
Di sebuah kedai, duduklah sepasang sahabat di sebuah kursi yang terbuat dari plastik. Keduanya duduk saling berhadapan dengan dua porsi ketoprak dan dua es jeruk yang nampak menggugah selera. Serasa ingin segera menyantapnya saja. Dan memang tak perlu menunggu lama, dua orang itu mulai mengeksekusi salah satu makanan khas ibu kota itu.
"Nyu, sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Mengapa kamu bisa tersesat dan tiba-tiba ditemukan dalam keadaan yang masih selamat, padahal sudah dua minggu lebih kamu hilang dalam pendakian."
Pertemuan pertamanya dengan Banyu yang terkesan tergesa-gesa karena ada Villia, membuat Selly masih belum terlalu paham akan apa yang menimpa sahabatnya ini. Dan setelah ada kesempatan untuk duduk berdua dengan Banyu, ia rasa waktu yang tepat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tangan Selly mulai beraksi, menyendok menu ketoprak ini dan memasukkan ke dalam mulutnya. Cita rasa khas ketoprak milik mang Asep ini benar-benar memanjakan lidahnya.
"Ceritanya panjang Sel. Kalau kamu mendengarkan podcast milik anak-anak broadcasting yang ada di kampus ini pasti kamu sudah paham," ujar Banyu sambil menyeruput es jeruk yang ada di depannya.
"Aku mendengarnya Nyu. Benar-benar di luar logika ya."
"Ya, memang seperti itu Sel. Siapapun pasti tidak akan percaya, namun seperti itulah yang aku alami di sana."
"Dan setelah itu, kamu tidak mengingat apapun kecuali namamu sendiri?"
Banyu menganggukkan kepala. "Iya benar. Bahkan nama kalian yang ikut mendaki bersamaku saja tidak aku ingat sama sekali."
"Oh jika memang seperti itu, aku sudah cukup bisa menarik benang merahnya Nyu."
__ADS_1
Banyu yang baru saja akan memasukkan sendok ke dalam mulut, tiba-tiba ia urungkan niatnya. Dahinya berkerut dalam, seakan penasaran dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya ini.
"Benang merah? Benang merah perihal apa Sel?"
"Perihal Villia yang masih gelendotan di pelukanmu dan mengaku-aku masih menjadi kekasihmu."
Banyu terhenyak, bahkan tubuhnya sedikit terperanjat. "Masih menjadi kekasihku? I-itu artinya aku sudah putus dari Villia?"
Selly menganggukkan kepala. "Iya Nyu. Kamu putus dari Selly satu minggu sebelum kita mendaki."
***
Brakkk!!!!
"Dasar wanita ja*lang. Berani-beraninya kamu tidur dengan lelaki lain!"
Rahang Banyu nampak mengeras kala melihat wanita yang sudah tiga tahun menjalin hubungan dengannya ini berada di atas ranjang dengan lelaki lain dan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang membalut tubuhnya. Tetes-tetes peluh masih terlihat menghiasi wajah wanita itu, seakan menandakan bahwa baru saja ia melakukan sesuatu yang menguras tenaga.
Melihat Banyu yang berdiri mematung, membuat Villia cepat-cepat memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Gegas, ia kenakan pakaian itu dan kini tubuh wanita itu sudah tertutup dengan sempurna. Sedangkan teman ranjang Villia memilih untuk tetap bersembunyi di bawah selimut tebal.
"Nyu .... a-aku bisa menjelaskan semua."
__ADS_1
Banyu menghempaskan tangan Villia yang menyentuhnya dengan perasaan jijik. Kekasih hati yang ia kira bisa menjaga kehormatannya, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Saat ini Villia tak lebih dari seorang pe*lacur yang menjajakan tubuhnya dengan para lelaki hidung belang.
"Jangan lagi kamu dekat-dekat denganku Vi. Aku sungguh jijik terhadapmu."
"Sayang, kumohon. Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Ini semua tidak seperti apa yang kamu lihat!"
Banyu membelalakkan mata. "Tidak seperti yang aku lihat? Kamu pikir aku ini buta dan tidak tahu apa yang kamu perbuat. Apalagi yang dilakukan oleh sepasang manusia di atas ranjang dan dalam keadaan telanjang jika bukan sedang ber*cinta, hah? Coba katakan kepadaku!"
"Tapi Nyu, aku melakukan ini semua karena kamu yang tidak pernah mau bercinta denganku. Aku menginginkan lebih dari sekedar berpelukan dan berciuman!"
Banyu semakin terperangah tiada percaya. "Kamu benar-benar gila Vi. Aku sebagai seorang laki-laki ingin menjaga kesucianmu sampai saat kita menikah nanti. Tapi kamu malah menginginkan itu sebelum kita menikah? Wanita macam apa kamu ini Vi? Aku yang sudah berusaha mati-matian agar bisa mengendalikan diri agar tidak merusakmu namun kamu sendiri yang merusaknya? Aku benar-benar tidak habis pikir!"
"Nyu ... aku..."
"Stop Vi, jaga jarakmu!" titah Banyu menghentikan niatan Villia untuk lebih dekat dengannya. "Aku rasa, tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan dari hubungan ini. Kamu telah berkhianat dan aku tidak suka dikhianati. Mulai sekarang, kita putus dan lupakan tentang pertunangan ataupun pernikahan itu. Aku tidak akan pernah menikah denganmu!"
Banyu berbalik badan, ia mengambil langkah kaki lebar untuk segera pergi dari kos-kosan milik teman ranjang Villia ini. Beruntung, ia memiliki teman seperti Selly yang mengutarakan kecurigaannya bahwa Villia memiliki kekasih gelap. Beberapa hari belakangan, diam-diam Banyu memperhatikan gerak-gerik sang kekasih dan hari ini semua telah terbuka. Sang kekasih telah bermain api di belakangnya.
.
.
__ADS_1
. bersambung...