
Sepiring nasi jagung dengan sayur daun kelor dan lauk ikan asin juga sambel korek terlihat tersaji di hadapan Banyu. Pemuda itu sedikit keheranan dengan menu makanan yang nampak asing di penglihatannya ini. Hal itulah yang membuat Kardi -bapak tukang becak- terkekeh geli.
"Makanlah cah bagus. Kamu pasti lapar bukan? Percayalah, makanan ini halal dan tidak beracun."
Ada rasa ragu dalam hati Banyu untuk menikmati hidangan ini. Namun setelah diyakinkan oleh Kardi, tangannya pun terulur untuk mengisi piringnya dengan sajian ini. Sedikit demi sedikit, hidangan yang nampak asing ini mulai memanjakan lidahnya.
"Hhhmmmm .... ternyata ini enak sekali Pak. Meski baru pertama tapi ini sungguh enak!"
Berkali-kali Banyu memuji hidangan asing ini. Entah memang enak atau karena efek lapar, Banyu yang tadinya begitu sanksi untuk menikmati hidangan ini namun pada kenyataannya ia lahap sekali. Bahkan ia sempat nambah kala makanan yang berada di atas piring telah tandas.
Kardi juga hanya bisa tersenyum. "Makanan ini merupakan makanan kesukaan Bapak, cah bagus. Dulu mendiang istri Bapak selalu memasak makanan ini untuk Bapak. Dengan hidangan ini yang bisa selalu mengobati rasa rindu Bapak kepada mendiang istri Bapak."
Tatapan Kardi nampak menerawang sembari mengenang apa yang pernah terlewati. Kenangan dan cerita-cerita indah yang pernah ia lewati bersama sang istri.
"Bapak tinggal di sini sendiri?"
Pada akhirnya Banyu tidak bisa untuk tidak bertanya tentang kehidupan seperti apa yang dilalui oleh Kardi. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling dan rumah ini benar-benar nampak sepi sekali. Sejak pertama menginjakkan kaki di rumah ini, ia sama sekali tidak bertemu dengan penghuni lain selain lelaki paruh baya ini.
Kardi hanya mengangguk pelan. "Iya cah bagus, Bapak hanya tinggal sendiri. Istri dan anak Bapak sudah meninggal dua tahun yang lalu."
Banyu terhenyak. "Meninggal? Maksud Bapak meninggal bersamaan?"
"Iya cah bagus!" Kardi nampak membuang napas sedikit kasar kala mengingat peristiwa di dua tahun yang lalu. "Istri dan anak Bapak mengalami kecelakaan motor saat pulang dari pasar."
Suasana haru tiba-tiba saja menyelimuti atmosfer ruangan dengan tembok kasar yang terbuat dari batu bata ini. Banyu merasa tidak enak hati karena telah membuka memori Pak Kardi.
"Maaf ya Pak, saya tidak bermaksud lancang. Saya benar-benar tidak tahu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa cah bagus. Lagipula itu sudah dua tahun berlalu."
Keduanya melanjutkan aktivitas makan malam dalam keheningan. Tak selang lama, mereka selesai dengan aktivitasnya.
"Istirahatlah cah bagus. Tapi maaf hanya ada dipan dengan alas tikar saja yang tersedia. Hanya ada satu kasur di rumah ini."
Banyu menyunggingkan senyum. Baginya bisa mendapatkan tempat untuk beristirahat pun sudah sangat ia syukuri daripada ia terlunta-lunta di pinggir jalan.
"Tidak mengapa Pak, saya justru berterima kasih sekali sudah diberikan tempat untuk beristirahat."
"Sama-sama cah bagus, sebagai manusia sudah selayaknya kita saling tolong menolong." Kardi mulai melangkah pelan menuju kamar. "Tidurlah cah bagus, agar besok pagi kamu tidak kesiangan untuk bertemu dengan calon istrimu."
Banyu tersenyum simpul. Entah mengapa hanya dengan mengingat Lingga, membuatnya semakin bersemangat untuk menjalani hari-harinya. Banyu merebahkan tubuhnya di atas dipan. Ia pejamkan kedua matanya dan mulai memeluk mimpi.
****
Lirik lagu dari Dewa 19 dari salah satu stasiun radio menemani Lingga beraktivitas pagi hari ini. Jarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi dan ia sudah disibukkan dengan cucian yang harus ia eksekusi.
Langit masih gelap dan para penghuni mess masih terlelap. Namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat Lingga untuk mengawali aktivitasnya di minggu pagi seperti ini.
"Haaaahhh ... ternyata menyenangkan juga malam minggu keluar mess untuk menikmati suasana malam kota Jogja. Hmmmm ... mengapa tidak dari dulu aku melakukan hal itu."
Sambil mengucek pakaian, Lingga terus saja mengingat bagaimana mengasyikkannya bermalam minggu di kota yang terkenal dengan kota Gudeg ini. Dengan melihat hiruk pikuk keramaian suasana malam kota Jogja seakan melepas segala kepenatan yang ia rasakan. Pastinya kepenatan dalam mengikuti pelatihan.
Bak burung-burung yang lepas dari dalam sangkar, ia dan teman-temannya nampak begitu menikmati kebebasannya. Semalam, ia dan teman-temannya menyambangi teras Malioboro untuk berburu daster. Dan benar saja, harga daster-daster di sana begitu terjangkau.
"Malam minggu selanjutnya mungkin aku bisa kesana lagi," monolog Lingga lirih sembari fokus dengan cuciannya.
Tokk... Tokk... Tokkk...
__ADS_1
Lingga yang tengah disibukkan dengan cuciannya tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara ketukan pintu yang berasal dari pintu depan. Dahinya sedikit mengernyit dengan kelopak mata yang menyipit. Ia begitu heran, siapa yang berkunjung pagi-pagi buta seperti ini?
Untuk memupus rasa penasarannya, ia bangkit dari posisi duduknya. Ia bersihkan terlebih dahulu tangan yang berbalut busa detergen dan mulai melangkah menuju pintu depan.
Sebelum membuka pintu, Lingga terlebih dahulu mengintip dari balik jendela. Ia semakin keheranan karena tamu yang berkunjung ini nampak dalam posisi memunggunginya. Seorang laki-laki dengan celana jeans dan sebuah jaket yang membalut tubuhnya. Lelaki itu nampak fokus dengan halaman luas yang membentang. Untuk memastikan bahwa makhluk itu memang manusia, pandangan Lingga tertuju pada kaki sosok lelaki ini. Ia bernapas lega karena makhluk ini menapakkan kakinya di atas lantai.
Tak ingin berlama-lama lagi, ia membuka kunci dan memutar knop pintu.
Cekleekkkkkkk...
"Ya Mas .... ada keperluan apa? Atau mencari siapa?"
"Aku mencari Lingga, Mbak!"
Lelaki itu berujar masih dengan memunggungi Lingga. Sedangkan Lingga semakin dibuat bertanya-tanya saat mendengar gelombang suara yang terdengar tidak asing di telinganya ini. Terlebih lelaki ini mencarinya.
"Iya Mas, saya Lingga. Maaf Mas nya ini siapa ya?"
Sosok lelaki itu mulai menggeser posisi tubuhnya. Ia mulai membalikkan badan namun kepalanya masih menunduk. Perlahan wajah itu mendongak dan sukses membuat Lingga terkejut setengah mati.
"B-Banyu...."
"Apa kabar Lingga?"
.
.
. bersambung...
__ADS_1