Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 112. Sweet


__ADS_3


Tubuh Banyu terpaku dan membeku kala melihat sosok wanita yang kini berdiri di hadapannya. Wanita ini nampak cantik dan anggun sekali dengan balutan midi dress berwarna biru dongker itu. Bahkan riasan wajahnya nampak begitu cantik meskipun riasan itu sangat natural.


"Mau berdiri saja?" tanya Lingga dengan kekehan kecil dari bibirnya.


Banyu pun tekesiap. Ia raih telapak tangan Lingga dan ia ajak untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh si pembuat skenario lamaran dadakan ini. Siapa lagi jika bukan Sapto dan si penulis πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


"Duduklah Sayang."


Setelah memastikan sang pujaan hati telah duduk dengan sempurna, Banyu mengitari meja dan menuju ke arah kursi yang berada di hadapan Lingga. Pemuda itu pun kembali meraih jemari tangan Lingga namun kini ia kecup dengan intens.


"Kamu cantik sekali malam ini Sayang. Aku tidak pernah melihatmu berdandan dan ketika berdandan seperti ini aku sampai bertanya-tanya, bidadari dari mana ini?"


Lingga tergelak lirih mendengar ucapan Banyu yang selalu konyol ini. "Bidadari turun dari becak mungkin!"


Keduanya pun sama-sama tergelak.


"Oh iya Sayang, apakah kamu terkejut dengan apa yang disiapkan oleh Sapto ini?"


Lingga menganggukkan kepala. "Jelas aku terkejut Nyu. Aku kira mas Sapto lah yang akan melamarku. Aku sampai memutar otak untuk menolaknya secara halus agar tidak menyinggung perasaannya. Namun ternyata yang datang adalah kamu."

__ADS_1


Banyu sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Lingga ini. "Betul sekali Sayang, ternyata dibalik sikapnya yang menyebalkan, Sapto merupakan lelaki yang baik dan berhati tulus. Kira-kira apa ya yang harus kita lakukan untuk membalas semua kebaikannya?"


Lingga terkekeh pelan. Sejatinya jauh-jauh hari ia telah memiliki sebuah rencana. "Bagaimana kalau kita comblangin dia sama Ambar, Nyu? Aku rasa mereka sangat cocok."


Wajah Banyu sedikit berbinar. Ia merasa ide calon istrinya itu sangat cemerlang. "Waahhhh ... benar juga itu Sayang. Aku yakin mereka akan menjadi pasangan yang sangat romantis."


"Betul itu Nyu." Lingga memperhatikan dengan lekat suasana sekitar yang dipenuhi oleh bunga-bunga asmara, eh salah maksud penulis bunga-bunga mawar🀣 "Lalu, sekarang apa yang akan kita lakukan di sini ya Nyu?" sambung Lingga pula sedikit kebingungan.


Pertanyaan Lingga berhasil membuat Banyu berpikir keras. Secara, malam ini adalah malam lamaran tapi tidak ada cincin yang ia bawa. Pemuda itu terlihat kebingungan setengah mati. Dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Di sela kebingungan yang dirasakan oleh Banyu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Nampak seorang laki-laki dengan pakaian yang tidak kalah rapi memasuki ruangan. Ia pun mendekati Banyu yang tengah kebingungan.


Lagi-lagi Banyu dibuat terkejut. Ternyata Sapto juga sudah mempersiapkan cincin untuknya. Benar-benar baik tuh orang -batin Banyu-. Banyu menerima kotak itu dan si lelaki mulai melenggang pergi meninggalkan ruangan.


Banyu beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekat ke arah Lingga dan menggunakan lututnya untuk bersimpuh di hadapan wanita ini. Ia buka kotak beludru ini dan ia perlihatkan ke arah Lingga.


"Sayang .... mungkin aku bukan tipe lelaki romantis yang bisa menggunakan kata-kata puitis di depanmu. Bahkan acara semanis ini pun bukan aku yang menyiapkannya. Namun Sayang, sejak pertama bertemu denganmu, aku sudah terperangkap di dalam jerat cinta yang kamu miliki. Aku selalu kesulitan bernapas jika jauh darimu. Dan akupun juga merasakan kehampaan, kekosongan jika tidak ada kamu. Oleh karena itu, bersediakah engkau menjadi udaraku, yang memenuhi rongga-rongga dadaku? Menjadi seseorang yang mengisi kekosongan dan kehampaan ruang hatiku? Menjadi istriku? Dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak Sayang? Jika kamu bersedia, ambil cincin ini dan jika kamu menolak, tutup kembali kotak beludru ini!"


Lingga hanya terpaku mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Banyu. Ia akui, baru kali ini ia diperlakukan manis oleh seorang laki-laki. Bahkan dulu sang mantan suami tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini.


Tanpa terasa bulir bening dari pelupuk mata Lingga menetes seketika. Dengan tangan bergetar, ia meraih cincin itu. "Aku menerimamu Banyu. Aku bersedia untuk menjadi pendamping hidupmu."

__ADS_1


Binar-binar kebahagiaan terpancar di wajah Banyu. Ia pun mengambil alih cincin yang dipegang oleh Lingga dan ia sematkan ke dalam jemari tangan Lingga.


Banyu mengecup jemari tangan pujaan hatinya ini. "Aku mencintaimu Sayang ... sungguh sangat mencintaimu!"


"Begitu pula dengan aku Banyu ... aku juga mencintaimu!"


Banyu beranjak dari posisinya. Ia pun menghadap ke arah para pembaca.. Pemuda itu berjingkrak-jingkrak kegirangan.


"Hei kakak-kakak pembaca .... akhirnya sebentar lagi aku kawin!!!! Yeeaaaaaayyyyyyy..."


"Nikah Banyu.... Bukan kawin!!!" teriak para pembaca meralat ucapan Banyu..


.


.


. bersambung...


Yuk, yuk, yuk.... yang belum mampir ke GAG, silakan mampir ya kak.. jika takut untuk membaca berikan jempolnya dulu gak apa-apa... hiihiihiiii maacih kakak-kakak tersayang 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2