
Keesokan Hari di Penjara.
Bella sempat meminta tolong pada pengacara Satya, kalau dia ingin menjenguk abang nya yang sakit, karena kesepakatan bersama akhirnya Satya mencabut laporannya untuk Bella, dan Bella bisa keluar dari Penjara, Bebas dengan bersyarat.
"Nona Bella, anda sudah boleh keluar" ucap Seorang polisi membukakan sel untuk Bella.
"Keluar kemana pak?" tanya Bella, yang masih belum tau bahwa dia di bebaskan.
"Anda sudah Bebas, pak Satya sudah mencabut laporan untuk Anda" ucap Pak polisi.
"Apakah itu benar? Aku bebas? Aku bisa merawat abangku sekarang" ucap Bella menangis tersedu-sedu.
"Iya.. Silahkan ikut kami" ucap pak polisi.
"Baik terimakasih pak" ucap Bella tersenyum bahagia.
...----------------...
Pagi-pagi sekali Raya sudah berada di butik, dia masuk kedalam ruangan Sandra dan kebetulan sudah ada Dewi disana.
"Wah ternyata sudah ada calon pengantin disini?" ucap Raya pada Dewi.
"Mbak Raya dari mana saja.. Baru kelihatan" ucap Dewi tersenyum
"Bukannya kalian sedang sibuk menyiapkan pesta pernikahan kamu ya, padahal aku sudah menyiapkan lama, tapi ternyata masih kesusul juga sama kamu" ucap Raya.
"Mbak kenapa bicara seperti itu?" tanya Dewi.
"Aku bicara apa, perkataan ku sudah benar kan? Kenapa selalu kalian yang unggul di banding aku, kenapa aku selalu terakhir?" ucap Raya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Sabar mbak, mbak tidak tau apa yang aku rasakan, kalau aku bisa memilih aku pun tidak mau menikah secepat ini, apalagi dengan laki-laki lain, mbak yang menjauh bukan kami tapi mbak, mbak selalu sibuk dengan masalah percintaan mbak, bahkan mbak melupakan tugas mbak disini" ucap Dewi.
"Apa maksud kamu? jadi kamu mau bilang aku Bucin? aku gak becus kerja gitu?" ucap Raya.
"Mbak kenapa jadi berubah seperti ini? Aku bahkan tidak kenal kata-kata mbak yang seperti ini, kita keluarga mbak, harus nya saling mendukung bukan menjatuhkan." ucap Dewi.
"Kalian memang tidak pernah peduli tentang aku, bahkan tentang hatiku, Assalamualikum" ucap Raya lalu pergi keluar dari butik.
"Kenapa sekarang Mbak Raya jadi berubah seperti itu, kenapa aku jadi tambah merasa asing padanya.. Bukan kita yang menjauh mbak, tapi mbak, mbak selalu sibuk bagaimana cara mendapatkan bang Arka, tanpa mbak sadari itu yang telah menjauhkan kita" Gumam Dewi meneteskan air matanya.
...----------------...
Ditempat lain.
Sandra dan Satya sedang berada dirumah barunya, Sandra sedang merapihkan kamar tidurnya.
"Sudah tepat Mas, Bella juga sudah belajar di sana, lagi pula Bang Bima sedang sakit setidaknya kita bisa mengurangi beban bang Bima, agar tidak memikirkan adek nya." ucap Sandra tersenyum.
"Semoga Bella sudah benar-benar berubah ya.." ucap Satya mendekat kearah Sandra yang sedang merapihkan alat make up nya.
"Amin Mas" ucap Sandra.
"Emm... tapi ngomong-ngomong kita belum..??" ucap Satya memeluk Sandra dari belakang
"Belum apa mas?" ucap Sandra menatap ke arah Satya.
"Belum.. Nyobain kasur baru" ucap Satya
"Tadi malam ka sudah, kita tidur disitu, mas lupa yaa??" ucap Sandra.
__ADS_1
"Maksud mas bukan itu, tapi.. buat adek untuk Satria. Mumpung mas Free" ucap Satya mengedipkan sebelah matanya.
"Ih.. Mas genit, ini udah pagi loh Mas, nanti Satria bangun gimana?" tanya Sandra.
"Ayolah sayang.. Satria kan ada mbaknya.. Jadi aman" ucap Satya.
"Tapi Mas.." ucap Sandra
"Nolak Suami itu dosa sayang.." ucap Satya dengan jurus andalannya.
"Aku sudah tau pasti mas akan bicara seperti itu" ucap Sandra.
"Ayolah sayang.. Sebentar saja.." ucap Satya.
"Sebentar nya kamu sangat lama bagi aku mas.." ucap Sandra.
"Ayolah mas.. ingin" ucap Satya membopong Sandra.
"Aa... Mas.. aku belum bilang iya.." ucap Sandra.
"Akan aku buat jawabanmu jadi Lagi.." ucap Satya tersenyum.
"Aku serem dengan suamiku sendiri" ucap Sandra
"Suamimu ini predator" ucap Satya tersenyum penuh Arti.
"Mandi lagi deh" ucap Sandra.
Bersambung.
__ADS_1