
PoV Banyu...
Entah seberapa besar rasa cinta yang aku miliki untuk Lingga hingga membuatku seperti dibuat gila olehnya. Aku seperti kehilangan kewarasanku saat jauh darinya dan hanya dengan kembali bertemu dengan wanita itu pulalah yang mungkin bisa mengembalikannya akal sehatku. Wajah ayu wanita berusia dua puluh lima tahun itu seakan selalu menggoda dan merayuku untuk selalu memikirkannya.
Dan apakah kalian tahu? Semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku selalu saja terbayang oleh wajah ayunya. Miring ke kanan, miring ke kiri seakan Lingga tertidur di sampingku. Bahkan dalam posisi terlentang, di langit-langit kamar Pak Kardi pun juga seperti tergambar jelas wajah Lingga. Mungkin memang benar jika aku sudah gila dan hal itulah yang membuatku ingin cepat-cepat bertemu dengan Lingga. Hingga di jam empat pagi seperti ini, aku rela untuk menembus pekat malam dan udara yang masih terlampau dingin hanya untuk bertandang ke tempat Lingga berada. Beruntung tidak ada gangguan dari makhluk-makhluk tak kasat mata. Jika sampai aku diganggu ataupun ditampakkan wujudnya bisa dipastikan aku akan pingsan dan tentu hal itu bisa menjadi mimpi buruk bagi seorang Banyu yang terkenal pemberani ini.
Jantungku semakin berdegup kencang saat pijakan kakiku telah tiba di teras rumah bergaya limasan ini. Sejenak, aku memandangi daun pintu ini. Aku merasa sedikit gugup karena aku belum mempersiapkan apapun untuk bertemu dengan Lingga. Namun aku ingat, bahwa aku memiliki cinta untuk wanita itu. Dan semoga cinta itu pulalah yang bisa kembali memperbaiki hubunganku dengan Lingga sama seperti awal kita bertemu.
Kuketuk daun pintu yang ada di hadapanku ini. Aku sedikit ragu karena tidak ada sedikitpun sahutan dari dalam sana. Aku sempat berpikir bahwa aku terlalu pagi bertandang ke rumah ini. Oleh karena itu aku berbalik badan sembari menikmati asrinya halaman rumah ini.
Aku semakin dibuat gugup saat kudengar suara kenop pintu yang diputar. Dan tak selang lama aku mendengar suara lembut dari seorang wanita yang begitu aku rindukan. Hari ini adalah hari pertama aku kembali mendengar suara Lingga setelah dua bulan lebih aku tidak bertemu dengan wanita itu.
****
__ADS_1
Author Pov
Senyum manis terlukis jelas di bibir Banyu tatkala memandang sosok seorang wanita yang ada di hadapannya ini. Seorang wanita dengan dua bola mata lebar nan bening yang terbingkai indah dalam bulu mata lebat nan lentik. Segaris bibir yang memiliki tingkat ketebalan yang pas yang terlihat begitu merekah dan sebentuk hidung mungil yang membuat mata siapapun terhipnotis akan kecantikannya. Dan rambut panjang bergelombang yang terurai di bahunya semakin menegaskan bahwa dia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
Denyut jantungnya seolah memompa darah lebih cepat dari biasanya. Semua rasa bercampur menjadi satu dalam dada. Rasa rindu kepada wanita yang telah lama berhasil mengusik ketentraman batinnya, rasa cinta yang saat ini tengah ia rasakan dan rasa penasaran mengapa wanita ini tidak percaya akan penjelasan yang pernah ia utarakan perihal ulat bulu yang mengganggu hubungannya itu. Kini melalui Pak Prasojo, bu Maryati, Pak Kardi dan tentunya penulis cerita ini, langkah kakinya seaka dituntun untuk bisa kembali menemukan sang pujaan hati.
"Apa kabar Lingga?"
Pertanyaan Banyu seketika memaksa Lingga untuk tersadar dari keterkejutannya. Sedari tadi Lingga juga hanya berdiri mematung, terpaku dengan apa yang ia lihat di hadapannya ini.
Entah apa juga yang terjadi kepada Lingga. Janda yang masih perawan itu juga seakan dibuat gugup dengan kedatangan pemuda tampan ini. Bahkan suaranya juga terdengar bergetar seperti mengisyaratkan kegugupannya.
Banyu tersenyum penuh arti dengan sorot mata yang tidak lepas dari wajah ayu sang pujaan hati.
"Apakah kamu tidak mempersilakan aku duduk terlebih dahulu? Kakiku rasanya mau copot karena semalaman aku berusaha untuk mencari keberadaanmu. Seluruh penjuru kota Jogja aku susuri untuk bisa menemukanmu."
__ADS_1
Lingga terhenyak. Sedikit kegirangan juga ia mendengar perkataan Banyu ini. Namun sesaat kemudian bibirnya mencebik saat ia menyadari akan satu hal.
"Seluruh penjuru kota Jogja bisa kamu susuri hanya dengan waktu semalam? Ajian sakti mandraguna apa yang kamu pakai, sehingga dalam waktu semalam kamu bisa mengelilingi kota ini dan pada akhirnya menemukanku?"
Banyu tergelak lirih. Meskipun Lingga masih menampakkan ekspresi ketusnya namun ia sungguh bahagia. Karena bahasa tubuhnya yang seperti inilah yang membuatnya bisa lebih dekat dengan wanita ini. Bahkan wajah wanita ini bertambah menarik dengan raut-raut sinis seperti ini.
"Aku berguru dengan Bandung Bondowoso. Jika dia dalam waktu semalam bisa membuatkan seribu candi untuk Roro Jonggrang, akupun dalam waktu semalam bisa menyusuri setiap penjuru kota Jogja dan pada akhirnya menemukanmu. Bagaimana? Aku hebat bukan?"
Bibir Lingga sedikit mencebik. Meski banyolan pemuda ini terdengar begitu garing namun entah mengapa hatinya seakan menghangat. Ia seperti menemukan satu kebahagiaan yang sudah lama tidak menyapanya. Dan yang pasti, getaran-getaran di dalam dada masih terasa sama. Sama seperti saat pertama kali ia berjumpa dengan pemuda ini.
"Duduklah. Aku buatkan kopi terlebih dahulu untukmu!"
.
.
__ADS_1
. bersambung....