Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 93. Sebuah Tawaran


__ADS_3


"Bagaimana Dek? Dek Lingga suka kan naik ini?"


Lingga hanya bisa tersenyum kikuk seraya mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Sejatinya ia masih teramat shock dengan apa yang dibawa oleh Sapto untuk menjemputnya. Sebuah bus pariwisata yang bisa menampung penumpang sebanyak 50 orang. Dia sampai tidak habis pikir, bagaimana bisa bus pariwisata dengan body yang panjang ini bisa masuk ke dalam jalan kecil yang berada di depan tempat tinggalnya. Namun ini benar-benar gila, atau entah penulisnya yang sedikit error, bisa memasukkan bus sebesar itu di jalan yang memang tidak begitu lebar. Intinya suka-suka penulisnya saja ya Kak😂😂


Lingga duduk di bangku samping kemudi. Sedangkan Sapto mengemudikan bus ini. Posisi Lingga persis seorang kondektur yang menemanimu perjalanan sang supir.


"Kok mas Sapto bisa berinisiatif untuk membawa bus pariwisata seperti ini? Memang sewa di mana?"


"Hahahaha .... sewa?" Sapto terbahak sembari mempertegas pertanyaan Lingga.


"Iya Mas. Bus ini pasti sewa bukan?"


"Hahaha kamu salah Dek. Bus ini sama sekali bukan barang sewaan. Namun ini mas Sapto belikan khusus untukmu. Sekaligus sebagai tanda cinta mas Sapto kepadamu. Bagaimana? Kamu suka kan?"


Lingga semakin terperangah. Ia seperti kesusahan menelan salivanya. Entah apa yang harus ia katakan. Namun apa yang diucapkan oleh Sapto ini sungguh membuatnya terkejut.


"Eh, aku...."


"Sudah Dek, tidak perlu dijawab terlebih dahulu. Mas Sapto yakin kamu pasti belum memiliki jawaban apapun. Karena itu, mas Sapto akan setia menunggumu."

__ADS_1


Mengapa lelaki ini pantang menyerah sekali sih? Kalau seperti ini bagaimana bisa aku menghindar darinya? Atau apa langsung aku tolak saja ya?


"Mas, aku ...."


Tin... Tin... Tin...


"Ayeeee .... sudah sampai!!"


Suara Sapto memangkas perkataan Lingga. Ia menatap ke arah luar kaca dan benar saja ia sudah sampai di pabrik.


"Ayo Dek, kita turun. Di dalam sana ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


"Bertemu denganku? S-siapa?"


Meskipun masih dipenuhi oleh tanda tanya, namun Lingga turun juga dari bus ini. Sungguh di luar dugaan, saat dia berjalan di area pelayar pabrik, semua mata tertuju kepadanya. Entah tatapan apa yang mereka beri. Yang pasti membuat Lingga merasa kikuk sendiri.


***


Di sebuah ruangan yang cukup luas, terlihat dua orang paruh baya yang tengah duduk di sebuah sofa empuk kelas atas. Di hadapan mereka duduk seorang wanita yang sedari tadi hanya menundukkan wajah. Tidak paham, apa yang harus ia lakukan.


Lingga, wanita itu hanya bisa dibuat gugup berhadapan lagsung dengan dua orang penting yang ada di pabrik ini. Pak Broto dan bu Broto yang tidak lain adalah pemilik pabrik dan bisa dikatakan mereka adalah orang tua Sapto.

__ADS_1


"Jadi kamu yang bernama Lingga?" tebak bu Broto.


"Iya Bu, say Lingga. Oh iya ada keperluan apa ya Pak Broto dan bu Broto memanggil saya?"


Wanita paruh baya itu menatap lekat wajah Lingga. Ia pun tersenyum tipis kala melihat wajah ayu wanita di hadapannya ini.


"Sapto sudah banyak bercerita tentang kamu. Dia selalu menceritakan bagaimana kamu. Bagaimana cantiknya kamu dan aku rasa putraku itu memang memiliki perasaan yang berbeda kepadamu."


Lingga hanya bisa tertegun dan terpaku. Saat ini ia sungguh tidak tahu harus berkata apa. Sehingga ia hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Lingga!"


Kini, giliran Pak Broto yang memanggil nama Lingga. Lingga pun menoleh ke arah sumber suara.


"I-iya Pak?"


"Bagaimana kalau kamu aku buatkan pabrik pengolahan jamu namun dengan syarat kamu harus menikah dengan Sapto, anak saya?"


"Apa??!!!"


.

__ADS_1


.


. bersambung..


__ADS_2