Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 28. Sedikit Cerita


__ADS_3


"Bisakah saya berangkat sekarang Bu? Saya benar-benar mengkhawatirkan Lingga!"


Dengan rambut sedikit basah, Banyu keluar dari dalam kamar mandi. Bulir-bulir air yang masih menempel di wajah justru semakin membuat pemuda itu nampak jauh lebih tampan. Jambang tipis yang dibiarkan begitu saja menghiasi wajah malah membuat ketampanan pemuda itu bertambah berkali-kali lipat. Tidak mengherankan jika wajah khas orang Timur Tengah tercetak jelas di dalam rupa pemuda itu.


Maryati yang tengah duduk di kursi makan gegas bangkit dari posisinya sembari membawa sebuah piring dan mendekati Banyu.


"Isilah perutmu terlebih dahulu Le, setelah itu kita akan menjemput Lingga."


"Tapi saya khawatir jika terjadi sesuatu terhadap Lingga, Bu."


"Tenanglah Le, Lingga akan baik-baik saja. Sejak dulu, ia terkenal dengan sosok wanita tangguh dan mandiri. Bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bertumpu pada laki-laki yang seharusnya menjadi menghidupinya."


Perkataan Maryati membuat Banyu mengernyitkan dahi. Ia raih piring yang diulurkan oleh Maryati dan duduk di atas kursi untuk segera menikmati hidangan yang tersaji.


"Bu, apa benar bahwa Lingga sudah memiliki suami?"


Banyu memasukkan satu suap makanan ke dalam mulut. Ia teramat penasaran dengan cerita tentang Lingga, dan saat ini ia ingin mengorek informasi perihal wanita itu.


"Iya Le, Lingga sudah memiliki suami. Lima bulan yang lalu ia menikah dengan Heru," ucap Maryati sembari memilah-milah cabai rawit dan ia buang batangnya untuk kemudian ia simpan di kulkas.

__ADS_1


"Memang suami Lingga kerja apa Bu? Kok sampai membiarkan istrinya berjualan jamu?" sambung Banyu semakin penasaran.


Maryati mengendikkan bahu sebagai sedikit isyrat bahwa ia tidak terlalu paham dengan apa yang menjadi pekerjaan Heru. "Entahlah Le, Ibu tidak tahu pasti dengan apa pekerjaan Heri. Dia itu setiap hari hanya nongkrong di gardu yang berada di perbatasan kampung itu. Yang dekat dengan rumah orang tua Lingga yang saat ini ditempati oleh Ningrum, kakaknya."


Banyu hanya mengangguk-anggukkan kepala sebagai pertanda mengerti. "Begitu ya Bu. Tapi kenapa ya, saya merasa sedikit janggal dengan keseharian suami Lingga. Saya juga merasa Lingga tidak bahagia dengan pernikahannya."


Selepas mengutarakan hal itu, Banyu mendadak menggeleng-gelengkan kepala. Entah mengapa berasal dari mana prasangka itu, namun jika mengingat wajah Lingga yang menolong sukmanya semalam, wanita itu nampak menyimpan sebuah kesedihan yang tidak ingin siapapun mengetahuinya. Ya wajah wanita itu seakan memancarkan aura kesedihan yang nyata.


"Ibu juga kurang paham Nak. Yang jelas, Lingga itu sosok wanita mandiri. Sudah sejak remaja ia ditempa oleh keadaan untuk menjadi wanita tangguh. Tidak mengherankan jika saat ini, ia berusaha mati-matian untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Itulah yang membuat Ibu bangga."


Banyu seakan larut di dalam cerita yang disampaikan oleh Maryati. Seakan menjadi poin plus untuk dirinya, di zaman seperti masih ada sosok wanita tangguh yang berusaha berdiri di atas kakinya sendiri meskipun ia sudah memiliki suami.


Banyu semakin larut dalam pikirannya sendiri. Ia benar-benar tidak paham, semenjak bertemu dengan sosok Lingga di dimensi lain, ia merasa begitu terpikat akan pesona yang dimiliki oleh wanita itu. Keinginannya untuk merebut Lingga dari sang suami seakan semakin menggebu.


Jangan ditiru ya pemirsa. Ini hanyalah salah satu sisi buruk dari makhluk bernama manusia yang sedang terpikat oleh pesona istri orang. Hihi hihihihi kalau mau menikung, lewat sepertiga malam saja ya.. Jangan lewat dukun😂


Maryati memasukkan beberapa sayuran ke dalam kulkas dan kembali duduk di samping Banyu. "Oh iya Le, Ibu dengar kamu meminta Bapak dan beberapa warga untuk menggali tanah bebatuan yang menjadi tempatmu ditemukan. Memang ada apa Le?"


Banyu meneguk segelas air putih saat makanan di hadapannya telah tandas untuk kemudian menanggapi apa yang menjadi pertnyaan wanita paruh baya ini.


"Ini merupakan amanah dari bapak Lingga, Bu. Entah apa maksud dari skenario yang dituliskan oleh Tuhan. Namun pada saat sukma saya terjebak di dimensi lain, saya bertemu dengan bapak Lingga. Dia meminta agar tanah itu digali untuk menemukan tulang-tulangnya. Jasad beliau yang selama sepuluh tahun ini belum ditemukan, ternyata tertimbun reruntuhan jurang yang lumayan tinggi."

__ADS_1


Maryati sedikit terkejut mendengarkan cerita dari Banyu. Selama ini Dirga yang merupakan ayah Lingga memang terkenal sebagai pendaki gunung yang cukup hebat. Sejak masa remaja, lelaki itu sudah beberapa kali mendaki gunung. Oleh karena itu, berita hilangnya Dirga di saat melakukan pendakian sungguh menjadi satu berita yang begitu menggemparkan di kampung ini.


"Baiklah, nanti setelah Bapak pulang dari ladang biarkan ia mengajak beberapa warga untuk mengeksekusi tulang-tulang Dirga."


Banyu beranjak dari posisi duduknya, ia menuju dapur untuk mencuci bekas piring yang ia gunakan. Tak selang lama, ia pun kembali ke ruang makan.


"Bu, saya pamit untuk menyusul Lingga terlebih dahulu. Saya khawatir jika sampai terjadi sesuatu kepadanya."


"Loh, kamu tidak menunggu Bapak pulang dari ladang dulu Le? Apa kamu tahu di mana tempat Lingga berada? Atau Ibu panggilkan Parmin untuk menemanimu ke tempat Lingga?" tanya Maryati dengan sedikit keheranan.


Banyu menggelengkan kepala. "Tidak perlu Bu. Saya sepertinya tahu di mana tempat Lingga berada. Hati saya yang sepertinya mengarahkan langkah kaki saya ke sana."


Maryati hanya bisa terperangah saat mendengar ucapan Banyu yang sudah seperti seorang laki-laki yang sedang dimabuk cinta. Tanpa sadar wanita paruh baya itu tergelak lirih. "Baiklah kalau begitu Le, kamu hati-hati ya."


"Baik Bu.."


.


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2