
Srekkk .... srekkkk.... sreeekkk...
Suara sapu lidi yang beradu dengan hamparan tanah di halaman belakang ini terdengar memecah keheningan. Seperti biasa, di sore hari seperti ini Lingga disibukkan dengan aktivitasnya menyapu dan memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Meski terasa begitu lelah karena dikerjakan sendirian, namun wanita itu terlihat begitu menikmati rutinitasnya.
Deru suara mesin motor yang tiba-tiba berhenti di samping kandang ayam membuat perhatian Lingga sedikit terusik. Ia yang baru saja akan membuang sampah-sampah daun kering ke dalam sebuah bak, seketika ia letakkan gagang sapu itu dan menoleh ke arah sumber suara. Siapa lagi yang datang jika bukan si brondong.
"Hai Sayang, sedang apa kamu?" tanya Banyu sembari turun dari motor kemudian ia ayunkan tungkai kakinya ke arah Lingga.
Pemuda itu lantas mendaratkan bokongnya di atas lincak yang berada di bawah pohon mangga. Angin sore yang berhembus kencang membuat hawa sejuk seketika terasa memeluk tubuh. Di dekat kandang ayam inilah yang menjadi salah satu tempat favorit Banyu ketika bertandang ke rumah Lingga. Karena di sini, udaranya terasa jauh lebih sejuk dibandingkan dengan sudut yang lain.
Jika ia sedang beruntung, buah mangga yang bergelantungan di atas pohon seringkali jatuh dengan sendirinya. Lumayan, jika selama lima jam ia duduk di bawah pohon ini dan buah itu berjatuhan, bisa ia kumpulkan untuk kemudian ia jual ke pasar. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui bukan? Bisa apel ke rumah sang pujaan, pulang-pulang membawa mangga yang bisa ia jual.
"Lagi nyapu. Kenapa? Kamu ingin bantu-bantu?"
Lingga menyeka peluh yang bercucuran di kening sembari ia lanjutkan kembali pekerjaannya. Peluh-peluh yang bercucuran itu layaknya sebuah magnet yang seakan menarik rasa iba yang dimiliki oleh Banyu. Pemuda itu selalu saja lemah dan kalah jika melihat sang pujaan nampak kelelahan seperti ini.
"Pekerjaan apalagi yang belum kamu selesaikan Sayang? Sini biar aku bantu," ujar Banyu menawarkan. Ia paham betul jika pekerjaan rumah wanita ini masih menumpuk, minta untuk segera diselesaikan.
Lingga menautkan pandangannya ke arah Banyu. Rasa-rasanya sudah terlalu sering pemuda ini membantu pekerjaannya, sehingga membuat Lingga sedikit tidak enak hati.
"Sudah, tidak perlu. Kamu itu sudah sering aku repotkan. Jadi aku tidak mau membuat ka..."
"Ssssttt ... sudah Sayang, kamu tinggal bilang saja apa yang bisa aku kerjakan. Aku benar-benar tidak tega melihatmu kelelahan seperti ini."
"Tapi Nyu??"
Lingga terkesiap di kala Banyu mulai mendekatkan wajahnya. Ia hanya bisa terdiam terpaku dan membeku di saat bibir pemuda ini semakin dekat dengan bibirnya. Ia beranggapan bahwa pemuda ini akan menciumnya.
__ADS_1
Deg... Deg... Deg...
Ya Tuhan ... mengapa setiap kali Banyu melakukan hal-hal seperti ini, degup jantungku semakin tidak beraturan. Lututku bahkan terasa lemas sekali dan tubuhku gemeteran seperti ini.
"Kalau kamu masih rewel dan menolak, aku pastikan bibir ini akan mendarat di bibirmu, Sayang. Jadi kamu tinggal memilih. Mau aku bantu untuk menyelesaikan pekerjaanmu atau aku cium bibirmu?"
Lingga terhenyak. Ia mengerjapkan mata, berupaya untuk bangun dari lamunanya. "Baiklah, sekarang bantu aku untuk memberi makan ayam-ayam itu. Kasihan sekali mereka sudah kelaparan."
