
Di ruang CCTV
Setetes bulir bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Ambar kala melihat sajian yang terpantul dari sebuah layar datar di hadapannya. Hatinya seakan diserang oleh rasa haru dan bahagia secara bersamaan hingga membuat wanita itu sesenggukan. Terharu dengan begitu manisnya acara lamaran yang diam-diam direncanakan oleh Sapto dan bahagia karena saat ini sahabatnya ini benar-benar telah disatukan dengan tambatan hatinya. Itu semua menjadi awal, awal dari kebahagiaan untuk seorang Lingga Sari Andini.
Sapto yang berada di samping Ambar juga tiada henti melukiskan senyum kebahagiaan. Pada akhirnya, ia bisa mengalah dari ego yang ia miliki untuk mengejar seseorang yang memang tidak pernah mencintainya. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa tingkat tertinggi dari rasa cinta terhadap seseorang itu adalah mengikhlaskan, maka saat ini Sapto sedang berada di dalam fase itu. Ia mengikhlaskan Lingga untuk kebahagiaan wanita itu sendiri. Memang sulit, namun apa yang sudah ia upayakan sudah cukup menjadi bukti bahwa ia bukanlah tipe lelaki yang memaksakan kehendak.
"Aku benar-benar kagum dengan mas Sapto. Mas Sapto bisa mengikhlaskan Lingga dengan cara seperti ini. Bahkan, mas Sapto yang terjun langsung untuk keberhasilan rencana ini."
Suasana yang sebelumnya hening, kini dipecah oleh suara Ambar yang terdengar memenuhi sudut-sudut ruangan. Wanita itu tidak bisa untuk tidak memuji semua pengorbanan yang dilakukan oleh anak tunggal dari pimpinan PT Sido Mundur yang begitu manis ini. Tidak dapat ia ingkari, di dalam sudut hati terdalamnya, ia mengagumi sosok lelaki ini.
Sapto tersenyum penuh arti. Anak tunggal yang biasanya bersikap semau sendiri dan begitu egois, nyatanya tidak terjadi pada lelaki itu. Ia terlihat jauh lebih mengedepankan hati daripada egonya sendiri.
"Aku hanya menunaikan apa yang semestinya aku tunaikan Dek. Bisa melihat dek Lingga bahagia sudah cukup membuatku bahagia juga. Ya, meskipun saat ini aku harus berjuang lebih keras lagi untuk mencari calon istri."
Ada sinyal kegetiran dari ucapan yang dilontarkan oleh Sapto meskipun sudah ia coba untuk menutupinya dengan kekehan kecil. Ambar begitu paham bahwa saat ini pria itu sedang mencoba untuk membalut sendiri luka tak kasat mata yang ia rasakan.
"Aku yakin mas Sapto akan segera bertemu dengan jodoh terbaik yang memang sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk mas Sapto. Bukankah ketika satu pintu kebahagiaan tertutup akan terbuka pintu kebahagiaan yang lain? Sama halnya dengan jodoh. Terlebih mas Sapto adalah lelaki yang baik, pastinya akan segera dipertemukan dengan jodoh yang baik pula."
Ambar tidak asal berbicara. Kebaikan yang dilakukan oleh Sapto, bisa jadi menjadi sebuah jalan bagi lelaki itu menemukan kebahagiaannya yang lain. Setiap kebaikan yang ditanam, pasti akan menuai kebaikan pula. Begitu juga dengan Sapto sendiri.
__ADS_1
Pandangan Sapto yang sebelumnya intens menatap sebuah layar datar yang ada di hadapannya, kini bergeser ke arah samping di mana Ambar berada. Ia tatap lekat wajah wanita yang ada di sampingnya ini dan senyum manis pun terbit di bibirnya. Ia baru sadar bahwa Ambar juga tidak kalah cantik dengan Lingga. Entah apa yang terjadi kepadanya. Mengapa ia jauh lebih mudah terpesona dengan wanita-wanita dengan status janda? Padahal ia bisa mencari para gadis di luar sana yang mungkin statusnya masih perawan.
