Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 108. Poor Sapto


__ADS_3


Lingga menatap lekat es krim cone rasa vanila-strawberry dengan saliva yang sudah berkumpul di ujung lidahnya. Rasanya akan sangat nikmat dan menyegarkan menikmati es krim di siang hari yang sangat terik ini. Ia pun mendekatkan kepalanya ke arah es krim ini untuk segera menikmatinya namun seketika ia mengurungkan niatnya saat netranya menangkap sosok anak kecil perempuan yang berdiri tak jauh darinya.


Anak kecil itu terlihat begitu intens menatap ke arah Lingga yang akan menikmati es krim cone itu. Bahkan anak kecil itu sampai melongo, seperti seorang anak yang ingin sekali menikmati es krim. Lingga pun hanya terkekeh pelan.


"Sini Sayang!" ucap Lingga sambil melambaikan tangan, meminta anak kecil berusia enam tahun itu untuk mendekat ke arahnya.


Tanpa ragu, anak kecil itu melangkahkan kaki, mendekat ke arah Lingga. "Ya Kak?"


Lingga menyunggingkan senyum sembari mengusap pipi si anak kecil ini dengan lembut. "Nama kamu siapa Sayang?"


"Namaku Indah, Kakak. Aku dari TK Putih Melati." Anak kecil bernama Indah itu menunjuk ke arah kandang gajah. "Itu teman-temanku ada di sana."


"Oke Indah. Apa Indah ingin es krim ini?"


Indah menganggukkan kepala. "Iya Kak. Sepertinya es krim Kakak ini enak sekali. Aku ingin beli tapi tidak punya uang. Semua teman-temanku datang bersama ibu mereka sedangkan aku hanya dititipkan kepada bu guru saja dan aku tidak punya uang untuk membeli."


Mendadak hati Lingga dipenuhi oleh perasaan haru. Ternyata gadis sekecil ini sudah merasakan apa itu kerasnya sebuah kehidupan.


"Kalau begitu es krim ini untuk Indah ya dan tunggu sebentar." Lingga membuka tas selempang yang ia bawa. Ia ambil satu lembar uang seratus ribuan untuk kemudian ia berikan kepada Indah. "Nah, ini untuk jajan Indah ya. Kalau ada sisa, bisa ditabung di rumah."


Terlihat kedua bola mata anak kecil itu membulat sempurna. Ia nampak begitu kegirangan saat menerima uang dan es krim itu.


"Waaaaahhhh ... terima kasih banyak ya Kak. Indah senang sekali."


Lingga mengusap-usap pucuk kepala Indah dengan lembut seraya tersenyum simpul. "Sama-sama Sayang. Kalau begitu, kamu bisa kembali kepada bu guru dan teman-teman yang lain agar tidak terpisah."

__ADS_1


"Yeeeeaayyyyy .... terima kasih Kakak!"


Indah berlari kecil untuk kembali ke dalam kelompoknya. Tak selang lama dari kepergian Indah, Banyu tiba di hadapan Lingga. Pemuda itu nampak membeli jus buah naga dan juga beberapa camilan.


"Loh Sayang, si buntelan kentut itu belum datang?" tanya Banyu sedikit keheranan. Mungkin ia bingung apa yang dibeli oleh Sapto sampai lama seperti ini.


Lingga menerima pemberian Banyu. Ia mulai menyeruput minuman buah berwarna ungu ini. Seketika sensasi rasa segar memenuhi kerongkongannya.


"Mas Sapto sudah kembali kok Nyu. Tapi dia sedang ke toilet!"


"Hah? Dia sudah kembali kesini tapi tidak memberikanmu apapun? Benar-benar omong doang. Gayanya saja selangit, ingin membelikan apapun untukmu, tapi kenyataannya? Nol besar kan?"


Kali ini Banyu tersenyum sinis. Dengan bukti bahwa lelaki itu tidak membelikan Lingga apapun sudah cukup membuatnya mengerti bahwa lelaki yang ia anggap sebagai buntelan kentut itu hanya besar omongannya saja. Bahkan saat ini Banyu tersenyum bahagia karena hanya dirinya seorang lah yang bisa memberikan perhatian untuk Lingga. Seolah semesta pun ikut merestui hubungannya dengan sang pujaan hati.


"Ckckckck ... kamu jangan berbicara seperti itu Nyu. Tadi mas Sapto sudah membelikanku es krim, tapi aku berikan untuk anak kecil yang sedang mengikuti study tour itu," papar Lingga sembari menunjuk ke arah kumpulan anak-anak TK.


"Hmmmmm .. sudahlah Nyu kita tidak perlu membahas itu lagi."


"Lalu, apa yang harus kita bahas saat ini? Apakah kita bahas perihal pernikahan kita?"


Banyu berujar sembari mengerlingkan mata yang sukses membuat Lingga tersipu malu. Hanya mendengar kata pernikahan saja sudah cukup membuat pipinya merah merona. Ia pun hanya bisa menundukkan wajah.


"Aku ..."


"Loh dek Lingga, es krimnya apa sudah habis?"


Ucapan Lingga terpangkas saat suara Sapto mulai menggema. Wanita itupun mulai mendongakkan wajah.

__ADS_1


"Maaf Mas, es krim pemberian mas Sapto tidak jadi aku nikmati. Tadi es krimnya aku berikan kepada anak TK yang ada di sana. Kasihan dia, karena dia tidak bisa jajan."


"Apa? Jadi dek Lingga tidak tahu kalau ada sesuatu di dalam es krim itu?" tanya Sapto mencoba untuk meyakinkan lagi.


Kini giliran Lingga dan Banyu yang terkejut. Keduanya saling melempar pandangan, tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Sapto ini.


"Sesuatu? Sesuatu apa itu Mas?"


"Duh Dek, tadi aku menyelipkan sebuah ..... "


"Eh, eh, eh, eh.... kamu kenapa Indah!!!!"


Teriakan yang berasal dari rombongan anak-anak TK itu sukses membuat Lingga, Banyu dan Sapto terkejut setengah mati. Apalagi dari tempat mereka berdiri nampak seorang anak kecil yang batuk-batuk sambil memegangi lehernya. Tanpa basa-basi mereka langsung mendekat ke arah rombongan anak TK itu.


"Loh, Indah!" Lingga mencoba untuk menerobos kerumunan ini, mencari tahu apa yang terjadi dengan gadis yang ia beri es krim tadi. "Ini ada apa Bu?"


Guru pendamping itu terlihat panik. "Sepertinya ada sesuatu yang tertelan oleh Indah, Mbak. Tapi saya tidak tahu apa itu."


Perkataan guru pendamping itu sontak membuat tubuh Sapto lemas seketika. Wajahnya pun mendadak pias. "Ya Tuhan, itu cincin yang akan aku berikan untuk melamar dek Lingga..."


"Apa?????!!!!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


Hihihihi hihihihi ... ternyata gagal ya pemirsah 😂😂😂 Banyu bisa tidur nyenyak ini... 🤣🤣 Yuk, yuk, yuk, yang belum mampir ke "Gerbang Alam Ghaib", silakan mampir ya Kak... berikan dukungan kakak-kakak semua dengan like, komentar, favorit. Meskipun genre horor, tapi inshaAllah akan ada banyak pelajaran yang tersimpan di dalamnya... hihihihi maacih kakak-kakak tersayang ❤️❤️


__ADS_2