
Lima orang nampak keluar dari pos pendakian via Baturaden. Baturaden merupakan pos kelima jalur pendakian yang mereka datangi. Berharap ada setitik informasi perihal seseorang yang mereka cari. Namun sampai di pos ini pun tidak ada sebuah kabar yang membuat mereka bersenang hati. Dari raut wajah mereka terpancar rasa lelah, kecewa dan ingin menyerah. Seakan semakin menegaskan bahwa dalam upaya pencarian ini telah banyak yang mereka keluarkan. Mulai dari waktu, tenaga, pikiran, uang dan lain sebagainya.
Sejenak, mereka memilih untuk beristirahat di sebuah warung makan. Selain beristirahat, mereka juga harus berdiskusi untuk memutuskan apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
"Ini sudah pos kelima yang kita datangi, Ma. Apakah Mama masih belum mau menyerah untuk mencari keberadaan Banyu?" tanya Herlambang kepada sang istri yang duduk di hadapannya.
Menu soto Sokaraja tersaji di atas meja. Harum aroma khas soto mulai menguar masuk ke dalam indera penciuman. Kuah kaldu sapi dengan potongan ketupat dan kacang seakan membuat menu ini semakin nikmat. Namun sayang, seberapa nikmat menu itu, sama sekali tidak bisa membuat bahagia seorang wanita paruh baya yang sedari tadi memilih untuk terdiam seribu bahasa.
"Masih ada satu pos lagi yang belum kita datangi Pa. Dan Mama tetap memilih ke sana untuk mencari keberadaan Banyu. Mama yakin bahwa putra Mama selamat dan dia masih hidup."
"Tapi antara jalur pendakian yang diambil Banyu saat awal mendaki via Guci dengan via Bambangan itu sangatlah tidak mungkin Ma. Tidak mungkin Banyu mendaki via Guci dan turun via Bambangan. Itu merupakan hal yang sangat mustahil dan tidak mungkin bisa diterima dengan akal sehat Ma."
"Mungkin memang terdengar mustahil, namun Mama memiliki keyakinan bahwa Banyu masih hidup sampai saat ini. Jika di pos Bambangan nanti memang tidak kita temukan informasi apapun, baru Mama akan memilih untuk menyerah dan menganggap Banyu memang telah tiada."
Kinanti berujar dengan pandangan mata kosong dan menerawang. Lelehan air matanya tidak kunjung berhenti menyusuri setiap lekuk wajah sayunya. Mungkin terdengar mustahil bahwa sang putra masih dalam keadaan hidup dan selamat. Namun sebagai wanita yang melahirkan Banyu, ia masih memiliki keyakinan itu.
__ADS_1
Banyu beserta ketiga temannya mendaki gunung Slamet dua bulan yang lalu via pos Guci. Setelah dikabarkan hilang, beberapa tim melakukan upaya pencarian, namun pencarian itu dihentikan dan Banyu dinyatakan tidak selamat setelah dua minggu berlangsung.
Sungguh, hal itu membuat Herlambang dan Kinanti begitu terpukul. Ketiga teman sang putra bisa kembali pulang dengan selamat namun ternyata tidak dengan Banyu. Bahkan keberadaan Banyu tidak terendus sama sekali. Jika memang Banyu telah tiada, setidaknya Kinanti ingin dipertemukan dengan jasadnya. Namun sampai saat ini jasadnya pun tidak ditemukan.
Setelah pencarian itu dihentikan dan dinyatakan tiada, keluarga Banyu memilih untuk melakukan pencarian secara mandiri. Jika sebelumnya pencarian hanya fokus di sekitar jalur pendakian via Guci, Herlambang dan keluarga mencoba jalan lain dengan mencari informasi tentang keberadaan Banyu via pos-pos pendakian lain. Pos Cemara Sakti, Pos Dipajaya, Pos Kaliwadas, dan Pos Baturaden sudah mereka jelajahi dengan hasil nihil. Dan hanya tinggal satu pos lagi yang belum mereka datangi yakni pos Bambangan.
"Tapi Tante, letak pos Guci dan pos Bambangan itu cukup jauh saya rasa tidak mungkin jika ada informasi tentang Banyu di sana. Kalaupun tersesat, tidak mungkin jika Banyu tersesat sejauh itu."
Aldo, pemuda seusia Banyu yang saat itu menjadi leader dalam pendakiannya bersma Banyu juga ikut menemani keluarga Herlambang untuk mencari keberadaan Banyu. Sejak Banyu dinyatakan hilang, sejatinya ia sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa hilangnya Banyu tidak murni karena ia tersesat namun ada hal yang tidak dapat diterima secara akal sehat yang menimpanya. Ia ingat akan batu berwarna biru yang ia letakkan di saku celana Banyu. Dan ia pun dapat menyimpulkan bahwa hilangnya Banyu ada kaitannya dengan batu itu.
"Ini semua gara-gara kamu, Al. Kamu yang mengajak adikku mendaki namun kamu justru meninggalkan dia. Sungguh sikap yang tidak patut dimiliki oleh leader dalam sebuah pendakian. Kamu egois Al. Kamu egois!" timpal Pandu yang tak lain adalah kakak kandung Banyu.
"Tapi Kak, aku tidak bersalah karena aku dan yang lain hanya berjalan pelan sambil menunggu Banyu beristirahat," elak Aldo membela diri.
"Di mana-mana leader itu harus paham dengan kondisi fisik anggotanya. Jika berhenti maka harus berhenti semua. Jika jalan harus jalan semua. Sedangkan yang kamu lakukan apa, hah? Kamu meninggalkan Banyu dan akhirnya terpisah."
"Tapi Kak..."
__ADS_1
"Sudah, sudah, sudah ... kalian jangan bertengkar lagi. Lebih baik sekarang kita ikuti ucapan tante Kinan. Kita lanjutkan ke pos Bambangan. Aku juga yakin bahwa kekasihku selamat dan ia masih hidup hingga saat ini," timpal seorang gadis seusia Banyu yang menghentikan perdebatan antara Aldo dan Pandu.
Ia menggeser kursi yang ia duduki untuk bisa lebih dekat dengan Kinanti. Ia pun memeluk erat tubuh wanita paruh baya ini dan mengusap-usap punggungnya.
"Villia juga berkeyakinan bahwa Banyu masih hidup Tan. Sebelum ada jasad Banyu ditemukan, Villia tetap menganggap bahwa Banyu masih hidup."
Kinanti menganggukkan kepala. "Tante juga berharap seperti itu Vi. Maaf karena kejadian ini, pertunanganmu dengan Banyu harus diundur."
"Tidak mengapa Tante. Yang pasti setelah Banyu berhasil kita temukan, acara pertunangan itu bisa segera kita lanjutkan."
.
.
. bersambung....
Hayoooloooohhhhh ..... ternyata oh ternyata Banyu sudah memiliki kekasih.. Hihihihi terus bagaimana ya?? ☺☺☺ ikuti terus ceritanya ya kak😘😘😘😘
__ADS_1