
Malam hari Dewi sudah bersiap-siap, ini pertamakali nya bagi Dewi keluar malam dengan laki-laki setelah Menjauh dari Bima, dalam hati kecil Dewi masih ada Bima yang menguasai nya, bagaimanapun Bima adalah Cinta pertama untuk Dewi.
"Kenapa aku pakai Hijab ini (menatap dirinya di depan cermin) ini kan Hijab yang diberikan oleh kak Bima pertama kali" ucap Dewi.
"Dulu memang aku sering sekali pakai Hijab ini, kenapa Rasa ini kembali muncul, Stop Dewi kamu harus melupakan Bima jangan di ingat lagi sudah cukup" ucap Dewi sambil memegangi dadanya yang mulai merasakan sakit seperti tersengat listrik. Karena bayangan masa lalu tiba-tiba datang kembali.
"Sebaiknya aku ganti kerudung saja" ucap Dewi buru-buru berjalan ke arah lemari untuk mengambil kerudung lain.
Tepat di jam yang sudah di tentukan Andika datang kerumah Sandra untuk menjemput Dewi.
"Ah.. Kak Andika udah lama nunggu? mau mampir dulu atau langsung pergi?" tanya Dewi.
"Terlihat beda sekali kak Andika jika tidak memakai Jas dan kemejanya." Batin Dewi
"Kita langsung pergi saja ya.. Takut kemalaman nanti* ucap Andika.
"Baiklah kak" ucap Dewi menutup pintu rumah nya, karena Orangtua Dewi sedang berada di kampung jadi Dewi hanya tinggal dengan Bik Ningsih
Andika membukakan pintu untuk Dewi, selama perjalanan mereka sama-sama diam hanya mendengarkan beberapa lagu yang sama-sama mereka suka karena kebetulan selera mereka sama.
Sampai di Bioskop, Andika mengajak Dewi untuk menonton Film. Selesai dengan Film nya mereka mencari Caffe untuk mengisi perut mereka dengan camilan.
"Bagaimana tadi Film nya?" tanya Andika
"Aku lebih fokus pada cewek-cewek disana, mereka bukan nya memperhatikan Film tapi memperhatikan kakak semua" ucap Dewi
"Memang nya iya? aku tidak memperhatikan mereka tadi" ucap Andik santai sambil meminum capuccino hangat miliknya.
"Apa kakak tidak menyadari itu?" tanya Dewi
"Tidak, aku hanya fokus pada film nya dan kamu" ucap Andika.
"Ah.. Apa kak?" tanya Dewi memastikan apa yang di dengarnya benar.
"Iya yang kamu dengar itu benar ko" ucap Andika.
"Ah Dewi tidak mendengar apa-apa" ucap Dewi mengalihkan pandangannya.
"Aku fokusnya sama kamu" ucap Andika menatap Dewi.
__ADS_1
"Ekhem... kuenya enak ya kak" ucap Dewi mencoba mencairkan suasana.
"em.. Iya kamu mau lagi?" tanya Andika
"Tidak usah kak, ini saja cukup" ucap Dewi
Mereka pun terus melanjutkan mengobrol sambil bercanda-canda. Tanpa mereka sadari ada seorang laki-laki yang menghampiri mereka dengan penuh emosi.
"Pulang bareng aku" ucap Bima menarik paksa tangan Dewi
"Aw... Sakit.. Kamu apa-apa an sih" ucap Dewi berusaha melepaskan pegangan tangannya.
"Apa-apaan kamu yang apa-apaan ngapain kamu pergi sama dia?" ucap Bima dengan nada emosi.
"Lo jangan kasar sama perempuan" menarik Dewi.
"Dewi.. pulang bareng aku" ucap Bima
"Enggak mau" ucap Dewi berlindung di balik tubuh Andika
"Emang Lo siapa nya Dewi nyuruh-nyuruh Dewi balik bareng Lo?" ucap Andika
"Gue calon suaminya" ucap Bima
"Lo Gak tau apa-apa lebih baik Lo minggir" teriak Bima
"Kalau gue gak mau Lo mau apa? Lo mau Jahatin Dewi, seperti Lo Jahatin Sandra? Lo sadar gak Bim, keegoisan Lo sudah menghancurkan pertemanan kita, semenjak Lo pergi keluar, gue dan Satya sudah tidak mengenal sosok Bima lagi" ucap Andika.
"Lo gak ngerti apa-apa dan itu bukan urusan Lo!!" ucap Bima.
"Gue gak akan mengerti kalau Lo gak mau cerita, dan Lo selalu menutup-nutupi nya dari gue ataupun Satya" ucap Andika.
"Gue gak butuh belas kasihan dari kalian, lebih baik Lo minggir " mendorong Andika dan menarik lengan Dewi untuk berjalan mengikutinya.
Dewi berusaha melepaskan genggaman Bima namun tenanganya tidak sekuat Bima, tanpa Bima sadari ternyata Andika mengikutinya dan memukul Bima dari belakang dengan kencang.
Buggghhh (Memukul bagian belakang tubuh Bima)
Bruukkk (Bima langsung jatuh tersungkur dan Pingsan).
__ADS_1
"Bima.. Gue tau Lo pura-pura ya.. Gue cuma pukul Lo satu kali" ucap Andika
Beberapa detik kemudian orang-orang langsung berkumpul melihat perkelahian mereka.
"Kak Bima.. Dia beneran pingsan kak, lebih baik kita bawa saja keruamh sakit, ayo kak" ucap Dewi gelisah.
Tanpa menunggu Lama Bima langsung di bawa kerumah sakit oleh Andika dan Dewi , di bantu orang-orang yang ada disana untuk membopong Bima masuk kedalam mobil.
Selama perjalanan terilahat sekali wajah Dewi yang gelisah dan sesekali melirik ke kursi belakang.
"Semoga Bima tidak apa-apa, maaf aku terlalu emosi" ucap Andika
"Iya kak" ucap Dewi.
Sampai dirumah sakit, Dokter langsung memeriksa keadaan Bima. Dewi dan Andika pun menunggu
Satu jam kemudian Dokter keluar dari ruangan nya. Keluarga bapak Bima?
"Iya Dok.." ucap Dewi disusul oleh Andika
"Bisa ikut ke ruangan saya? Ada hal penting yang harus dibicarakan" ucap Dokter
"Iya.." Dewi dan. Andika pun mengikuti Dokter untuk bicara di ruangannya.
"Jadi begini Ibu, bapak, Pasien sudah melewati masa kritisnya, tapi jika terus dibiarkan dan belum menemukan Donor yang sesuai, mungkin kondisinya akan makin parah " ucap Dokter
"Donor, Donor apa Dok? kebetulan darah kami sama Dokter boleh ambil darah aku aja" ucap Dewi.
"Apa belum tau? penyakit yang di derita pasien?" tanya Dokter
"Penyakit apa memang nya Dok?" tanya Dewi khawatir.
"Pasien mengalami Gagal jantung sudah masuk stadium 3" ucap Dokter
"Apa ??? Gagal jantung??" teriak Dewi. tiba-tiba air matanya mengalir.
"Iya seperti nya hari ini pasien terlalu tertekan dan mengakibatkannya Anfal" ucap Dokter.
"Tapi masih bisa disembuhkan Kan Dok?" tanya Andika
__ADS_1
"Bisa jika mendapatkan Donor yang sesuai dan tepat" ucap Dokter.
Bersambung.