
"Astaga Hantu!!!"
Tubuh Kinanti terperanjat saat melihat sosok makhluk berwujud aneh yang baru sekali ia lihat seperti yang ada di depannya ini. Gegas, wanita paruh baya itu berlari terbirit-birit.
"Tante, ini aku Villia. Aarrrgghhh... sialan!!"
Villia mendengus kesal. Setelah tercebur ke dalam lumpur di mana tidak ada seorang pun yang menolongnya, kini saat tiba di rumah Prasojo pun juga dianggap sebagai hantu. Bukan hanya itu saja penderitaan yang ia alami. Saat di perjalanan pulang, wanita itu tidak henti diganggu oleh anak-anak kecil yang tengah bermain.
"Orang gila ... orang gila... orang gila!!"
Kata-kata sadis yang mereka ucapkan sambil melempari Villia dengan kerikil-kerikil kecil. Hal itulah yang membuat perempuan itu ingin cepat-cepat tiba di kediaman Prasojo. Namun di sini pun, ia juga mendapatkan perlakuan yang tidak kalah mengenaskan.
"Apa? Kamu Villia?" teriak Kinanti sambil bersembunyi di balik gordyn.
"Iya Tante, ini Villia. Villia baru saja diseruduk kerbau dan tercebur di sawah!"
Tubuh Kinanti sontak terperanjat. Gegas, ia kembali menghampiri calon menantunya yang masih berdiri di depan teras itu.
"Ya ampun Vi... Mengapa kamu jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Aduh Tante, nanti saja aku ceritanya. Sekarang bantu aku untuk membersihkan lumpur ini Tan!" rengek Villia sambil mengusap-usap pakaiannya.
__ADS_1
Kinanti memutar otak untuk bisa membantu Villia. Wanita paruh baya ini mengedarkan manik matanya ke arah sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Pada akhirnya pandangan matanya tertuju pada kran air yang berada di pojok halaman. Dan kebetulan sekali, sudah ada selang yang menempel di sana.
Kinanti menarik lengan tangan Villia. "Ayo ikut Tante!"
Villia menurut dan pada akhirnya, tubuh perempuan itu disiram dengan air melalui kran di sudut halaman kediaman Prasojo ini. Villia yang berteriak-teriak ketika disiram menggunakan selang air itu justru membuat pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah Prasojo. Tak ayal teriakan itulah yang membuat Villia sebagai tontonan geratis bagi warga.
Sedangkan seorang pemuda yang melihat pergerakan sang mama dengan perempuan yang mengaku-ngaku sebagai calon istrinya itu hanya bisa tersenyum sinis. Hatinya pun juga turut bersorak-sorai seakan puas dengan apa yang dialami oleh Villia.
"Bahkan alam pun memberikan isyarat bahwa apa yang keluar dari mulutmu itu merupakan kebohongan," lirih Banyu.
***
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Tidak mungkin bukan jika kamu terus menerus tinggal di desa ini?"
Pandu yang tengah duduk bersama Banyu di pendopo yang terletak di depan rumah Prasojo, mencoba untuk membuka pembicaraan. Meskipun baru dua hari ia dan keluarga tinggal di rumah kamituwo kampung ini, namun rasanya sangat tidak sopan jika mereka tidak segera mengambil keputusan.
"Entahlah Bang, aku juga belum bisa memutuskan apapun."
"Apakah itu semua karena wanita bernama Lingga itu? Apakah kamu benar-benar mencintainya? Dan bukan karena rasa ingin membalas budi karena wanita itulah yang sudah menyelamatkanmu dari dimensi lain itu?" tanya Pandu yang ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh adik semata wayangnya ini.
Banyu menggelengkan kepala. "Tidak Bang, aku benar-benar tulus mencintai Lingga dan bukan karena ingin membalas budi. Entah, baru kali ini aku merasakan perasaan yang teramat dalam seperti ini."
"Aku dengar dari pak Pras, Lingga adalah seorang janda. Kamu yakin mencintai seorang janda? Padahal masih banyak perawan di luar sana. Apa kamu tidak merasa malu?"
__ADS_1
Statusnya saja yang janda. Namun sejatinya ia adalah perawan. Jadi bisa dikatakan Lingga adalah janda bersegel. Namun biarkan ini menjadi rahasiaku saja.
"Aku tidak perduli Bang. Kebaikan, ketulusan serta kemurnian hati Lingga lah yang membuatku begitu mencintai wanita itu. Sinar yang terpancar dari dalam dirinya yang membuatku tergila-gila dengan Lingga dan ingin sekali aku menikahinya."
Pandu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Sejak pertama melihat sosok Lingga, sejatinya ia pun juga bisa melihat pancaran sinar kebaikan dan ketulusan hati wanita itu. Namun bagaimanapun juga saat ini masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan oleh Banyu terlebih dahulu.
"Aku tahu betul apa yang sebenarnya kamu rasakan. Namun, kita tidak bisa berlama-lama berada di tempat ini, Nyu. Kamu harus kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan semua kewajibanmu sebagai seorang mahasiswa. Dan pastinya menyelesaikan semua permasalahanmu dengan Villia."
Banyu yang sebelumnya menatap pohon mangga yang berdiri kokoh di depan mata, kini ia alihkan pandangannya ke arah sang kakak yang duduk di sampingnya. "Apakah benar aku ini kekasih Villia, Bang? Ataukah ini semua hanya akal-akalannya saja?"
"Yang aku tahu kamu memang sedang menjalin kasih dengan Villia. Villia lah yang menjadi kekasihmu sejak kamu masuk ke perguruan tinggi. Maka dari itu orang tua kita dan orang tua Villia sudah merencanakan pertunanganmu setelah kamu wisuda nanti. Namun yang terjadi seperti ini. Kamu hilang dalam pendakian dan hilang ingatan."
"Tapi, mengapa aku sama sekali tidak merasakan getar-getar asmara kepada Villia, Bang? Bahkan rasa-rasanya aku membenci wanita itu."
Pandu tersenyum simpul sambil menepuk-nepuk pundak Banyu. "Maka dari itu, segera pulang ke Jakarta. Dengan begitu, sedikit demi sedikit kamu bisa mengingat semuanya."
"Lalu, Lingga?"
"Percayalah, jika memang Lingga adalah jodohmu, sejauh apapun kalian terpisah pasti akan kembali dipertemukan."
.
.
__ADS_1
. bersambung. .
Hari Senin datang lagi Kakak... jangan lupa VOTE nya yah.. 😘😘😘😘