
Dua hari kemudian, Dewi masih menemani Bima yang belum sadar dari koma nya. Dengan pakaian khusus Dewi setia duduk di samping Bima yang terbaring di ruangan ICU
"Kak Bima, apa kakak masih belum mau bangun? Sampai kapan kakak terbaring seperti ini" ucap Dewi, menatap Bima yang masih menutup matanya rapat-rapat dengan berbagai alat menempel ditubuhnya.
"Kak, berjuanglah disini kami menunggu kakak, sebenarnya aku tidak tau apa yang aku rasakan apa ini perasaan Cinta yang dulu, tapi sungguh hati aku sakit melihat kak Bima seperti ini" ucap Dewi dengan matanya yang berkaca-kaca.
Tiba-tiba Dokter menghampiri Dewi, memanggil Dewi untuk ikut keruangannya.
"Maaf mbak Dewi, boleh ikut ke ruangan saya? Ada yang mau saya bicarakan?" ucap Dokter
"Baiklah Dok" Dewi pun beranjak dari duduk nya dan mengikuti dokter.
"Ada apa ya Dok?" tanya Dewi
Mereka sudah berada di dalam ruangan dokter dan Dewi duduk di seberang kursi yang ada diruangan tersebut.
"Jadi begini mbak, tentang kesehatan mas Bima, semakin hari semakin menurun, tapi kami akan berusaha sebisa kami, namun tetap serahkan semua ya pada Allah" ucap Dokter.
"Lalu saya harus bagaimana Dok?" tanya Dewi
"Seperti yang mbak tau, keinginan terakhir dari mas Bima, mungkin mbak bisa kabulkan agar mas Bima tenang juga" ucap Dokter
" Tapi Dok" ucap Dewi menggantung karena tiba-tiba ada suster masuk dengan nada panik.
"Dok pasien diruang ICU kritis" ucap Suster
__ADS_1
"Baiklah saya kesana" ucap Dokter langsung bangkit dari tempat duduk nya berjalan keluar.
Dewi yang mendengar itu langsung berjalan mengejar dokter, dia yakin yang di maksud adalah Bima.
Karena rasa khawatirnya pada Bima, Dewi langsung menerobos masuk ke dalam.
"Mbak tunggu diluar dulu ya, biar Dokter yang memeriksa nya" ucap Suster lalu menutup pintu rungan tersebut.
Dewi menepi duduk di kursi yang ada di depan ruangan tersebut.
"Kak Bima berjuanglah" ucap Dewi menundukkan kepalanya.
Sandra dan Satya datang kerumah sakit dan langsung menghampiri Dewi.
"Dek bagaimana keadaan bang Bima?" tanya Sandra merangkul Dewi.
"Sabar sayang serahkan pada Allah, Allah maha tau" ucap Sandra membalas pelukan Dewi.
"Apa yang harus Dewi lakukan kak?" tanya Dewi
"Kita hanya perlu berdoa sayang, semua sudah tertulis" ucap Sandra.
Dokter keluar dan menghampiri Dewi.
"Mbak Dewi, mas Bima meminta untuk bertemu, tapi tolong kontrol emosi mbak ya.. agar mas Bima tidak syok kembali" ucap Dokter.
__ADS_1
"Baik Dok" ucap Dewi menghapus air matanya, beranjak masuk kedalam ruangan.
Di dalam ruangan, Air mata Dewi sudah kembali ingin keluar karena melihat Tubuh Bima yang di kelilingi oleh Alat-alat medis.
"Dewi" Panggil Bima pelan menghadap kearah Dewi
"Iya kak, Dewi disini" ucap Dewi langsung menghampiri Bima.
"Dewi apa kamu sudah fikirkan kata-kata aku, tempo lalu" ucap Bima menatap kearah Dewi
"Kata-kata yang mana kak?" tanya Dewi
"Menikah lah dengan Andika, aku ingin kamu bahagia, aku ingin ada yang menjagamu juga, tolong kabulkan permintaan terakhirku Dewi" ucap Bima terbata-bata.
"Tapi kak, aku tidak mau menjadikan kak Andika sebagai pelampiasan, kak Andika laki-laki yang baik aku memang sempat mengagumi nya, tapi aku tidak mau memanfaatkan ka Andika" ucap Dewi.
"Dia mencintaimu Dewi, dan kamu juga, cuma kamu belum menyadari itu" ucap Bima.
"Lebih baik kakak terus berjuang untuk sembuh aku akan menemani ka Bima" ucap Dewi
"Aku tidak bisa, aku lelah, tolong terima sekali ini saja" ucap Bima.
"Baiklah, Jika begitu tapi tergantung dengan kak Andika jangan memaksa ka Andika, dia laki-laki baik, dia bisa mendapatkan perempuan lebih baik dari pada Dewi" ucap Dewi menunduk.
"Semoga Andika bisa menjagamu Dewi, dan kalian bisa bahagia bersama, aku sangat mengharapkan itu" ucap Bima menatap Dewi dengan tersenyum, namun Air matanya mengalir.
__ADS_1
Bersambung.
Maafkan Nia, Nia masih sibuk dengan urusan RL, Maafkan keterlambatannya tapi Nia ucapkan terimakasih untuk kalian yang support terus Nia, terimakasih untuk komenannya Nia baca semua love love dari Nia :* :*