Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 92. Pantang Mundur


__ADS_3


"Dek Lingga .... Mas Sapto datang!!!"


Suara seorang laki-laki yang menggema di area halaman kontrakan sukses membuat Lingga dan Ambar saling bertatap netra. Dua sahabat itu sama-sama hening sejenak namun tak selang lama mereka tergelak seketika.


"Ya ampun Ling ... ternyata kangmas Sapto Dwijo Anggoro Adisupeno Ontoseno Kartodimejo masih belum menyerah untuk menjemputmu. Lihatlah, pagi-pagi sekali ia sudah menyambangimu seperti ini."


Ambar tak kuasa menahan tawa kala mendengar suara khas putra pemilik PT Sido Mundur yang sudah memecah keheningan pagi. Ia yang berencana ingin menjemur pakaian di halaman belakang terpaksa ia urungkan niatnya demi untuk menggoda sahabatnya ini.


Lingga yang sedang sibuk membuat minuman yang serjanis, juga hanya bisa tergelak lirih. Ia yang menyangka bahwa Sapto tidak akan datang lagi, pada kenyataannya lelaki itu masih belum mau menyerah.


Lingga menyeruput minuman yang ada di tangannya. Seketika sensasi rasa hangat mengaliri kerongkongannya. "Entahlah Am, aku juga heran mengapa mas Sapto itu masih saja datang kemari. Aku sampai bingung dengan cara apa lagi menolak kedatangan lelaki itu. Sepertinya dia tipe lelaki pantang menyerah yang tidak akan berhenti berjuang sebelum apa yang ia inginkan tercapai."


"Kenapa tidak kamu sambut saja sih Ling?"


Kening Lingga nampak berkerut dalam. "Sambut? Maksudmu aku harus menerima kehadiran mas Sapto, gitu?"


Ambar mengangkat sedikit bahunya. "Ya, bisa dikatakan seperti itu. Lagipula tidak ada yang salah bukan jika kamu menerima mas Sapto? Kamu dan dia sama-sama single, jadi aku rasa sah-sah saja kalau kalian menjalin hubungan. Terlebih lagi dia itu putra tunggal pemilik PT Sido Mundur. Pastinya itu akan mengangkat derajat status sosialmu, Ling."


Mendengar Ambar berujar panjang lebar hanya membuat Lingga geleng-geleng kepala. "Meskipun dia putra dari pejabat aku juga tidak mau menerimanya Am. Hatiku tidak sreg dengannya. Kalau aku sreg, pastinya aku tidak akan pernah menolak niat baiknya mengantarkanku ke pabrik."


"Kenapa bisa begitu Ling? Apakah karena wajah dan penampilan mas Sapto yang jadul itu? Padahal kalau diperhatikan lekat-lekat wajah mas Sapto itu lumayan ganteng loh Ling," tanya Ambar begitu penasaran.

__ADS_1


Lingga menggelengkan kepala. "Bukan, bukan karena itu."


"Lalu?"


Lingga hanya bisa mengedikkan bahu, namun tiba-tiba saja sekelebat bayangan muncul di dalam pikirannya. Bayang wajah seorang laki-laki yang coba untuk ia lupakan namun pada kenyataannya bayang itu masih selalu menggoda dan merayunya untuk selalu ia pikirkan.


"Ling? Lingga!" panggil Ambar sambil menepuk pundak Lingga. Ia keheranan karena sahabatnya ini tiba-tiba saja larut dalam lamunannya.


"Eh...!" Lingga terhenyak. "Sudahlah, kalau begitu aku ke depan dulu Am. Tidak sopan kalau tidak aku temui."


"Ya sudah, aku mau jemur pakaian dulu. Gara-gara Kangmas Sapto nih yang bikin aku lupa sama jemuran."


Lingga berjalan menuju halaman depan untuk menemui Sapto sedangkan Ambar berjalan menuju halaman belakang untuk menjemur pakaian.


"Selamat pagi Dek Lingga...," ucap Sapto menyapa sang bidadari yang keluar dari dalam rumah. Seperti biasa, lelaki itu mengambil sisir kecil dari saku celana yang ia kenakan dan mulai menyisir rambut klimisnya.


"Tanpa perlu basa-basi lagi, mas Sapto datang kemari untuk menjemput dan mengantarkanmu ke pabrik Dek."


"Tapi Mas, bukankah kemarin sudah saya bilang bahwa saya tidak terbiasa naik mobil seperti milik mas Sapto?"


Sapto terkekeh pelan. "Mas Sapto ingat Dek, bahwa kamu memang tidak terbiasa naik mobil kodok. Maka dari itu, demi kenyamanan dek Lingga, mas Sapto sudah menyiapkan kendaraan khusus agar dek Lingga tidak mual ataupun mabuk perjalanan."


Lingga celingak-celinguk, mencoba mencari keberadaan mobil yang biasa dipakai oleh Sapto. Namun sama sekali ia tidak menemukannya.

__ADS_1


"Hayoooo.... kamu mencari-cari mobil yang mas Sapto bawa ya?" ujar Sapto sembari mengeringkan mata.


"Loh, memang mas Sapto kemari naik apa?"


Sapto menggeser tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Lingga, namun sejurus kemudian wanita itu juga turut menggeser tubuhnya.


"Kamu sudah siap untuk mendapatkan kejutan dari Kangmas?"


"Kejutan apa Mas?"


"Sabar ya." Sapto kembali mengedarkan pandangannya ke arah luar halaman dan...


Suiiitttt ..... suiiitttt.... suiiitttt....


Sapto bersiul kencang. Tak lama kemudian muncullah sesuatu yang datang dari arah luar halaman.


"Dek Lingga ... ini kejutan untukmu!!"


Lingga terperanjat setengah mati. "Opo kihhh????"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


Hayooo.... Kira-kira yang datang apa yaa??? 😂😂😂😂 tulis di kolom komentar ya kak😘😘😘


__ADS_2