
Keesokan harinya, Bi imah sedang menyiapkan jamuan karena semalam Raya mendapat kabar dari sekertaris nya Satya kalau keluarga Satya akan datang hari ini ke rumah Sandra.
"Loh ko belum siap-siap Sand? " tanya Raya melihat Sandra sedang duduk termenung di balkon kamarnya.
"Raya, aku takut " ucap Sandra berkaca-kaca
"Lo tenang aja, Satya akan tanggung jawab" ucap Raya mengusap tangan Sandra yang tertutup baju panjang nya.
"Justru itu yang aku takuti " ucap Sandra.
"Kenapa? Seharusnya lo senang, Ayah dari anak yang lo kandung akan bertanggung jawab" ucap Raya
"Aku takut menghancurkan kebahagiaan orang lain, aku takut kalau dia punya kekasih, aku enggak mau jadi perusak hubungan mereka" ucap Sandra.
"Tapi ini memang salah dia, dia harus bertanggung jawab" ucap Raya
"Ini bukan kesalahannya Ray, dia juga di jebak. Bagaimana kalau di keberatan menikah dengan aku? " ucap Sandra
"Lo masih memikirkan perasaan orang lain? Lihat diri lo Sand? Lo lagi mengandung, pikirkan masa depan anak ini? " ucap Raya tegas
"Aku bisa menanggung semuanya sendiri Ray" ucap Sandra. Menatap Raya
"Menanggung omongan orang-orang, menanggung caci makian orang-orang, mungkin lo bisa terima, tapi bagaimana dengan nasib anak lo, selamanya dia akan di lihat sebagai anak yang lahir dari hamil di luar nikah, dan lo juga harus tau betapa menyedihkannya itu! " ucap Raya dengan nada tinggi.
Sandra pun menundukkan kembali kepalanya sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
"Lo jangan egois Sand, lo juga harus pikirin masa depan anak lo! Sekarang lebih baik lo siap-siap karena keluarga wijaya sebentar lagi akan datang" ucap Raya beranjak dari duduk nya.
"Satu lagi, gue harap lo gak akan bertindak bodoh, itu hanya akan merugikan diri lo sendiri, di samping itu tolong pikirkan perasaan mama, papa, bi imah, mang ujang dan termasuk perasaan gue, gue keluar dulu! " sambung Raya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dan pergi meninggalkan kamar Sandra.
Sandra pun hanya mengangguk lemah.
Sandra mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih rapih, gamis berwarna hitam dan hijab berwarna serupa yang dia pilih, seolah melukiskan isi hatinya yang sedang menghitam.
Sandra dari remaja memang sudah memakai hijab itu keinginannya sendiri, dia memang masih memakai gaya moderen untuk berhijab.
Tiga puluh menit kemudian, keluarga Wijaya sudah tiba di rumah Sandra, papa dan mama nya Sandra mempersilahkan mereka masuk.
"Maaf sebelumnya pak, bu, kami datang kemari secara mendadak, tapi mungkin kalian lebih tahu apa yang akan kami bahas sebelumnya kenalkan ini Istri saya, dan ini anak-anak saya, Meira, Nayla, Arka dan ini Satya dan satu lagi ini Andika sekertaris Satya " ucap Pak Ruslan. Mengenalkan keluarganya satu persatu
"Apa ini yang bernama Sandra? " ucap Bu Alma melihat ke arah Raya.
"Ah bukan bu, ini Raya anak kandung kami, Sandra masih berada di atas, di kamarnya" ucap Bu Intan.
"Nak tolong panggil kan Sandra " ucap Bu Intan pada Raya.
"Iya ma" ucap Raya. Raya pun beranjak pergi.
"Silahkan di cicipi, maaf hanya seadanya saja " ucap Bi imah dan duduk kembali di dekat suaminya.
"Terimakasih" ucap Bu Alma.
__ADS_1
Sandra pun turun dari kamarnya di temani oleh Raya, mereka pun memasuki ruang tamu, dimana semua orang sedang berkumpul. Bu Alma terus memperhatikan Sandra dari tempat duduk nya.
"Cantik sekali, sepertinya dia gadis yang baik, dia juga berhijab " batin bu Alma, pak Ruslan memperhatikan raut wajah Istrinya.
"Sepertinya istriku menyukainya" batin pak Ruslan.
"Ini dia Sandra KAMI " ucap pak Arlan menekankan kata KAMI untuk menunjukkan kalau banyak orang yang menyayangi Sandra.
Sandra tersenyum dan menundukkan kepalanya sopan.
"Wahh Sandra Violla ada di depan mataku, aku ingin minta foto dan menyebarkan bahwa dia akan jadi kakak ipar ku, semua orang pasti iri " batin Meira.
"Lebih baik kita langsung pada intinya saja pak, bu " ucap Pak Arlan
"Baiklah, jadi kedatangan kami kemari yang pertama tentunya untuk meminta maaf karena kecelakaan yang melibatkan nak Sandra dan yang kedua kami akan bertanggung jawab atas perlakuan anak kami" ucap pak Ruslan
"Bertanggung jawab dalam hal apa? " tanya Pak Arlan
Keluarga Wijaya pun menjelaskan apa yang menjadi niatan mereka, sudah di tetapkan kalau 3 hari lagi adalah hari pernikahan mereka, Sebenernya keluarga Wijaya akan menikahkan mereka secara besar-besaran, namun Satya menolaknya dia hanya ingin di hadiri oleh keluarga dan teman terdekat, itu pun di setujui oleh Sandra, namun ada permintaan dari orang tua Raya pun, kalau mereka harus menikah secara SAH di mata agama dan hukum, itu pun di setujui oleh keluarga wijaya.
Setelah menentukan jadwal pernikahan mereka pun makan malam bersama.
**Bersambung...
Maaf ya temen-temen kalau lama updet nya sebenarnya aku tidak ahli dalam membuat cerita sedih, tapi aku sedang mencoba nya, mohon bantuannya yaakk??? Terimakasih. 🙏🙏🙏🤗🤗🤗**
__ADS_1