"Semisal pintu kebahagiaanku yang lain itu adalah kamu, apa kamu bersedia menerima kehadiranku Dek?"
Ambar sedikit terperanjat. Ia yang sebelumnya juga menatap intens layar datar di hadapannya, kini ia tautkan pandangannya ke arah Sapto. Pandangan mereka pun saling bersiborok.
"Maksud mas Sapto apa?"
Sapto mengulas sedikit senyumnya. "Daripada aku mencari-cari kebahagiaan lain di luar sana, bagaimana jika aku yang memintamu untuk menjadi pintu kebahagiaan itu? Maksudku, bagaimana kalau saat ini aku melamarmu untuk menjadi pendamping hidupku?"
Ambar begitu terkejut mendengar ucapan Sapto ini. "Itu artinya aku berperan sebagai pelarian atas luka yang mas Sapto rasakan?"
Sapto menggelengkan kepala. Ia raih jemari tangan Ambar untuk berusaha memangkas segela prasangka buruk yang mungkin berkecamuk di dalam kepala wanita ini.
Ambar masih terdiam dan membisu. Ia mencoba untuk mencari kebohongan melalui sorot mata lelaki ini. Namun semakin lekat ia menatap, yang terpancar justru binar ketulusan.
"Aku tidak bercanda Dek. Aku serius untuk mengajakmu berumah tangga. Apakah kamu bersedia?"
Ambar membuang wajah. Mencoba untuk menghindari tatapan Sapto. Meski ia merasakan sebuah kebahagiaan, namun ada satu perasaan yang mengganjal di hatinya.
"Tapi aku bukan perawan, Mas. Aku hanyalah seorang wanita yang pernah mengalami kegagalan di dalam mempertahankan sebuah ikatan pernikahan. Aku tidak ingin membuat mas Sapto dan keluarga merasa malu karena memiliki seorang istri dan menantu seorang janda. Aku belum siap untuk menerima sebuah penolakan dari keluarga besar mas Sapto."
__ADS_1
Sapto tergelak pelan. Jemari tangannya lebih erat menggenggam jemari tangan milik Ambar. "Kamu tidak perlu risau. Karena aku tidak pernah mempermasalahkan perihal status calon istriku."
"Lalu, bagaimana dengan pak Broto dan bu Broto? Apakah mereka juga bersedia untuk menerima menantu yang notabene seorang janda?"
Sapto mengangguk mantap. "Itu sudah pasti Dek. Karena mereka menyerahkan perihal pendamping hidup sepenuhnya kepadaku. Siapa yang aku pilih, mereka juga pasti akan menerimanya. Bagaimana? Apakah kamu bersedia?"
Ambar tersipu malu. Ia pun hanya bisa menundukkan kepala sembari mengangguk pelan. "I-Iya Mas, aku bersedia."
Senyum manis kembali terbit di bibir Sapto. Ia rogoh saku kemeja yang ia pakai dan ia ambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah kotak cincin berwana merah nampak jelas di hadapan Ambar. Hal itulah yang membuat Ambar terperangah tiada percaya.
Sapto membuka kotak cincin itu, mengambil sebuah benda berwarna putih yang nampak berkilau. Ia pun menyematkan cincin itu di jari manis Ambar.
"Cincin ini sebagai bukti bahwa aku tidak menjadikanmu sebagai pelarian. Karena sesungguhnya, aku juga sudah merencanakan ini semua sejak aku memintamu membantuku untuk membuat acara lamaran untuk Banyu dan Lingga ini, Dek."
.
.
. bersambung...
Hari Senin datang lagi kakak... Jangan lupa Vote, Vote, Vote agar saya lebih bersemangat lagi 😘😘😘😘 Maacih kakak-kakak tersayang..., ❤️❤️❤️
__ADS_1
Yuk, yuk, yuk, yang belum singgah di GAG, jangan lupa untuk singgah ya kak.. Hihihi berikan juga. dukungan kakak-kakak semua di sana. Yang masih takut untuk membaca, berikan jempolnya dulu gak apa-apa🤣🤣🤣🤣