Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 98. Demi Kamu .... Lingga


__ADS_3


"Eh, eh, eh, Mas .... awas!!!"


Braakk... Brakkk... Brakkk!!!!


"Adduuuuuhhhhh!!!!"


Banyu memekik kesakitan saat tubuhnya dihantam oleh pengendara sepeda yang melintas di jalan Malioboro. Ia yang fokus dengan sosok wanita yang berjalan ke arah selatan Gedung Agung sampai tidak memperhatikan saat menyebrang jalan. Alhasil ia ditabrak oleh seorang lelaki yang mengendarai sepeda.


"Aduh maaf Mas, saya benar-benar tidak sengaja."


Lelaki pengendara sepeda itu gegas membantu Banyu untuk berdiri. Bahkan ada beberapa orang di sekelilingnya yang juga turut membantu.


Banyu meringis menahan rasa sakit di beberapa titik bagian tubuhnya. Ia sadar bahwa dirinya lah yang bersalah karena tidak memperhatikan jalanan saat menyebrang.


"Tidak apa-apa Mas, saya yang salah. Saya yang seharusnya minta maaf," ujar Banyu dengan sorot mata yang membidik sosok wanita yang ia yakini sebagai Lingga. Ia melihat wanita itu menuju ke arah Jl. KH. Ahmad Dahlan.


"Tapi saya benar-benar tidak enak Mas. Atau saya antar ke rumah sakit dahulu?" tawar si pengendara sepeda yang dipenuhi oleh rasa bersalah.


Banyu menggelengkan kepala. "Tidak perlu Mas, saya tidak apa-apa kok. Serius, saya baik-baik saja."


Banyu terhenyak saat melihat sosok wanita itu berdiri di tepian jalan dan di sana terdapat sebuah mobil yang sepertinya akan mengangkut Lingga dan beberapa temannya itu. Banyu pun berancang-ancang untuk mengejarnya.


"Kalau begitu saya permisi Mas. Saya terburu-buru!"


"Loh Mas ..."


Banyu mengambil langkah kaki lebar untuk bisa mengejar sosok Lingga. Bahkan tidak ia hiraukan rasa nyeri di tubuhnya untuk bisa mengejar wanita itu. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat mobil yang membawa Lingga itu mulai bergerak perlahan.

__ADS_1


"Lingga!!!!"


Banyu berteriak kencang saat melihat mobil itu semakin menjauh. Meski semakin jauh namun laju kendaraan itu pelan. Napas Banyu terengah-engah namun otaknya mencoba untuk mencari cara agar ia bisa mengikuti jejak mobil itu.


"Ayo Banyu berpikir! Cari cara agar kamu bisa mengejar mobil itu!" lirih Banyu. "Masa iya aku harus memesan ojek online? Pastinya akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak akan kekejar waktunya."


Banyu melihat-lihat suasana sekitar. Hanya ada beberapa kendaraan bermotor yang melintas. Tidak mungkin juga jika ia menghentikan salah satu pengendara motor untuk ia mintai tolong. Jika apes bisa dianggap penjahat.


Saat fokus melihat keadaan sekeliling, tanpa sengaja manik matanya tertuju pada sebuah kendaraan khas kota Jogja. Kendaraan beroda tiga yang biasanya dikayuh oleh pengemudinya. Senyum lebar pun mengembang di bibir Banyu. Gegas, ia pun menghampiri tukang becak yang tengah berhenti di sisi jalan ini.


"Pak!!!"


"Oeeeyyyyy!!!"


Bapak tukang becak yang tengah terlelap itu terperanjat saat tiba-tiba dibangunkan oleh suara yang terdengar begitu memekak telinga. Lelaki paruh baya itu kaget setengah mati. Beruntung ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jika punya, dapat dipastikan ia terkena serangan jantung mendadak.


Bapak tukang becak hanya bisa menatap heran wajah Banyu. "Sampeyan iku sopo? Lha ada acara apa kamu harus mengejar mobil itu, cah bagus?"


"Itu calon istri saya diculik Pak. Maka dari itu saya harus cepat-cepat mengejarnya," jawab Banyu asal.


"Apa? Diculik? Kalau diculik ayo Bapak antar ke kantor polisi cah bagus, biar langsung ditangkap penculiknya."


Dasar be*go. Kenapa melibatkan penculik sih Nyu? Kalau lapor polisi kan malah ribet.


"Eh, salah. Maksud saya calon istri saya salah naik mobil Pak. Maka dari itu saya harus cepat-cepat mengejarnya."


"Owalah ... kok bisa salah itu kepiye toh cah bagus? Ceritanya bagaimana?"


Banyu hanya bisa tersenyum gemas. Saat ini keadaan sangat genting, si bapak tukang becak malah mengajaknya ngobrol. "Aduh Pak, nanti saya ceritakan ya Pak. Yang penting saat ini Bapak antar saya dulu untuk mengejar mobil itu!"

__ADS_1


Uhuukkk ... uhukkkk ... uhukkkk...


"Aduhh ... bagaimana ya cah bagus, sebenarnya Bapak ini sudah mau pulang karena capek. Lagipula kesehatan Bapak juga sedang terganggu. Dari tadi batuk-batuk melulu."


Wajah Banyu nampak pias saat kesempatannya untuk bertemu dengan Lingga tertutup rapat. "Lalu saya harus bagaimana Pak? Cuma Bapak yang bisa menolong saya saat ini."


"Bapak sih mau menemani kamu mengejar mobil itu cah bagus. Tapi kamu yang mengayuh becak ini. Bagaimana? Bapak benar-benar capek."


Banyu terhenyak. "Apa? Saya yang mengayuh becaknya?"


"Ya itupun kalau kamu tidak keberatan cah bagus."


Otak Banyu mendadak buntu. Ia seperti tidak menemukan jalan keluar yang bisa mengeluarkannya dari kepelikan ini. Namun pada akhirnya....


"Baiklah Pak, saya yang akan mengayuh becak ini."


Si bapak tukang becak tersenyum simpul. "Kalau begitu .... gasssss!!!!!"


Banyu mulai mengambil posisi duduk di bagian kemudi. Meskipun ini merupakan pengalaman pertamanya mengayuh becak, namun ini semua demi Lingga. Ia tidak ingin kehilangan jejak wanita itu. Sambil mendengar instruksi dari bapak tukang becak, Banyu, pemuda ibu kota itupun mulai mengayuh becaknya.


Ini semua demi kamu, Linggga....


.


.


. bersambung....


Hihi hihi hihihihi ... sesuatu yang istimewa itu pasti akan ada pengorbanan untuk mendapatkannya bukan? Anggap saja ini salah satu pengorbanan yang dilakukan oleh Banyu ya Kak... 🤣🤣🤣🤣 Hayoooo ..... Kira-kira Banyu bisa mengejar Lingga atau tidak?? Hehehehe ikuti terus ceritanya ya kak.. Terima kasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2