
Lingga mencoba untuk mengabaikan berita apa yang dibawa oleh salah satu tetangganya di mana ia melihat Heru berada di rumah Ningrum. Meski segala pemikiran buruk berkeliaran di otak, namun sebisa mungkin ia mengacuhkannya. Tidak ingin terlalu larut dalam prasangka itu.
Lingga menjejakkan kakinya menyusuri jalanan kampung ini dengan sesekali membuang napas kasar. Mungkin saat ini, ia berada di titik terlelah dalam menjalani segala kepelikan rumah tangganya. Tidak pernah tersentuh, tidak pernah terjamah seakan menjadikannya sebagai seorang istri yang sangat menyedihkan.
Kehidupan berumah tangga yang ia kira bisa melepaskan segala belenggu sepi ternyata yang terjadi sebaliknya. Ia dan Heru seakan hidup seperti orang asing. Komunikasi yang tidak sehat, perlakuan sosok suami yang terkadang menggerus batin, dan ucapan-ucapan yang terasa menikam hati seakan menyeret Lingga ke dalam jurang luka tak kasat mata. Hanya satu yang membuatnya bertahan, yakni pesan yang diucapkan oleh mendiang mertua yang memintanya agar ia tetap berada di samping Heru, apapun yang terjadi.
Mungkin Lingga terlalu percaya diri jika seiring berjalannya waktu, sifat Heru akan berubah layaknya kebanyakan sosok suami di luar sana. Namun ternyata semakin hari, Lingga semakin merasa tidak mengenal sosok suaminya ini. Setiap hari ada saja yang menjadi akar pertikaian dan percekcokan hingga pada akhirnya mereka harus terjebak di dalam dunia masing-masing. Bukan seperti sepasang suami-istri namun seperti dua orang asing yang hidup dalam satu atap.
"Kembalikan ... kembalikan ... kembalikan .... aaarrgggghhh!!!"
Lingga yang berjalan sembari melamun, tiba-tiba tersentak saat mendengar pekikan suara keras yang berasal dari kediaman Prasojo. Wanita itu mengerjapkan mata dan mencoba untuk menautkan pandangannya ke arah sumber suara. Lingga terperangah saat melihat tubuh Kukuh yang meronta dan dipegangi oleh beberapa orang. Begitu penasaran dengan apa yang terjadi, wanita itupun memutar tumitnya untuk memasuki halaman rumah Prasojo. Wanita itu berdiri sedikit jauh dari tempat berkumpulnya beberapa orang itu.
"Kukuh ... sadar Le... Sadar!!!" ucap Maryati sambil mengusap-usap dada Kukuh.
__ADS_1
"Dia telah mengambil milikku. Kembalikan milikku. Kembalikan milikku. Arrrggghhh...."
Prasojo, Maryati, Parmin dan Darmaji yang merupakan salah seorang yang terkenal sakti mandraguna masih mencoba untuk memenangkan Kukuh yang seperti kerasukan. Namun nampaknya kekuatan makhluk tak kasat mata yang mengendalikan tubuh Kukuh itu lebih kuat. Keempat orang itu nyaris terpental saking tidak bisa melawan kekuatan Kukuh.
"Mbah Dar, sebenarnya apa yang terjadi terhadap Kukuh ini Mbah? Mengapa sejak tengah malam, ia seringkali kerasukan seperti ini?" tanya Prasojo begitu penasaran.
Darmaji menatap lekat sorot mata Kukuh yang sudah memerah. Kemudian ia memejamkan mata untuk menyusuri kejadian-kejadian apa yang sebelumnya dialami oleh Kukuh. Sejenak kemudian Darmaji mulai membuka matanya lagi.
"Sepertinya, ada sesuatu yang diambil oleh Kukuh saat mendaki gunung, Pras. Dan sesuatu itulah yang dicari oleh makhluk tak kasat mata yang ada di sana."
Darmaji kembali memejamkan mata mencoba untuk menembus dimensi yang lain dari dimensi manusia. Namun baru saja ia akan mencoba menyalami dimensi itu tiba-tiba...
"Batu, Pak. Kukuh mengambil sebuah batu pada saat mendaki gunung."
Suara Lingga sukses membuat orang-orang yang tengah berkumpul di beranda rumah Prasojo menautkan pandangan mereka ke arah wanita itu. Mereka sama-sama terkesiap saat mendengar Lingga mengucapkan sesuatu.
__ADS_1
"Lingga? Apa maksud ucapanmu itu Ndhuk?" tanya Prasojo dan Maryati bersamaan.
Lingga hanya memasang wajah sedikit datar, entah mengapa setelah kedatangan makhluk yang menyerupai Kukuh, alam bawah sadarnya sedikit sensitif. Saat melihat sosok Kukuh yang saat ini sedang meronta, siluet-siluet kejadian yang dialami oleh lelaki itu tiba-tiba saja berkeliaran di otaknya. Seperti kepingan-kepingan puzzle yang membentuk sebuah peristiwa.
"Sebelumnya, saya percaya bahwa sukma pemuda ini benar-benar sukmanya. Namun, sekarang saya baru paham, ada makhluk lain yang juga turut mengendalikan raga pemuda ini. Dan dia meminta apa yang menjadi miliknya yang telah diambil oleh Kukuh dikembalikan."
Darmaji terperangah. "Jadi maksudmu...?"
Lingga menganggukkan kepala. "Betul Mbah, sukma Kukuh belum sepenuhnya menguasai raganya. Sukmanya masih tertahan di dimensi lain. Sedangkan yang ada di hadapan kita ini, bukan sukma sebenarnya. Melainkan salah satu makhluk yang ada di dalam hutan yang mengendalikan raga Kukuh."
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Hihi hihihi kita main sedikit horor ya Kak.. Ini semua murni khayalan saya. Namun jika mendengar kisah-kisah para pendaki sepertinya hal-hal seperti ini sering terjadi. Ini sebagai bukti bahwa sesungguhnya sesuatu yang ghaib itu memang benar-benar ada... ❤️❤️❤️