
Suara isak tangis memenuhi tiap sudut sebuah kamar berukuran empat kali tiga meter ini. Di kamar ini nampak terbaring lemah sosok seorang laki-laki yang tubuhnya hanya berbalut kain sarung. Matanya terbuka lebar. Menatap ke atas, ke arah langit-langit kamar. Ia hanya terdiam, sama sekali tidak melakukan apapun.
Di sekelilingnya sudah nampak orang tua dan beberapa kerabat yang mengerumuni. Mereka menangis bahkan ada yang meraung melihat raga yang sudah dipenuhi oleh luka-luka yang nampak membusuk. Semua pengobatan medis sudah diupayakan. Namun tetap saja, itu semua tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Semakin hari raga lelaki ini justru semakin lemah dan pada akhirnya hanya bisa berbaring di atas ranjang.
Nampak seorang pria dengan pakaian khas kejawen yang turut serta memantau apa yang terjadi terhadap sosok lelaki yang tengah terbaring ini. Sejak semalam, ia memang diminta oleh keluarga untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap lelaki ini. Setelah upaya pengobatan secara medis maupun alternatif dilakukan, mereka pun memilih untuk melakukan pengobatan melalui orang 'pintar' yang bisa jadi penyakit yang dialami oleh lelaki ini berhubungan dengan sesuatu yang tidak dapat diterima secara akal sehat.
"Jadi bagaimana Mbah? Apa ada hal-hal mistis yang menimpa Aldo, putra saya ini?"
Seorang wanita paruh baya mencoba untuk berkomunikasi dengan pria yang bernama mbah Sutaji itu dengan suara yang terdengar begitu parau. Entah sudah berapa lama ia menangis, yang pasti suaranya seakan habis dan matanya nampak begitu sembab.
Mbah Sutaji masih menatap lekat tubuh Aldo yang hanya tinggal tulang berbalut kulit itu sembari menganggukkan kepala. "Ya, dia kemakan sumpah yang ia ucapkan sendiri!"
Ibunda Aldo yang bernama Mirna itu hanya bisa membelalakkan mata. "Kemakan sumpah? M-maksud Mbah apa?"
Mbah Sutaji membuang napas kasar. "Ada rentetan-rentetan peristiwa yang membuat Aldo sampai ke titik kritis seperti ini. Dan ini semua terjadi pada saat dia mendaki gunung Slamet beberapa bulan yang lalu."
__ADS_1
Dahi Mirna mengernyit. "Mendaki di gunung Slamet. Maksud Mbah bagaimana? Saya benar-benar tidak paham."
"Aku minta tolong, hubungi semua orang yang ikut mendaki bersama Aldo di gunung Slamet beberapa bulan yang lalu. Dari sana, kita akan menemukan titik terangnya."
Mirna dan sang suami saling melempar pandangan. Nampak, mereka memikirkan hal yang sama. Keduanya bergegas keluar kamar yang kebetulan di ruang tamu ada beberapa anggota Mapala yang tengah datang untuk menjenguk. Dan diantara mereka ada Anggi, yang merupakan salah satu teman Aldo yang ikut mendaki.
"Nggi!" panggil Mirna ke arah gadis yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Anggi beranjak dari posisi duduknya dan bersegera mendekat ke arah Mirna. "Ya Tante, ada apa?"
"Tolong hubungi semua temanmu yang pada saat itu ikut mendaki di gunung Slamet. Minta mereka datang kemari sekarang juga."
"Jadi, apakah setelah teman-teman putra saya ini datang, dan kita mengetahui apa yang terjadi, Aldo bisa sembuh seperti sedia kala Mbah?"
Meskipun ada sebentuk rasa pesimistis, namun Mirna mencoba untuk tetap optimis. Ia hanya bisa berharap sang putra akan sembuh seperti sedia kala.
Lagi-lagi Mbah Sutaji hanya bisa membuang napas kasar. Hal seperti inilah yang terlampau berat untuk ia ungkapkan. Namun bagaimanapun juga, ia harus tetap mengutarakan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun karena semua tetap kembali kepada Tuhan yang menggenggam seluruh kehidupan di dunia. Namun, jika memang raga putramu ini tidak bisa bertahan, setidaknya ia bisa meminta maaf terhadap seseorang yang mungkin secara tidak langsung juga sudah ia buat celaka. Dan semoga orang ini bisa memaafkan semua kesalahan putramu, sehingga bisa meringankan apa yang saat ini tengah membelenggunya."
Bibir Mirna bergetar dengan jantung yang berdegup kencang. Tubuhnya seakan melemah tiada berdaya. Ia benar-benar prihatin dengan apa yang dialami oleh putranya ini. Wanita paruh baya itupun hanya bisa menatap iba sosok manusia yang mungkin tinggal menunggu waktu untuk berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Kuasa ini.
"Sebenarnya kesalahan apa yang sudah kamu lakukan, Nak? Yang membuat ragamu begitu tersiksa seperti ini?" ucap Mirna masih sambil menatap lekat wajah sang putra.
Jantungnya semakin berdenyut nyeri saat melihat napas Aldo yang sudah terputus-putus. Persis seseorang yang sedang menghadapi kematiannya. Bahkan tulang pipi putranya ini nampak begitu menonjol sehingga membuat kesan tua di wajahnya. Sosok sang putra yang sebelumnya begitu gagah dengan tubuh tegap dan berisi, kini benar-benar kurus kering seakan tidak ada gumpalan daging yang membalutnya.
"Tante, Banyu dan Selly sudah tiba!"
Pekikan suara Anggi membuyarkan lamunan Mirna. Wanita paruh baya itu bangkit dari posisinya dan gegas menemui kedua teman putranya ini.
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Kita selesaikan perkara Banyu dan yang lainnya terlebih dahulu ya Kak... Jadi untuk Lingga, mungkin di beberapa part ke depan tidak hadir terlebih dahulu. Dia sedang bantuin authornya untuk goreng ayam Krispy 😅😅😅😅
Hari Senin datang lagi Kakak.. Jangan lupa Vote, vote, vote, biar author yang kebelet pemes ini bisa segera pemes🤣🤣🤣 Terima kasih kakak-kakak tersayaanggggg🥰🥰🥰