
Brummm .... brummm... brummm...
Deru suara mesin mobil terdengar menggema memekak telinga. Kuda besi itu melesat, memasuki halaman luas sebuah rumah berbentuk limasan dengan ornamen Jawa yang begitu kentara. Sejenak kemudian, mobil dengan bentuk kodok itu berhenti tepat di depan teras.
Seorang laki-laki berpakaian kemeja motif bunga sakura lengan panjang dan dimasukkan ke dalam celana formal yang ia kenakan, nampak keluar dari balik kemudi. Sebuah sisir kecil berwarna pink yang ia simpan di dalam dashboard tidak lupa untuk ia ambil. Laki-laki itu menyisir rambutnya yang nampak klimis akibat minyak cem-ceman yang ia pakai. Sesekali, ia menatap bayang wajahnya yang terpantul di dalam spion mobil. Senyum manis pun tersungging di bibirnya.
"Sempurna!"
Lelaki berumur kurang lebih tiga puluh lima tahun itu mengayunkan tungkai kakinya memasuki area teras. Ia berdiri tepat di depan pintu dan mengetuknya.
Tok.. tok...tok...
"Dek Lingga ... Dek Lingga cantik... Mas Sapto datang!"
Lingga yang sedang berada di ruang tengah bersama teman-temannya saling melempar pandangan di saat suara tamu yang berkunjung di pagi hari ini mulai terdengar di dalam indera pendengaran. Tak lama, mereka tergelak seketika.
"Ling .... itu, pujaan hatimu sudah datang. Bersiap-siaplah," ucap salah seorang teman Lingga yang bernama Lastri sambil terkekeh pelan.
"Iya Ling cepat kamu bukakan pintu, kasihan jika kangmas Sapto terlalu lama menunggu," sambung teman Lingga yang bernama Sutri.
Lingga yang sedang membereskan mangkuk kotor bekas bubur ayam yang ia makan hanya bisa berdecak lirih. Lagi-lagi pagi harinya ini diusik oleh kedatangan Sapto.
"Mengapa dia belum menyerah ya? Padahal selama dua minggu ini aku selalu menolak kedatangannya."
Ambar yang juga tengah berdiri di samping Lingga juga turut terkekeh geli. "Coba kamu terima tawarannya untuk mengantarkanmu sampai pabrik, Ling. Setelah itu aku yakin, dia tidak akan mengganggumu lagi."
__ADS_1
"Terlalu berisiko Am. Iya kalau dia berhenti, kalau dia malah semakin gencar ke sini? Apa tidak hanya membuatku kebingungan setengah mati?"
"Lalu, sekarang kamu mau bagaimana Ling? Mau kamu tolak lagi?" tanya Ambar masih sambil terkikik.
"Ya memang harus seperti itu Am. Aku tidak mau jika aku menerima tawarannya untuk mengantarku justru hanya akan menjadi bumerang untukku."
"Ya sudahlah terserah kamu. Siap-siap saja setiap hari mas Sapto akan datang kemari. Sepertinya ia salah satu tipe laki-laki yang pantang menyerah sebelum tercapai angan dan citanya, hihihi hihihihi."
"Issshhh ... kamu ini kayaknya senang sekali melihat aku tersiksa seperti ini Am."
Lingga menyiapkan hati sebelum menemui lelaki bernama Sapto yang sudah berdiri di depan teras. Ia selalu merapalkan doa semoga selalu diberikan kesabaran ketika berkomunikasi dengan lelaki itu. Karena ada saja yang membuatnya merasa gemas jika harus berhadapan dengannya.
Sapto, lelaki berusia tiga puluh lima tahun yang tak lain tak bukan adalah putra dari pemilik pabrik pengolahan jamu dimana Lingga menjalani diklat. Sejak pertama bertemu dengan Lingga di dua minggu yang lalu, lelaki itu gencar untuk mendekati Lingga. Setiap pagi ia selalu menawarkan diri untuk menjemput Lingga meskipun selalu mendapatkan penolakan. Dan hampir setiap malam, lelaki itu selalu mengirimi Lingga dengan beraneka makanan, seperti martabak telor, martabak manis, roti bakar, jagung bakar dan lain sebagainya. Lagi-lagi lelaki itu tidak menyerah meskipun sebanyak itu pula Lingga menolaknya.
Sapto yang selalu mengirimkan makanan untuk Lingga, justru menjadi keberuntungan bagi teman-teman satu kontrakan. Bisa dipastikan mereka tidak pernah mengalami apa itu kelaparan ketika malam datang.
Sapto tersenyum lebar. Ia hembuskan napas melalui mulut yang ia halangi dengan telapak tangan kemudian ia usapkan di rambut klimisnya.
"Selamat pagi dek Lingga. Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?"
Lingga hanya bisa nyengir kuda. "Iya Mas, nyenyak kok. Terima kasih untuk obat nyamuk yang mas Sapto kirimkan kemarin. Berkat obat nyamuk itu, nyamuk-nyamuk di kamarku hilang seketika."
"Ah dek Lingga ... kamu jangan berterima kasih seperti itu. Itu sudah menjadi kewjibanku untuk membuatmu tertidur nyenyak. Apa obat nyamuknya kurang? Jika kurang, nanti biar mas Sapto kirimkan lagi."
Lingga hanya bisa terperangah. Ia ingat lima karton besar obat nyamuk yang dikirimkan oleh Sapto, bisa mabuk obak nyamuk jika seandainya ia menerima kiriman obat nyamuk itu lagi.
"Tidak, tidak perlu Mas. Obat nyamuknya masih ada kok. Dan masih cukup sampai tiga bulan ke depan."
__ADS_1
"Benar masih cukup?" ulang Sapto dengan mata menelisik.
"Iya Mas, sudah cukup."
"Ya sudah, kalau begitu ayo Mas Sapto antar dek Lingga ke pabrik. Mobil Mas Sapto baru saja Mas mandikan dengan bunga tujuh rupa loh Dek. Mas Sapto yakin baunya akan wangi. Dan membuat dek Lingga nyaman."
"Hehehehe ... aku berangkat ke pabrik bareng teman-teman saja ya Mas. Tidak enak jika tidak bersama mereka. Karena bagaimanapun juga, aku harus berada di dalam satu rombongan yang sama."
"Alaah ... sudahlah Dek, kamu berangkat sama Mas Sapto saja. Mas Sapto jamin jauh lebih nyaman. Ya, ya, ya?"
Lingga hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia hampir menyerah bagaimana caranya untuk menolak lelaki ini.
"Maaf ya Mas, aku tidak terbiasa naik mobil seperti itu. Jadi aku khawatir akan muntah. Nanti kalau sampai aku mabok perjalanan, eman mobil Mas Sapto jadi bau."
Sapto nampak sejenak berpikir. "Oh begitu ya Dek. Baiklah, Mas Sapto bisa mengerti. Kalau begitu Mas akan menunggumu sampai mobil jemputan dari pabrik tiba."
Lingga hanya bisa membuang napas lega. Akhirnya, ia bisa terbebas dari lelaki ini.
Sukur... sukur... semoga setelah ini dia tidak lagi datang kemari. Aku benar-benar risih dibuatnya.
.
.
. bersambung...
Ulalaalaaa .... Banyu punya saingan nih... hihihihi. Kira-kira yang jadi jodoh Lingga siapa ya?? Sapto atau Banyu?? 🤣🤣🤣
__ADS_1