
Dengan langkah kaki tegas, Heru menghampiri Lingga dan juga Banyu yang berada di pinggir jalan. Dua orang yang sedang beradu argumen itu sedikit terkejut dengan kedatangan Heru. Terlebih Lingga, ia merasa bahwa keberadaannya dengan Banyu ini sudah membuat Heru berburuk sangka.
"Mas Heru?" lirih Lingga sembari menjauhkan tubuhnya dari tubuh Banyu.
"Apa yang sedang kamu lakukan di pinggir jalan seperti ini Ling?" ujar Heru dengan intonasi sedikit garang. "Dan ini siapa? Siapa lelaki ini?" sambungnya pula.
"Ini Mas, aku baru saja dari makam dan pemuda ini namanya Banyu. Dia yang tinggal di rumah pak Pras."
Meskipun nada bicara Heru sudah seperti seseorang yang sedang diliputi oleh rasa curiga, namun Lingga berusaha untuk tetap menanggapinya santai. Ia merasa tidak perlu panik karena tidak ada yang terjadi antara dirinya dengan Banyu. Kecuali ... ciuman di bawah curug beberapa saat yang lalu. Itupun bukan keinginannya, karena ciuman itu merupakan akal-akalan Banyu yang mengelabuinya.
Heru menatap wajah Banyu dengan sorot mata tajam. Bahkan ia memandangi pemuda di hadapannya ini dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Banyu tersenyum simpul. Ia ulurkan tangannya ke arah Heru bermaksud untuk berkenalan. "Hallo Her, aku Banyu. Calon pacar Lingga ... awwwwhhhhh!!!"
Lingga terhenyak saat mendengar ucapan Banyu yang menyebut namanya. Hal ini mungkin bisa mencetuskan perang dunia ketiga. Oleh karenanya, buru-buru ia menginjak kaki pemuda ini.
"Mas, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh pemuda ini. Dia memang slengean orangnya," ujar Lingga dengan hati yang sudah ketar-ketir. Khawatir kalau sampai emosi Heru terpancing.
Heru beralih menatap wajah Lingga dengan sorot mata tiada terbaca. "Ckkckkk .. aku sama sekali tidak perduli siapa orang ini dan ada hubungan apa dia denganmu. Karena kamu tidaklah penting bagiku!"
__ADS_1
Lingga terkesiap mendengar perkataan Heru. Meski ucapan itu terdengar lirih namun entah mengapa apa yang diucapkan oleh Heru itu sungguh terasa merobek-robek hatinya. Seakan semakin menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki arti apapun untuk sang suami.
"Mana kunci rumah? Badanku gerah, ingin mandi. Setelah itu, aku akan pergi lagi!"
Masih dalam mode terpaku, Lingga berupaya memberikan kunci rumah kepada Heru. Bahkan wanita itu menatap wajah Heru dengan penuh tanda tanya. Tidak ia sangka bahwa sesulit itu ia mendapatkan hati sang suami. Sedangkan Heru, ia nampak begitu acuh. Gegas, ia melangkah pergi meninggalkan Lingga dan Banyu.
Setetes bulir bening nampak jatuh dari pelupuk mata Lingga. Hal itu tidak lepas dari perhatian Banyu. Melihat wanita itu meneteskan air mata, hatinya seakan bergemuruh hebat. Ia tidak terima jika Lingga diperlakukan seperti ini. Tangannya mengepal erat dan siap memberikan bogem mentah kepada lelaki yang ia anggap kurang ajar itu.
"Heh, tunggu!" teriak Banyu sembari menyusul langkah kaki Heru.
Heru seketika menghentikan langkah kakinya dan kemudian berbalik badan. "Apa? Ada apa kamu memanggilku, hah?"
Emosi itu terasa mendidih di ubun-ubun milik Banyu. Ia sangat tidak terima jika wanita yang ia cintai direndahkan seperti ini. Gegas, Banyu mencengkram kerah baju yang dipakai oleh Heru dan...
"Banyu hentikan!!!" teriak Lingga mencoba untuk menghentikan kekalapan Banyu.
"Dasar lelaki kurang ajar. Bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu kepada istrimu sendiri. Di mana nuranimu hah? Dimana? Djan**cukkk!!!"
Tiga pukulan mendarat di pipi Heru sebagai bentuk luapan emosi Banyu. Tidak tanggung-tanggung pemuda itu juga mengumpat di depan Heru.
Rasa nyeri seketika menjalar di pipi Heru. Namun, ia sama sekali tidak mempedulikannya. Dengan gerak cepat, ia juga mencengkeram baju yang dikenakan oleh Banyu dan memberikan pembalasan.
__ADS_1
Bugh... Bughh...
Hanya dua pukulan yang mampu diberikan oleh Heru setelah Banyu mencoba untuk menghindar.
"Apa urusanmu ikut campur kehidupan rumah tanggaku hah? Siapa kamu?"
"Apa mulutmu itu sering makan sampah sampai membuat ucapan-ucapan yang keluar dari bibirmu juga merupakan sampah? Tidak selayaknya seorang suami mengatakan hal itu kepada istrinya!" teriak Banyu lantang.
"Hah memang apa urusanmu jika aku mengatakan hal itu. Terserah saja Lingga mau berbuat apa. Aku tidak perduli. Atau apakah kamu benar-benar ingin menjadi suami Lingga? Akan aku berikan Lingga kepadamu. Namun segala risiko tidak aku tanggung. Bersiap-siap saja kamu mencium aroma ikan asin yang menjijikkan. Yang membuat perutmu mual-mual dan ingin muntah."
Lingga terkejut setengah mati. Kali ini ucapan Heru sungguh sangat keterlaluan. Tanpa belas kasih, suaminya ini tega menghinanya di depan umum. Lingga menatap lekat wajah sang suami, dan..
Plak... plak... plak...
Tiga kali tamparan mendarat cantik di pipi Heru. Lelaki itu kembali memegangi pipinya sembari meringis menahan rasa nyeri.
"Kamu benar-benar keterlaluan Mas. Jangan salahkan aku jika durhaka kepadamu. Karena sikapmulah yang sudah menggiringku untuk menjadi istri durhaka yang berani menampar suaminya sendiri. Namun kamu sungguh pantas mendapatkannya!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...