Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 75. Keheranan


__ADS_3


Banyu keluar dari ruangan dosen pembimbing dengan binar bahagia yang begitu kentara. Wajah pemuda itu nampak berseri-seri seperti mentari pagi yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Bulan depan ia akan wisuda menjadi sebuah kabar bahagia yang ia dapatkan.


Satu minggu kembali menginjakkan kakinya di kampus, menjadi hari-hari berat untuk Banyu. Berat bukan karena ada ospek seperti mahasiswa baru namun terasa berat karena ia berubah menjadi artis dadakan. Bagaimana tidak dadakan, hampir semua mahasiswa dan dosen yang ada di kampus ini memintanya untuk bercerita tentang apa yang ia alami saat tersesat di dalam pendakian.


Setiap hari ada saja yang ingin mendengar ceritanya secara langsung. Saking geregetannya, Banyu sempat bercerita di sebuah podcast yang dimiliki oleh anak-anak jurusan broadcasting tentang pendakiannya. Setelah ia bercerita melalui podcast itu, kehidupannya di kampus jauh terasa lebih tenang.


"Banyu tunggu!!!"


Banyu yang sedang melintas di lorong kampus hanya bisa membuang napas kasar saat suara wanita yang terus menerus memanggilnya itu masih saja terdengar di telinga. Entah ilmu apa yang dimiliki Villia ini, ia selalu saja bisa menemukan di mana persembunyiannya. Banyu yang sudah mati-matian menghindar dari wanita ini, selalu saja bisa ditemukan. Alhasil, hampir tiap jam Villia selalu gelendotan di tubuh Banyu.


"Ya ampun Sayang, kenapa jalan kamu ini cepat sekali sih? Aku sampai kesusahan untuk menyamakan langkah kakiku denganmu," keluh Villia sambil menggamit lengan tangan Banyu. Dan wanita itu bergelayut manja di pundak Banyu.


"Vi, stop. Jangan seperti ini. Aku risih!"

__ADS_1


Banyu mencoba untuk memberontak agar wanita ini tidak lagi bersikap seenaknya seperti ini. Namun Villia tetaplah Villia, tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup wanita itu. Meskipun tubuhnya sedikit terhempas namun lagi-lagi ia menggandeng lengan tangan Banyu kembali.


"Risih apa sih maksudmu? Seluruh lekuk tubuhku loh sudah kamu lihat dan kamu nikmati. Masa hanya aku gandeng saja kamu risih!"


Banyu terperangah. Volume suara Villia yang tidak bisa terkontrol ini sukses membuat orang-orang yang berada di sekeliling Banyu menatap heran ke arahnya.


"Benar-benar tidak tahu malu kamu Vi. Pelankan suaramu!"


"Haha Banyu, Banyu ... mengapa aku harus malu? Aku loh akan menjadi menantu keluarga Herlambang, jadi kenapa juga aku harus malu? Yang ada aku semakin bangga."


"Sayang, setelah ini kita jalan-jalan ke mall yuk. Sudah lama loh kita gak jalan-jalan!" pinta Villia dengan manja sambil meletakkan kepalanya di atas pundak Banyu.


"Aku tidak mau. Aku ada acara."


"Acara apa Nyu?"

__ADS_1


"Aku ada acara berkumpul bersama keluarga untuk makan malam bersama jadi setelah ini aku langsung pulang."


"Apa? Makan malam bersama keluarga?" kaget Villia. "Kalau begitu aku ikut Sayang. Om dan tante pasti akan senang sekali kalau aku ikut makan malam!"


Banyu be*go, kenapa juga kamu harus menggunakan alasan itu. Kalau seperti ini, bagaimana bisa kamu mengindar dari Villia? Lain kali kalau mencari alasan itu yang bisa dipastikan bahwa Villia tidak akan ikut. Mau ada acara gali sumur kek, memperbaiki saptitank kek, atau menghitung dua kilo ketumbar kek. Dengan begitu Villia tidak akan pernah ikut. Kalau seperti ini, kamu sendiri kan yang repot?


Banyu tiada henti membodoh-bodohkan dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia salah strategi untuk menghindari cewek ini.


"Iya, aku sudah ada acara makan malam bersama keluarga. Jadi tidak bisa aku lewatkan."


"Kalau begitu, antar aku pulang terlebih dahulu dan setelah itu aku ikut kamu untuk makan malam bersama."


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2