
Lingga mondar-mandir di dalam kamar mandi sembari menggigit-gigit ujung kuku jari telunjuknya. Otaknya serasa buntu saat menyadari bahwa ia lupa membawa bathrobe untuk bisa menutupi tubuhnya ketika keluar dari dalam kamar mandi.
"Mas ... Mas ... tolong ambilkan bathrobe dong. Aku lupa hanya membawa handuk saja!"
Lingga berteriak memanggil sang suami untuk mengambilkan bathrobe. Namun sayang, tidak ada sedikitpun sahutan dari Banyu.
Aduhhh ... masa iya aku harus keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk seperti ini? Meskipun aku dan Banyu sudah sah menjadi suami istri tapi tetap saja aku merasa malu.
Lingga malah justru sibuk bermonolog lirih. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, namun wanita yang untuk kedua kalinya menyandang gelar seorang istri itu justru terlihat ribet sendiri. Padahal tinggal sat, set, sat, set kan proses malam pertama itu bisa segera hadir. Eh ini dia malah masih angkrem di kamar mandi. Hingga pada akhirnya, Lingga memilih untuk keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk.
Lingga melihat ke arah ranjang. Nampak Banyu sudah larut di dalam buaian mimpinya. Lingga bisa sedikit bernapas lega, karena setidaknya prosesi malam pertama tidak akan terjadi pada malam hari ini. Ia berjalan dengan berjinjit menuju almari berharap agar pergerakan kakinya tidak terdengar di telinga Banyu.
Lingga membuka almari dan mencari bathrobe. Namun betapa terkejutnya ia ketika tidak ia temukan bathrobe di sana. Yang ia lihat justru pakaian-pakaian haram dengan beraneka warna dan model. Lingga seakan kesusahan menelan cairan salivanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya ia jika mengenakan pakaian ini di hadapan Banyu. Pakaian-pakaian haram inilah yang membuat tubuh Lingga terpaku dan membeku.
Banyu membuka kedua kelopak matanya. Sedari tadi, ia hanya berpura-pura memejamkan mata. Bahkan ia pun masih mengenakan handuk. Dengan perlahan ia mendekat ke arah Lingga.
__ADS_1
Hap!!!
Banyu berhasil memeluk tubuh Lingga dari arah belakang. Lelaki itu meletakkan kepalanya di ceruk leher Lingga sembari menikmati harum aroma tubuh istrinya ini.
"Mas ..... aaahhhh..."
Bak tersengat aliran arus listrik, Lingga merasakan sensasi berbeda saat bibir Banyu menyentuh ceruk lehernya. Bahkan tidak hanya sampai di sana saja, Banyu juga mulai menghisap leher sang istri dengan penuh gairah. Persis drakula yang menghisap darah korbannya.
"Emmmpphhh Sayang, aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menyatukan raga denganmu. Aku benar-benar ingin .... ahhhhhhh...."
Ucapan Banyu terpangkas kala jemarinya menyentuh dua benda padat nan sintal yang masih terhalang oleh handuk. Tanpa basa-basi, Banyu membuka handuk yang dipakai oleh Lingga. Kini genggaman tangannya berhasil menyentuh dua benda padat nan sintal itu tanpa terhalang oleh sehelai benang pun.
Perlahan, Banyu juga melepaskan handuk yang ia kenakan. Hingga kini potongan roti sobek dengan sosis jumbo terpampang jelas di depan mata Lingga. Wanita itu bahkan sampai membelalakkan mata, karena baru kali ini ia melihat sesuatu se-waow ini.
Banyu tergelak lirih. Ia raih jemari tangan Lingga dan ia tuntun untuk memegang sosis jumbo miliknya ini. "Ini semua sudah menjadi milikmu Sayang. Kamu boleh melakukan apapun kecuali satu!"
"A-apa Mas?"
__ADS_1
"Dipotong. Kalau dipotong otomatis aku akan menjadi buaya buntung."
Lingga hanya terkekeh geli. Ia mulai memberikan pijatan-pijatan lembut yang membuat mata Banyu merem melek. Tanpa dituntun Lingga mengambil posisi jongkok dan mulai mengeksekusi milik suaminya ini dengan menggunakan mulutnya.
"Aaahhhh Sayang .... kamu benar-benar nakal!"
Seperti tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, rasa nikmat yang bercampur dengan rasa geli menguasai tubuh Banyu. Rasa-rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera menyatukan raga untuk mereguk apa itu nikmat ragawi. Ia pun menegakkan tubuh Lingga dan membuatnya kembali berdiri. Tanpa membuang banyak waktu, ia membopong tubuh Lingga ala bridal style dan merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang.
"Sayang, bolehkah?" tanya Banyu dengan sorot mata yang penuh damba.
Sungguh pertanyaan yang begitu konyol. Sudah dalan mode na*fsu memuncak seperti ini bisa-bisanya Banyu meminta izin? Tidak minta izin pun pastinya Lingga akan mengizinkan bukan?
"Lakukanlah Mas. Aku pun juga telah menjadi milikmu seutuhnya. Dan kamu boleh melakukannya."
.
.
__ADS_1
. bersambung...