
Acara pernikahan Bima dan Dewi sudah berjalan dengan lancar, semua orang yang berada disana sudah paham dan ikut berbahagia dengan pernikahan Bima dan Dewi.
"Alhamdulilah ya kak, acaranya berjalan dengan lancar, walaupun sempat ada kendala tadi" ucap Dewi yang sedang duduk di depan kaca sambil membuka satu persatu assesoris yang dia kenakan.
"Iya dek Alhamdulilah berkat semua keluarga yang membantu, acara ini menjadi lancar dan khidmat" ucap Bima berjalan mendekat ke arah Dewi.
"Maafkan aku kak, aku sempat memaki kakak tadi, aku sempat tidak sopan, perkataan ku sangat buruk, baru saja kita menikah tapi aku sudah membuat luka di hati suamiku dengan makian" ucap Dewi menundukkan pandangannya.
"Tidak perlu berkata seperti itu dek (memegang kedua pundak Dewi) Aku juga ikut salah dalam ini, tapi jika tidak begini kita tidak akan bersama" ucap Bima tersenyum.
"Sebenarnya aku sangat bahagia hari ini, aku bisa menikah dengan laki-laki yang memang benar-benar aku cintai, jadi aku tidak menyakiti perasaan ka Andika lama-lama, karena jujur aku sangat tidak tega melukai hati kak Andika, bagaimanapun dia sudah sangat baik sekali sama aku" ucap Dewi dengan wajah yang murung.
"Andika memang laki-laki yang baik, jadi kita doakan saja yang terbaik untuk Andika, Kamu jangan murung terus, aku sedih melihatnya" ucap Bima memegang kedua pundak Dewi dan menatap nya melalui cermin.
"Iya kak" ucap Dewi tersenyum.
"Aku mau bersih-bersih badan, apa kamu mau ikut?" tanya Bima pada Dewi
"Ish kakak, bersih-bersih lah saja dulu, nanti gantian dengan aku" ucap Dewi dengan wajah merah yang memalu.
__ADS_1
"Kenapa wajah malu-malu itu bikin badan ku merinding" ucap Bima mendekat kan wajahnya ke Dewi.
"Kakak buruan sana, aku masih harus membuka assesoris ini" ucap Dewi mendorong pelan tubuh Bima.
"Tapi aku bisa membantu membukanya" ucap Bima dengan wajah nakal
"Aku bisa sendiri makasih" ucap Dewi.
"Yasudah kalau tidak mau, aku duluan masuk kamar mandi ya... Nanti kamu susul aku?" ucap Bima mengedipkan sebelah matanya.
"Ihh buruan sana kakak" ucap Dewi
"Iya sayang.. *kiss* " mencium pipi Dewi dengan cepat.
"Setelah ini bukan cuma cium yang kamu dapat sayang" ucap Bima sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Kakak mulai nakal ya.." ucap Dewi lagi-lagi menyipitkan matanya menghadap ke arah Bima.
"Nakal sama istri sendiri kan memang sudah kewajiban suami" ucap Bima dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Sudah cepat selesaikan buka-buka nya itu, atau aku yang bukain" sambung Bima lalu menutup pintu kamar mandinya.
"Suami-Istri... Oia hampir saja aku lupa kalau kita sudah menikah" ucap Dewi berbicara pada dirinya sendiri di balik cermin Riasnya.
"Lalu bagaimana ini??? Apa kak Bima akan menagih jatahnya malam ini?? Kenapa aku jadi merinding begini" ucap Dewi
"Aku belum siap.. Tapi bagaimanapun juga Kak Bima sudah menjadi suami ku" ucap Dewi lagi.
Saat pikiran Dewi sedang melayang-layang, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi.
"Sayang... Handuk ku, aku lupa membawanya tadi???" teriak Bima dari dalam kamar mandi.
"Disitu kan ada kak, pakailah saja handuk itu masih bersih" ucap Dewi.
"Tidak ada, atau aku keluar tanpa handuk saja ya??" teriak Bima lagi.
"Tidak perlu... Sebentar aku carikan.." ucap Dewi langsung bangkit mencari handuk di lemari pakaiannya.
"Cepat sayang, aku kedinginan" teriak Bima lagi.
__ADS_1
"Sabar Kak, kenapa dia mengancam seperti itu tidak tau malu" gerutu Dewi.
Bersambung..