Banyu tersenyum penuh arti. Ia usap pipi sang pujaan hati ini dengan lembut. "Nah, kalau seperti ini aku merasa keberadaanku kamu butuhkan Sayang. Dan bukankah sudah selayaknya seperti ini? Calon suami istri itu harus saling membantu dan tidak boleh untuk melakukan apapun sendiri."
Banyu masuk ke lahan khusus yang Lingga pergunakan untuk memelihara ayam. Satu bulan lebih mengenal Lingga, hari ini merupakan pengalaman pertamanya memberi makan ayam-ayam peliharaan wanita ini. Hati pemuda itu begitu girang saat melihat berpuluh-puluh ekor ayam mulai berjalan mendekatinya. Hewan-hewan ini seakan paham jika akan diberi makan oleh pemiliknya.
"Ini bagaimana caranya aku memberi makan Sayang?" teriak Banyu yang sedikit kebingungan.
"Ambil ember yang ada di samping pranjen itu Nyu. Lalu kamu campurkan nasi aking, dedak dan juga jagung giling dengan air. Setelah itu kamu sebar makanan itu ke wadahnya. Jangan lupa, untuk induk yang sedang mengerami telurnya juga diberi makan."
Dengan cekatan, Banyu menjalankan perintah dari sang majikan. Ia campur bahan-bahan yang sudah dipersiapkan untuk kemudian bersiap memberi makan ayam-ayam ini. Hati Banyu bertambah girang kala melihat ayam-ayam itu mulai mengerumuni makan yang ia berikan. Mereka nampak saling berebut namun sama sekali tidak saling melukai. Ia bahkan semakin bangga dengan Lingga, wanita itu seakan pandai melakukan pekerjaan apa saja. Buktinya ayam-ayam di kandang miliknya ini nampak begitu terawat, badannya montok, dan bulu-bulunya juga mengkilap. Dan yang pasti banyak sekali.
Pandangan mata Banyu tiba-tiba tertuju pada anak ayam yang nampak berjalan sendirian. Saking banyaknya ayam betina yang berada di kandang milik Lingga ini mungkin membuat anak ayam itu kebingungan mencari induknya. Banyu pun mendekat ke arah anak ayam yang masih piyik itu.
"Aduh kasihan sekali kamu, kamu kebingungan mencari ibumu ya?"
Banyu menangkap anak ayam itu dan mengajaknya berbicara. Ia cekal kuat-kuat sembari ia tatap lekat piyik ini tepat di hadapannya.
Cikkkk... cikk... cikkkk...
Anak ayam itu bersuara seakan merespon perkataan Banyu. Hal itulah yang membuat Banyu semakin gemas.
"Coba beritahu aku yang mana Ibumu, cantik? Biar aku antarkan kamu ke sana!"
__ADS_1
Cikkkk... cikkk... cikkkk... cikkkk....
Suara anak ayam itu terdengar semakin keras seakan meminta Banyu untuk segera melepaskannya. Suara piyik itulah yang membuat insting keibuan dari sang induk ayam yang berada sedikit jauh dari tempat Banyu berdiri, terusik. Induk ayam itu seakan merasa terpanggil dan kemudian menoleh ke arah sumber suara.
Induk ayam itu memasang wajah garang ketika melihat anaknya dipegang oleh Banyu. Kedua sayapnya sudah mulai mengepak dan bulu-bulu ditubuhnya sudah mulai mengembang.
Petokkk... petookkk... petokkkk... petokkk...
Sang induk ayam bersiap untuk menyerang Banyu yang ia anggap sebagai pengganggu anaknya. Sorot mata induk ayam itu sudah dipenuhi oleh amarah. Kakinya pun sesekali mencakar-cakar tanah. Dan....
Petokkk... petokkk... petokkk....
"Aduuduuduhhhhh.... Piye toh ki??"
"Banyu!!!!"
Tubuh Banyu setengah terkapar di tanah setelah di tladhung ayam.😂😂😂
.
.
. bersambung...
*gambaran tempat peliharaan ayam punya Lingga 😂
*Di tladhung \= serangan khas yang dimiliki oleh induk ayam.
__ADS_1