
"Apa lagi yang kurang Nduk? Biar Bapak carikan."
Siang ini Prasojo dan Maryati bertandang ke rumah Lingga untuk membantu wanita itu bersiap-siap untuk keberangkatannya ke Jogja sore nanti. Wanita itu nampak begitu antusias memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam sebuah tas yang lumayan besar.
"Sudah Pak, ini semua sudah lebih dari cukup. Bahkan saya tidak tahu harus melakukan apa untuk semua kebaikan Pak Pras dan Bu Mar ini."
Lingga sampai tak mengerti harus melakukan apa untuk semua kebaikan yang dilakukan oleh sepasang paruh baya ini. Sebuah ponsel Maryati berikan untuknya meskipun ponsel itu hanya ponsel yang bisa untuk telepon dan berkirim pesan saja. Namun bagi Lingga, ponsel yang diberikan oleh Maryati ini sudah cukup memberinya kemudahan dalam berkomunikasi terlebih berkomunikasi dengan Putra, yang tak lain merupakan laki-laki yang mengajaknya untuk mengikuti pelatihan ini.
Tidak hanya itu saja. Maryati bahkan membelikan beberapa potong pakaian baru. Wanita paruh baya itu tahu bahwa pakaian yang dimiliki oleh Lingga lebih banyak merupakan pakaian-pakaian khas wanita pedesaan, yang lebih cenderung pada model kebaya dan kain jarik. Oleh karenanya ia belikan beberapa potong pakaian baru untuk Lingga yang pastinya akan jauh lebih nyaman untuk ia kenakan saat melakukan pelatihan nanti. Rok-rok panjang, celana jeans, kaos, blouse, dan kemeja ia belikan untuk Lingga.
"Kamu tidak perlu berkata seperti itu Nduk. Bagi Bapak dan Ibu, kamu sudah seperti anak kami sendiri. Jadi anggap saja apa yang kami lakukan ini seperti apa yang dilakukan kedua orang tuamu," ujar Maryati dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih banyak Bu."
"Oh iya, apakah kamu sudah memiliki bekal materi untuk hidup di Jogja nanti Nduk?" ujar Prasojo menimpali perbincangan antara Lingga dan istrinya ini.
__ADS_1
Lingga menganggukkan kepala. "Sudah Pak, kebetulan saya memiliki uang simpanan hasil keuntungan berjualan jamu dan bisa saya gunakan sebagai bekal hidup di Jogja selama mengikuti pelatihan."
"Syukurlah Nduk, Bapak ikut tenang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan ayam-ayam peliharaanmu Nduk?"
Lingga nampak terperanjat saat mendengar penuturan Maryati. Terlalu sibuk menyiapkan semua perlengkapan yang akan ia bawa ke Jogja, sampai-sampai membuatnya lupa akan ayam-ayam peliharaannya.
"Astaga, saya sampai lupa kalau memelihara ayam Pak. Emmmm .... bagaimana ya? Apa saya jual saja semua ya Pak? Daripada tidak ada yang merawat?"
Prasojo juga terlihat ikut memutar otak untuk bisa mengambil jalan terbaik. Lama lelaki paruh baya itu nampak berpikir dan pada akhirnya senyum simpul terbit di bibirnya.
"Apa tidak merepotkan pak Parmin, Pak? Takutnya pak Parmin banyak kerjaan."
"Bapak rasa tidak Nduk. Setiap pagi dan sore biarkan Parmin memberi makan ayam-ayam peliharaanmu terlebih dahulu."
Lagi-lagi, Lingga hanya bisa tersenyum penuh syukur. Selalu saja ia dikelilingi oleh orang-orang yang menjadi jalan kemudahan baginya di saat berada di dalam kepelikan. Ia pun teringat akan satu hal. Dan ia rasa Prasojo dan Maryati lah adalah orang yang tepat untuk ia mintai tolong.
Lingga berjalan ke arah almari pakaian. Ia ambil sebuah stop map warna hitam dan kembali mendekati Prasojo dan Maryati.
__ADS_1
"Pak, Bu, selama saya mengikuti pelatihan, saya titip ini kepada Bapak dan Ibu," ujar Lingga sembari mengulurkan stop map warna hitam itu.
Prasojo dan Maryati saling melempar pandangan. Kening keduanya nampak berkerut dalam. Sebagai isyarat bahwa mereka keheranan.
"Ini apa Nduk?"
"Ini adalah surat perjanjian bermetrai dari mbak Ningrum dan mas Heru perihal rumah ini, Bu. Jadi di dalam surat ini, mbak Ningrum dan mas Heru sudah berjanji bahwa tidak akan pernah mengusik rumah ini. Saya khawatir saat melihat rumah ini kosong, mbak Ningrum akan kembali mengusik. Oleh karena itu saya titip surat ini kepada Bapak dan Ibu yang bisa digunakan sebagai senjata apabila mbak Ningrum nekat melakukan hal itu."
Maryati menerima stop map yang di ulurkan oleh Lingga. "Baiklah Nduk, akan Ibu simpan stop map ini."
Lingga tersenyum lega. Dengan seperti ini, ia bisa ke Jogja dengan perasaan yang tenang. "Terima kasih Pak, Bu. Terima kasih."
.
.
. bersambung...
__ADS_1