hari ini aku tidak kemana-mana ko" ucap Satya masih sibuk dengan handphone nya.


"Kamu yakin, tidak sibuk? " menghampiri Satya duduk di sofa


"Iya.. Sayang.. " namun matanya masih fokus pada layar handphone.


"Tapi dari tadi fokus terus pada handphone, aku nya di cuekin " ucap Sandra pura-pura cemberut.


"Iya.. Maaf sayang.. Tadi aku balas pesan dari Andika, aku engga main handphone lagi ya.. " ucap Satya memeluk pinggang Sandra dari samping.


"Aku Becanda Mas, aku tau kerjaan kamu itu engga bisa di tinggalin" ucap Sandra


"Biarin aja.. Aku sekarang lebih suka main dengan kamu.. " ucap Satya, tangannya mulai merambat ke arah leher Sandra yang masih tertutupi kerudung.


"Mas.. Ini kan masih di Restauran.. Nanti ada orang yang melihat" ucap Sandra melepaskan tangan Satya


"Disini sepi sayang.. Ini kan ruangan mu memang ada yang berani masuk sebelum di izinkan? " ucap Satya


"Tapi kan malu mas, nanti saja dirumah " ucap Sandra malu-malu


"Baiklah kalau gitu, aku tagih nanti dirumah ya.. Kamu tidak boleh menolaknya" bisik Satya.


"Iya mas.. " ucap Sandra


"Kandungan mu sudah memasuki 7 bulan kan? Bagaimana kalau kita membeli peralatan untuk baby? " ucap Satya sambil mengusap-usap perut Sandra


"Emm.. Boleh mas, aku juga tidak sabar membeli peralatan baby yang lucu-lucu" ucap Sandra tersenyum


"Kita cari barang-barang yang paling bagus untuk baby, aku sudah tidak sabar melihatnya" ucap Satya


"Aku juga Mas.. " ikut mengusap perutnya

__ADS_1


Terdengar pintu ruangan Sandra di ketuk.


"Masuk" ucap Sandra dari dalam, Sandra dan Satya pun membetulkan posisi duduk nya.


Ternyata yang datang adalah Raya dan Dewi


"Sorry-Sorry Sand gue lama, tadi gue jemput Dewi dulu, ada apa sepertinya penting sekali? " tanya Raya.


"Iya Mbak maaf, tadi aku ada perlu sebentar" ucap Dewi


"Iya engga apa-apa, sini duduk dulu, ada hal yang mau aku tanyakan sama kalian " ucap Sandra


Dewi dan Raya pun duduk di seberang sofa yang kosong.


"Mau tanya apa? " ucap Raya


"Kalian ingat gak 2th yang lalu di kota Y, kita kan pernah mengurus Restauran disana? Karena fokus di sini, jadi kita menutup sementara Restauran di kota Y? " ucap Sandra


"Iya mbak, aku ingat memang nya kenapa ya? " tanya Dewi


"Lo mau buka cabang lagi di sana? " tanya Raya


"Pria?? Kayaknya Dewi engga deh" ucap Dewi


"Kamu Ray? " tanya Sandra pada Raya


"Emm.. gue lupa Sand " ucap Raya


"Oke aku perjelas lagi ya.. Jadi saat itu ada Pria yang habis kecopetan dan badannya babak belur, Saat itu di antara kalian ada yang menolong dia, dan menyebutkan nama kalian Sandra" ucap Sandra


"Memang siapa pria itu? Apa dia mencarimu? " tanya Raya


"Iya.. Dia mencari siapa yang menolong nya, tapi aku merasa tidak pernah menolong dia, Dewi pun seperti itu, apa mungkin itu kamu? Dia bilang wanita itu bercadar dan aku tidak dapat mengenali itu siapa karena kita sama-sama memakai Cadar saat itu? " ucap Sandra


"Em... Oia gua ingat, gue pernah menolong seorang pria, tapi gue lupa dengan mukanya. " ucap Raya.

__ADS_1


"Jadi benar itu kamu Raya? Apa kamu tidak mengingat namanya? " tanya Satya


"Gue lupa bertanya, tapi saat Gue bantu pesankan tiket, dia menyebutkan namanya ... Akay, iya Akay yang gue ingat hanya itu" ucap Raya


"Iya itu nama kecil Abang ku, Arka jadi benar yang dia maksud itu pasti kamu, tapi kenapa kamu memakai nama Sandra? " tanya Satya


"Tunggu.. Tunggu maksud nya bagaimana? Pria yang gue tolong itu abang lo? " tanya Raya


"Iya bang Arka yang kamu tolong dan dia sempat salah mengira, dia kira yang menolong nya adalah aku, karena gadis yang menolong nya menyebutkan namanya Sandra dan karena itu kami salah paham" ucap Sandra


"Mungkin memang benar itu gue Sand, saat itu gue menyebutkan nama lo, karena dia bertanya dia harus berterimakasih pada siapa, saat itu gue menyebutkan nama lo karena makanan yang gue kasih kan dari Restauran lo, uang dan tiket yang gue kasih juga dari Restauran lo, jadi gue bilang jika dia mau berterimakasih, terimakasih lah pada Sandra " ucap Raya menjelaskan


"Tapi kenapa kamu engga bilang sama aku? " ucap Sandra


"Maaf Sand, tapi gue lupa lagian apa gue harus membahas karena telah menolong orang? Itu tidak akan menjadi kebaikan lagi namanya, dan lagi pula kita kan sering menolong orang dan gue tidak pernah bertanya tentang orang yang gue tolong, dan gue gak tau kalau dia abang nya Satya, Sorry gue buat kalian salah paham" ucap Raya


"Engga ini bukan kamu, tapi lain kali kamu jangan sebut nama aku atas kebaikan mu sendiri" ucap Sandra


"Biarkan lah tapi Allah maha tahu kan? " ucap Raya


"Memang, tapi biarkan orang yang kamu tolong mendoakan namamu dan mengingat namamu bukan nama ku" ucap Sandra


"Justru jika semua orang mendoakan mu aku akan lebih senang Sandra" ucap Raya


"Raya.. Jangan seperti itu, aku tidak bisa menerima nya jika itu bukan aku yang melakukannya" ucap Sandra menghampiri Raya dan duduk di antara Raya dan Dewi


"Gue jauh lebih menyayangimu dari pada diriku sendiri Sandra, asalkan lo bahagia gue akan jauh lebih bahagia" ucap Raya


"Raya.. " memeluk Raya sambil meneteskan air matanya.


"Mbak Sandra memang pantas mendapatkan kebahagiaan karena kebaikan yang mbak beri, jika tidak ada mbak aku mungkin tidak akan bisa sekolah, aku juga mungkin tidak bisa merasakan kehidupan yang baik ini, mbak bahkan rela meninggalkan masa muda mbak dan bekerja keras untuk menghidupi kami semuanya " ucap Dewi meneteskan air matanya.


Tangan Sandra yang sebelah lagi beralih memeluk Dewi, sekarang Mereka bertiga berpelukan. Sambil meneteskan air matanya.


"Jangan seperti itu lagi ya.. Aku bekerja keras, berjuang itu juga karena kalian, aku bersyukur mempunyai kalian, jadi aku tidak sendirian lagi di Dunia ini, semua usaha ku sukses juga karena kalian membantuku jadi tolong jangan seperti itu, aku sekarang sudah bahagia, sekarang waktunya kalian bahagia" ucap Sandra sambil terus meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kalau gitu kita harus menemui bang Arka " ucap Satya dan Sandra pun menganggukkan kepalanya.


Bersambung...


__ADS_2