
Banyu berjalan gontai saat melintas di teras rumah. Tubuhnya terasa begitu pegal dan lelah tiada terkira, karena baru saja ia selesai mengantarkan Aldo ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Ya, Aldo telah berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Kuasa. Apa yang menimpa Aldo benar-benar menjadi pelajaran berharga untuknya. Di mana sebagai manusia tidak diperkenankan untuk bermain dengan sumpah. Terlebih jika itu untuk menutupi kebohongan yang telah dilakukan. Banyu hanya bisa bernapas lega, setidaknya saat ini Aldo tidak lagi kesakitan dan tersiksa dalam rasa sakit yang membelenggunya.
Masuk ke area ruang tamu, Banyu dibuat terkejut dengan sayup-sayup suara seseorang yang tengah menangis. Sumber suara itu berasal dari ruang tengah dan gegas, ia mengambil langkah kaki lebar untuk bisa menjangkau ruangan itu.
Baru beberapa langkah, ia berhenti. Ia yang sebelumnya bermaksud ingin bergabung dengan sang mama dan Villia, tiba-tiba ia urungkan niatnya. Ia memilih untuk berhenti di ruang tamu sambil menguping pembicaraan dua orang wanita itu. Ia ingin tahu, drama apa lagi yang sedang dimainkan oleh Villia di hadapan sang mama. Namun, hatinya benar-benar terasa tidak begitu mengenakkan. Ia yakin bahwa akan ada sesuatu yang dilakukan oleh Villia dan mungkin nantinya akan menimbulkan kekacauan ataupun kesalahpahaman. Dengan saksama, ia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Villia.
"Banyu benar-benar jahat Tan. Dia tega melakukan ini semua kepada Villia. Banyu ingin putus dari Villia Tan."
Villia mencurahkan segala isi hatinya yang dibumbui oleh derai air mata kepada Kinanti untuk membuat wanita paruh baya itu. bersimpati kepadanya. Sedangkan Kinanti sendiri hanya bisa menatap bingung wajah wanita ini. Entah ekspresi apa yang harus ia tampakkan. Namun kejadian di restoran beberapa waktu yang lalu, sungguh membuat rasa simpati kepada perempuan ini mulai terkikis.
"Lebih baik kamu selesaikan ini semua secara baik-baik dengan Banyu, Vi. Tante sungguh tidak bisa membantu apapun."
Villia yang sedari tadi menunduk, kini sedikit ia dongakkan wajahnya. Ia tatap wajah Kinanti ini dengan penuh harap. Berharap agar ia dibantu untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan Banyu.
"Tante .... Tante seorang wanita bukan? Jika Tante seorang wanita pasti Tante bisa merasakan apa yang Villia rasakan."
__ADS_1
"Iya Vi, Tante paham dengan apa yang kamu rasakan. Namun, bukankah putus dalam sebuah hubungan itu merupakan hal yang sangat wajar sebelum seseorang itu menikah? Karena mereka masih berada di dalam fase saling mencari dan menyeleksi mana yang terbaik untuk dijadikan pendamping. Jadi wajar saja jika putra Tante memilih untuk mengakhiri hubungannya denganmu."
Villia sedikit tersentak mendengar apa yang diucapkan oleh Kinanti. Dari kalimat yang terucap, sudah sangat jelas bahwa wanita paruh baya ini sudah tidak lagi berpihak kepadanya. Ia pun memutar otak untuk bisa kembali meyakinkan Kinanti.
"Ini bukan perkara wajar dan tidak wajar Tante. Ini sudah menyangkut harga diriku sebagai seorang wanita. Karena Banyu sudah mencabik-cabik semuanya."
Kedua netra Kinanti menyipit. Dahinya pun turut mengernyit. Ucapan Villia ini sungguh terdengar begitu rumit.
"Mencabik-cabik harga dirimu? Maksud kamu apa Vi? Tante sungguh tidak mengerti."
Vilia kembali menundukkan wajah. Kini, ia berusaha keras untuk bisa membuat air mata yang keluar jauh lebih deras dari sebelumnya. Bahkan, ia memulai perannya sebagai wanita yang paling terluka dan terkoyak harga dirinya.
Kedua netra Kinanti semakin menyipit. Dan di dalam dadanya ada sedikit rasa yang sulit untuk ia ungkapkan. Ia merasa ucapan Villia ini mengarah kepada Banyu, putranya.
Apakah maksud Villia ini Banyu sudah meniduri dan merenggut kesuciannya? Apakah betul jika putraku melakukan hal nista seperti itu? Banyu .... kalau sampai kamu melakukan hal itu, kamu benar-benar sudah mengecewakan Mama, Nyu.
"Bagaimana Tante? Bagaimana perasaan Tante sebagai seorang Ibu jika melihat anak perempuannya ditiduri oleh kekasihnya dan kemudian dicampakkan begitu saja?" ulang Villia yang sejurus kemudian membuat Kinanti tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Kinanti mengerjapkan mata. "Maksud ucapanmu ini apa Vi? Tolong jangan berbelit-belit lagi. Karena sungguh, Tante tidak bisa berpikir jernih saat ini. Apalagi ucapanmu ini terkesan berputar-putar."
"Banyu, Tante. Banyu .... sudah merenggut kesucian Villia. Dia sudah meniduri Villia saat Villia dibuat mabuk olehnya. Dia yang sudah mencabik-cabik harga diri Villia, Tante."
Kinanti terhenyak. Meskipun Villia sudah menampakkan wajahnya yang begitu serius namun entah mengapa ada rasa tidak percaya dalam dirinya.
"Tidak, tidak... Banyu tidak mungkin melakukan hal-hal serendah itu. Tante tidak percaya Vi!"
"Tapi ini kenyataannya, Tante. Banyu sudah merenggut kesucian Villia. Dan dia harus bertanggungjawab untuk menikahi Villia. Karena di luar sana, pasti tidak akan ada yang mau menerima seorang wanita yang sudah tidak perawan. Dan Banyu lah yang harus bertanggungjawab."
Plok... plok... plok....
"Hebat, sungguh hebat akting Anda, Nona Villia. Sepertinya Anda sangat pantas untuk masuk ke dalam ajang pencarian aktris sinetron berbakat!"
"Banyu....!!"
.
__ADS_1
.
. bersambung...