Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 61. Ditabrak


__ADS_3


"Eh, eh, eh, eh .... awas Mbak!!!!"


"Aaaaaaaaa!!!"


Braakkk... Braakkkk!!!!!


"Aduuuhhhhh!!!!"


Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun seketika terkejut saat tiba-tiba saja motor yang ia kendarai menabrak seorang wanita yang jika dilihat dari jauh merupakan penjual jamu. Ia yang juga terjatuh dari motor langsung bangkit dan menuju penjual jamu itu.


"Astaga Mbak ... maaf, saya benar-benar tidak tahu kalau Mbak ini akan menyebrang. Saya merasa jalan ini sudah sepi namun tiba-tiba Mbak menyebrang. Maaf ya Mbak."

__ADS_1


Penjual jamu yang tidak lain tidak bukan adalah Lingga itu hanya bisa nyengir kuda. Menahan rasa nyeri, malu dan mungkin juga rasa bersalah.


"Eh, tidak apa-apa Mas. Mungkin saya yang jalannya kurang berhati-hati."


"Tidak Mbak, ini kesalahan saya. Mari saya bantu berdiri."


Lelaki itu memegang pundak Lingga dan membantunya berdiri. Ia dudukkan Lingga di sebuah gubug kecil yang berada di pinggir area persawahan yang ia lalui ini. Setelah memastikan Lingga duduk dengan sempurna dan sedikit lebih tenang, lelaki itupun berlari ke arah tenggok dan beberapa botol jamu yang berserakan. Lelaki itu menampakkan wajah pias, karena ada beberapa botol jamu yang pecah.


"Mbak, saya benar-benar minta maaf, saya tidak sengaja. Dan ini ada beberapa botol yang pecah. Katakan berapa kerugiannya, saya akan bertanggung jawab."


Lingga menepuk-nepuk lengan tangannya yang terkena pasir. Entah apa yang terjadi kepada wanita itu. Sejak Banyu berpamitan ingin pergi ke pos Bambangan, pikirannya sedikit tidak fokus. Bahkan sampai muncul beberapa spekulasi tentang apa yang akan dialami oleh Banyu di pos Bambangan.


"Tetap saya yang salah Mbak. Karena di mana-mana, ketika ada kasus kecelakaan yang melibatkan antara pengendara motor dengan pejalan kaki, maka pengendara motor lah yang harus bertanggung jawab. Maka dari itu, berapa kira-kira kerugian yang harus saya ganti?"

__ADS_1


"Tidak Mas, tidak perlu. Karena di sini saya juga salah."


Lelaki ini hanya berdecak kagum. Biasanya jika ada kasus seperti ini akan dijadikan ajang aji mumpung. Mumpung ada yang menabrak, maka ia bisa asal meminta ganti rugi bahkan mungkin sampai tidak masuk akal. Tapi wanita yang di depannya ini sungguh berbeda. Wanita ini bahkan terkesan sungkan dan tidak enak hati untuk meminta ganti rugi.


Pandangan lelaki ini tertuju pada tenggok jamu yang berada di samping Lingga. "Mbaknya ini jualan jamu keliling?"


Lingga menganggukkan kepala. "Iya Mas, saya sehari-hari memang berjualan jamu."


"Wah, pas sekali kalau begitu Mbak."


Dahi Lingga sedikit mengernyit. "Pas? Maksudnya bagaimana Mas?"


"Begini Mbak, saya bekerja di PT Jamu Sido Mundur yang berada di Jakarta. Nah, kebetulan pemilik perusahaan itu sedang mencari bibit-bibit unggul para penjual jamu yang bisa dikembangkan lagi skill yang mereka miliki. Nanti di sana mereka akan diajarkan untuk membuat jamu dalam bentuk bubuk yang bisa di ekspor ke luar negeri. Nah bagi peserta yang bisa mengikuti pelatihan ini dengan baik ada kesempatan untuk bisa memiliki pabrik jamu sendiri di bawah naungan PT Jamu Sido Mundur. Dengan kata lain, anak perusahaan. Bagaimana? Apakah Mbak berminat?"

__ADS_1


"Aduh ... bagaimana ya Mas. Saya..."


"Begini saja. Kalau Mbak berminat, Mbak hubungi saya saja di nomor ini. Nanti akan saya bantu. Sekarang, Mbak bisa menimbang-nimbang terlebih dahulu," ucap si lelaki sambil mengulurkan sebuah kartu nama.


__ADS_2