Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 103. Bahagia


__ADS_3


Tungkai kaki yang terayun seketika terhenti kala mendengar kata yang terucap dari bibir sang pujaan hati. Beribu pertanyaan muncul di kepala, antara benar atau tidak yang ia dengar. Bisa saja itu semua hanya halusinasi semata. Banyu berbalik badan. Ia tatap lekat sosok wanita yang ternyata juga ikut bangkit dari posisi duduknya.


"K-kamu mengatakan apa Ling? Bisa kamu ulangi sekali lagi?"


Terlihat Lingga tersenyum manis. "Aku benar-benar akan membohongi diriku sendiri jika sampai mengatakan bahwa aku tidak mencintaimu Nyu..."


"Tunggu, tunggu ... itu artinya...?"


Senyum lebar membingkai bibir Lingga. Ia pun menganggukkan kepala. "Ya, akupun juga merasakan hal yang sama denganmu, Banyu. Entah sejak kapan aku mulai merasakannya. Namun sejak rasa hampa dan kosong mendatangi kala berada jauh darimu, aku mulai sadar. Sadar bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu."


"Jadi, kamu tadi nge-prank aku?" Banyu bertanya dengan kedua bola mata yang membelalak sempurna.


Lingga terkekeh pelan. "Tidak, aku tidak nge-prank kamu. Karena ucapanku itu tadi memang belum selesai."

__ADS_1


Hati yang sebelumnya patah dan remuk dalam waktu yang bersamaan kini seakan kembali utuh dengan hembusan cinta yang mengaliri aliran darahnya. Bak dihujani oleh ribuan kelopak bunga mawar, kebahagiaan itu membuncah dan menyeruak mengisi relung-relung hati.


Senyumnya merekah. Wajahnya berseri. Dan pemuda itu pun berlari kecil untuk bisa kembali mendekat di tubuh sang pujaan hati.


"Aaaaaaa ... Banyu.... turunkan aku!!"


Lingga terhenyak dan memekik tatkala pemuda itu tiba-tiba memanggulnya seperti seseorang yang tengah membawa beras. Bukan hanya itu, Lingga bahkan merasa kliyengan saat tubuh Banyu berputar-putar.


"Terima kasih Sayang ... terima kasih. Aku sungguh bahagia!!!"


Banyu tergelak lirih. Ia menghentikan apa yang dilakukannya dan menurunkan tubuh Lingga. Kini posisi wanita itu berdiri tepat di hadapannya. Netra keduanya saling beradu. Bak anak panah yang melesat dari busurnya, tatapan penuh cinta itu menelusup masuk dan menancap ke dasar hati masing-masing. Terkunci, terpatri dan mungkin tidak akan pernah terlepas ataupun menghilang lagi.


Banyu menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Lingga. Dengan penuh kelembutan, ia mengecup kening wanitanya.


"Terima kasih Sayang .... aku benar-benar mencintaimu dan aku tidak ingin berlama-lama lagi. Setelah kamu menyelesaikan pelatihan ini, aku ingin segera melamarmu dan kemudian menikahimu."

__ADS_1


Kedua bola mata Lingga menyipit. "Melamar? Menikahiku?"


"Iya. Meskipun aku baru saja lulus kuliah dan usiaku lebih muda dari kamu, namun aku tidak ingin bermain-main lagi. Akan aku buktikan keseriusanku dengan menikahimu."


"T-tapi Nyu ...."


"Sssstttt .... yang lalu biarlah berlalu Sayang. Aku paham, mungkin kamu masih merasa trauma akan apa yang pernah kamu alami. Namun percayalah, apa yang aku rasakan kepadamu benar-benar dari hati. Dan aku tidak akan pernah mengingkari apa yang sudah aku janjikan."


"Memang kamu berjanji kepada siapa dan menjanjikan apa Nyu?" tanya Lingga semakin dibuat penasaran.


"Aku sudah berjanji kepada mendiang ayahmu untuk selalu menjaga, melindungi dan mencintaimu, Sayang. Dan itu semua baru bisa aku tunaikan setelah menikahimu. Karena hanya ikatan pernikahanlah satu-satunya cara bagiku untuk menjaga dan melindungimu dengan segenap jiwa dan juga ragaku."


Hati Lingga menghangat. Tidak ia sangka jika ternyata Banyu lebih dulu menjanjikan hal itu kepada mendiang sang ayah. Tidak perlu diragukan lagi, pemuda ini memang benar-benar serius untuk menikahinya.


Lingga tertegun. Seakan tidak bisa berkata-kata, wanita itupun hanya bisa menundukkan kepala karena tersipu malu. Hal itulah yang semakin membuat Banyu merasa gemas. Tanpa basa-basi, pemuda itu menarik lengan tangan Lingga dan ia bawa ke dalam pelukannya. Ia kecup pucuk kepala sang kekasih hati dengan lembut. Tak ada yang dirasakan oleh Lingga selain buncahan-buncahan kehangatan dan juga kebahagiaan.

__ADS_1


"Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan hari itu Sayang. Hari di mana kita akan disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan."


__ADS_2