
Banyu mengendarai sepeda motor tahun 80-an itu dengan hati dan juga pikiran yang dipenuhi oleh kekalutan. Sejak melihat Heru bertandang ke salah satu rumah yang berada di ujung kampung dan disambut oleh seorang wanita, ia semakin yakin bahwa wanita itu merupakan selingkuhan Heru. Terlebih mereka sempat berpelukan erat yang semakin mempertegas bahwa memang ada hubungan khusus diantara keduanya.
"Aku harus bagaimana? Apakah aku harus mengerahkan massa untuk menggerebek kediaman wanita itu malam hari ini juga? Ataukah besok saja?"
Hal itulah yang membuat Banyu kalut setengah mati. Lama ia larut dalam pikirannya sendiri hingga...
"Aaaa... Aaaaa.... Aaaaa......."
Brukkkkk... Brukkkkk!!!!!
"Adudududu....!"
Banyu memekik kesakitan saat motor yang ia kendarai tiba-tiba saja menabrak pohon pisang di sebuah pekarangan. Pemuda itu sampai keheranan bagaimana bisa tiba-tiba motor yang ia kendarai masuk ke pekarangan yang dipenuhi oleh pohon pisang ini. Tubuhnya sampai terkapar di atas tanah dan motor yang ia kendarai menindih tubuhnya.
"Banyu, Banyu... Fokus menjaga diri sendiri saja kamu masih tidak bisa, bagaimana mungkin kamu bisa fokus menjaga putriku!"
__ADS_1
Banyu yang masih berupaya untuk sepenuhnya meraih kesadaran yang ia miliki seketika terkesiap ketika mendengar sayap-sayup suara seseorang yang berada di sekelilingnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru namun sama sekali tidak dapat ia temukan keberadaan orang itu.
"Aku ada di sini Nyu. Di pojokan!"
Banyu menggiring manik matanya ke arah pojok pekarangan. Ia tajamkan penglihatannya dan... "Astaga pak Dirga! Ngapain Bapak mojok di sana? Semasa hidup Bapak tidak pernah mojok sama pacar ya?"
Tak sedikitpun merasa takut, Banyu justru nampak seperti kegirangan saat melihat sosok Dirga yang tidak lain adalah sang calon mertua. Bahkan ia nampak begitu akrab dengan sosok lelaki itu seperti seorang sahabat. Padahal, Dirga merupakan sosok tak kasat mata yang berbeda alam dengannya. Gegas, ia kembali bangun sembari membenahi posisi motor yang menimpanya ini.
"Segeralah kamu menyusun rencana untuk membongkar kebusukan Heru. Dengan begitu, putriku bisa segera lepas dari jerat lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti orang itu."
"Jadi Bapak setuju jika saya merencanakan penggerebekan itu? Tapi nantinya akan membuat Lingga terluka. Saya sungguh tidak tega melihatnya Pak."
Banyu terperangah. "Saya yang membalut luka Lingga? Itu artinya pak Dirga merestui kalau saya mendekati Lingga setelah bercerai dari Heru?"
"Halaahhh ... Belum bercerai saja kamu sudah gencar mendekati putriku, bisa-bisanya kamu menanyakan hal itu."
Banyu hanya tersenyum kikuk sembari menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. "Hahaha ternyata Bapak tahu semuanya. Selain itu apa lagi yang Bapak tahu?"
__ADS_1
"Aku juga tahu kamu seringkali mencuri ciuman putriku bahkan memgelabuinya. Sungguh sangat menggelikan!"
Banyu terkikik geli. Ternyata Dirga masih sering mengawasi putrinya. "Hihihihi maaf ya Pak. Saya benar-benar gemas dengan bibir merah merona milik Lingga. Rasanya ingin sekali saya kecup. Maka dari itu saya sering lupa diri."
"Ah ...sudahlah sekarang segera susun rencana untuk membongkar kebusukan Heru. Kalau perlu malam ini daripada jika kamu tunda-tunda lagi, putriku akan semakin makan hati."
"Baiklah Pak. Saya akan segera menyusun rencana. Pak Dirga tenang saja."
"Berjanjilah pada Bapak, bahwa kamu tidak akan pernah menyakiti hati dan perasaan Lingga."
"Saya berjanji Pak. Saya berjanji tidak akan pernah menyakiti hati Lingga."
"Baguslah, sekarang aku bisa jauh lebih tenang!"
Hembusan angin kencang tiba-tiba berputar di sekeliling Banyu berada. Perlahan sosok Dirga yang sebelumnya berada di pojok pekarangan hilang dari pandangan Banyu. Tak ingin membuang banyak waktu, ia bergegas untuk kembali ke gardu untuk membuat rencana penggrebekan Heru.
.
__ADS_1
.
. bersambung...