
Momen makan malam yang dianggap akan menjadi momen indah, berkesan dan penuh kehangatan tapi pada kenyataannya berubah menjadi berantakan hanya karena hal kecil dan sepele. Bahkan keluarga Herlambang harus menahan rasa malu tatkala beberapa pasang mata pengunjung restoran yang lainnya tertuju ke meja yang mereka tempati. Teriakan Villia yang mencaci maki pelayan restoran ini sukses membuat para pengunjung yang lain menatap iba sosok pramusaji yang masih terdiam dan menundukkan wajah ini.
"Mohon maaf, ada apa ini?"
Mendengar ada sedikit keributan, membuat manager restoran mendatangi meja Herlambang. Terlihat wajah salah seorang pengunjung di restorannya sudah nampak tegang dan seperti sedang menahan amarah.
"Lihatlah pelayan di restoran Anda ini. Dia sama sekali tidak becus bekerja. Pakaian mahal saya menjadi basah seperti ini!"
"Villia!!!" teriak Banyu yang sedikit geram karena wanita ini masih saja memojokkan si pelayan.
"Apa Nyu! Biarkan saja semua orang tahu bahwa pelayan miskin seperti dia memang tidak pantas bekerja di restoran mewah seperti ini. Tempatnya di lesehan kaki lima!"
Plakkk!!!
Sebuah tamparan dilayangkan oleh Banyu ke wajah Villia. Sontak hal itulah yang membuat orang-orang yang berada di tempat ini terkejut setengah mati.
"Nyu sudah Nyu ... kendalikan emosimu!" ucap Pandu mencoba untuk menenangkan sang adik.
__ADS_1
"Biarkan saja Kak. Biar dia tahu kalau tidak semua orang bisa diperlakukan seperti itu. Dia terlalu jumawa padahal akhlaknya lebih buruk dari pelayan ini."
Mendapatkan tamparan dari Banyu, membuat Villia hanya terdiam dan membisu. Mungkin ia juga merasa malu karena tidak dibela oleh keluarga Herlambang.
"Maaf Pak, ini hanya sekedar insiden kecil yang tidak perlu di besar-besarkan," ucap Pandu kepada sang manager. "Sekarang lebih baik Mbak ini kembali bekerja saja."
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja," tutur si pelayan dengan kepala yang masih menunduk.
"Sudah, tidak apa-apa Mbak."
"Atas nama restoran, saya juga mohon maaf untuk kejadian ini ya Pak, Bu. Sebagai permohonan maaf dari kami, akan kami berikan diskon lima puluh persen untuk menu yang dipesan."
****
Banyu berdiri di balik jendela kamar sembari melihat hamparan langit di atas sana. Berkali-kali ia menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan, mencoba untuk mengurai segala rasa yang sedikit membelenggu di dalam dada. Ia benar-benar merasa tidak mendapatkan ketenangan dan ketentraman hidup setelah bertemu dengan Villia. Sangat berbeda dengan kehidupan yang ia jalani ketika bersama Lingga. Di mana yang ada hanyalah rasa bahagia.
"Nyu, belum tidur?"
Suara seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membuat lamunan Banyu sedikit terusik. Ia menoleh ke arah sumber suara dan nampak sang mama berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Belum Ma. Banyu masih ingin menikmati suasana malam."
Kinanti merapatkan tubuhnya di dekat sang anak. Wanita paruh baya itu berdiri di samping Banyu. Sama seperti yang dilakukan oleh sang anak, ia pun juga ikut menatap langit.
"Nyu, apa selama ini hubungamu dengan Villia baik-baik saja?"
Banyu menggelengkan kepala. "Banyu benar-benar tidak ingat Ma. Bahkan sejak pertama bertemu dengan Villia, Banyu merasa tidak respect sama sekali. Jangankan perasaan cinta, rasa simpatik saja tidak ada."
"Selama ini yang Mama tahu, kamu dan Villia menjalani hubungan dengan bahagia karena Villia juga sering main ke rumah. Bahkan Mama merasa sangat dekat dengan wanita itu. Namun baru tadi Mama melihat sisi lain dari Villia. Ternyata ia merupakan wanita yang angkuh dan tidak paham dengan tata krama."
"Entahlah Ma, Banyu sendiri juga bingung. Apakah Banyu ini memang berpacaran dengan Villia atau itu semua hanya kebohongan dia saja."
Kinanti juga nampak kebingungan. Namun, sejenak kemudian wajahnya terlihat sedikit berbinar. "Mama rasa, kamu bisa mencari tahu melalui Selly, Nyu. Dia lah orang yang paling dekat denganmu ketika kamu berada di kampus. Barangkali melalui Selly, ingatanmu perlahan bisa kembali pulih."
.
.
. bersambung...
__ADS_1